Aceh

Direktur RSUDZA: Tim Medis Sudah Di Garda Belakang Penanganan Covid-19

Direktur RSUDZA, Dr dr Azharuddin, Sp.OT K-Spine FICS

Banda Aceh — Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Dr dr Azharuddin, Sp.OT K-Spine FICS menyampaikan, saat ini, institusi kesehatan dan petugas medis bukan lagi sebagai garda terdepan dalam penanganan pandemi Covid-19.

“Kalau sekarang malah sudah terbalik menjadi garda belakang, kalau pemain bola kita (rumah sakit dan petugas medis) sebagai back penjaga pertahanan. Kalau serangan makin tinggi, makin besar peluang untuk kebobolan tentu akan semakin banyak.

ADVERTISEMENT
Lapor SPT Coretax 2026 Iklan Online

Jadi siapa sekarang garda terdepan, yaitu seluruh lapisan masyarakat. Semua harus berperan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” ucap dr Azharuddin, Minggu (16/8).

ADVERTISEMENT
Iklan Bank Aceh Syariah Menyambut Hari Pers Nasional

Menurutnya, masifnya kasus Covid-19 dalam beberapa waktu terakhir ini karena memang sudah terjadi transmisi lokal di Aceh. Bahkan itu nyata adanya.

Dirinya memberikan contoh adanya transmisi lokal, ada orang tua atau keluarga dirawat dengan Covid-19, saat dilakukan contact tracing oleh petugas kesehatan, khususnya terhadap keluarga terdekat, saat diperiksa hasilnya positif. Disinilah sudah terjadi transmisi lokal.

Untuk itulah, dirinya meminta masyarakat untuk selalu waspada, karena Covid-19 ini sangat gampang sekali menular, khususnya terhadap mereka yang daya tahan tubuhnya kurang, seperti pada orang lanjut usia dan orang yang memiliki riwayat penyakit hypertensi, ginjal, kencing manis, papu – paru dan jantung.

Sekali lagi, dokter Azharuddin mengajak kepada masyarakat untuk ikut serta memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Aceh, dimulai dari diri sendiri dan keluarga dengan mematuhi protokol kesehatan. Protokol kesehatan harus dijadikan sebagai kebutuhan saat beraktifitas di luar rumah.

Disamping itu, maka semua pihak harus punya pemahaman yang sama, jangan lagi setengah hati untuk mematuhi protokol kesehatan, jangan hanya formalitas semata.

Karena masing – masing kita punya tanggungjawab, misalkan di rumah sakit, Masjid Raudhatul Jannah RSUDZA sempat tiga bulan ditutup, tidak ada salat berjamaah karena ada kekhawatiran terjadi penyebaran covid-19.

Namun sekarang apa yang dilakukan? Akhirnya diputuskan dibuka kembali, tapi dengan protokol kesehatan yang ketat, jaga jarak, pakai masker. Yang tidak pakar masker dan tidak mau jaga jarak dipersilahkan pilih tempat lain.

“Memang agak sedikit tegas. Seharusnya di tempat lain maunya juga seperti itu. Oke, misalkan café, silahkan buka, tidak mungkin disuruh tutup karena ekonomi juga harus tetap hidup, tapi harus diperhatikan setting dari mejanya, dari orang yang datang seperti apa. Inikan kepedulian bersama,” sebutnya.

Jadi masing – masing punya pemangku kepentingan, punya pimpinannya. Jadi kalau memang ada sekelompok abai dan yang lain tidak mau ikut protokol kesehatan dengan baik dan benar, maka tentu akan sangat menyusahkan petugas medis dan rumah sakit.

Virus Corona itu memang manusia yang menjadi vektornya menyebarnya, jadi ya harus manusia juga yang harus patuh. Selama dirinya merasa manusia ya harus patuh, kalau ada merasa dirinya kebal tidak akan terpapar virus, pemahaman itu keliru.

“Bahkan sampai ada yang menyebutkan saya tidak takut mati karena Corona, ini kan nyawaku. Kalau ada orang yang dengar seperti itu, bisa menyampaikan seperti ini, sebenarnya kami tidak begitu prihatin kalau hanya nyawamu sendiri yang hilang, tapi dirimu ini bisa membunuh orang lain, membunuh keluargamu di rumah, membunuh orang – orang tua dan yang kondisi tubuhnya lemah,” tegas Azharuddin.

Dirinya juga mengungkapkan, bahwa sekarang gejala Covid-19 sangat tidak khas.

“Saya sebutkan, bahwa Covid-19 punya 1.000 wajah. Jadi tidak harus ada demam, batuk, sakit tenggorokan, itu mungkin sudah jarang ditemukan. Sekarang bisa saja sakit perut, mencret, atau stroke atau nanti ada penyakit – penyakit lain yang orang tidak menduga, ternyata ketika diperiksa positif, kenapa? Karena saat itu kondisinya imunitasnya lemah. Bagi orang lain mungkin tidak kena, tapi bagi sekelompok orang yang imun tubuhnya lemah akan sangat mudah kena covid-19,”

Dr dr Azharuddin, Sp.OT K-Spine FICS

“Saya sebutkan, bahwa Covid-19 punya 1.000 wajah. Jadi tidak harus ada demam, batuk, sakit tenggorokan, itu mungkin sudah jarang ditemukan. Sekarang bisa saja sakit perut, mencret, atau stroke atau nanti ada penyakit – penyakit lain yang orang tidak menduga, ternyata ketika diperiksa positif, kenapa? Karena saat itu kondisinya imunitasnya lemah. Bagi orang lain mungkin tidak kena, tapi bagi sekelompok orang yang imun tubuhnya lemah akan sangat mudah kena covid-19,” jelasnya.

Lalu ada yang bilang tidak kemana – mana kok bisa kena Covid-19. Padahal anak yang bersangkutan, menantu, atau muridnya, atau tamunya itulah yang membawa atau orang tanpa gejala (OTG).

“Maka itulah, perlu pemahaman dan menyadari dan yang paling penting ada kepatuhan. Kalau semua patuh, maka akan semakin cepat mata rantai dapat diputuskan, tapi banyak tidak patuh maka akan semakin susah. (IA)

Artikel Terkait