5 Polisi dan 3 Mahasiswa Terluka Saat Demo di DPRA

Banda Aceh — Aksi demo menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UIN Ar-Raniry Banda Aceh sempat ricuh dan anarkis, pada Rabu (7/9).
Awalnya aksi berjalan damai, sejumlah mahasiswa menyampaikan aspirasi penolakan kenaikan harga BBM di depan gedung DPRA.
Namun mahasiswa berseragam almamater biru itu memaksa masuk dengan cara mendorong pintu pagar DPRA yang dijaga ketat oleh aparat keamanan. Massa semakin beringas sehingga pintu pagar DPRA pun rusak.
Massa yang diperkirakan seribu orang tersebut menolak kalau yang diizinkan masuk hanya perwakilan dari mereka untuk bertemu DPRA.
Mahasiswa melemparkan batu ke arah gedung dewan dengan sasaran aparat keamanan, sehingga sejumlah polisi dari Polresta Banda Aceh mengalami luka dan berdarah.
Eskalasi meningkat dan terjadi aksi saling dorong dengan petugas, pengerusakan pagar, pelemparan batu, hingga membakar papan bunga yang terpasang di jalan.
Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Winardy mengatakan, sebelum terlibat aksi saling dorong, pihaknya sudah memberikan imbauan agar pendemo menyampaikan aspirasinya dengan tertib.
Namun, imbauan tersebut tidak digurbis dan mulai bertindak anarkis. Kemudian, atas nama Undang-undang petugas terpaksa membubarkan massa dengan menembakkan gas air mata dan water cannon.
Dalam upaya penindakan kepolisian tersebut, kata Winardy, tiga orang mahasiswa dan lima anggota Polri yang sedang melakukan pengamanan terluka, serta harus mendapat penanganan medis.
“Ada delapan orang yang terluka, lima polisi dan tiga orang mahasiswa. Mereka sudah dapatkan perawatan,” kata Winardy, dalam keterangannya di Polda Aceh, Rabu malam, 7 September 2022.
Selain itu, sambungnya, mobil dinas Kabag Ops dan Kasat Samapta Polresta Banda Aceh juga mengalami kerusakan.
Setelah dibubarkan, mahasiswa pendemo sempat bertahan di ruas Jalan Tgk Mohd Daud Beureu’eh, dan pukul 17.00 WIB baru benar-benar membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing.
“Mahasiswa sudah membubarkan diri pada pukul 17.00 WIB. Namun, kita tetap tempatkan personel untuk pengamanan di Gedung DPRA untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan,” ujar Winardy.
Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Joko Krisdiyanto mengatakan, aksi yang dilakukan oleh mahasiswa UIN itu awalnya damai.
“Kami telah memberikan izin untuk 10 orang saja sebagai perwakilan untuk masuk ke dalam gedung, namun mahasiswa tak menerima arahan tersebut, sehingga melakukan serangkaian aksi kericuhan yang menyebabkan robohnya pintu pagar DPRA,” ucap Kombes Pol Joko Krisdiyanto.
Saat massa sudah mulai beringas, dengan melemparkan batu ke arah polisi dan Satpol PP-WH, lalu petugas menyemprotkan air melalui armada water cannon ke arah para pendemo. Massa pun kembali mengamuk serangkaian lemparan batu besar yang telah disiapkannya diarahkan ke petugas.
Polisi pun mencoba membubarkan massa dengan cara melepaskan gas air mata.
“Pada waktu itu, massa melempar terus dengan batu yang telah disiapkan di saku baju almamater UIN Ar-Raniry. Polisi berbaju preman pun melakukan pengejaran terhadap para mahasiswa. Namun sangat disayangkan, sejumlah papan bunga di pingir jalan dibaka oleh mereka. Mereka pun merusak mobil dinas Polresta Banda Aceh dan Satbrimobda Polda Aceh,” tambah Kapolresta.
Dari aksi tersebut, diketahui lima aparat kepolisian mengalami luka – luka di bagian wajah, kaki dan tangan hingga berdarah akibat terkena lemparan batu oleh massa yang melakukan aksi, sehingga perlu dilakukan perawatan oleh tim medis.
Kemudian, para massa dari UIN Ar Raniry Banda Aceh turut membakar enam papan bunga dan merusak 28 papan bunga lainnya milik forum Florist.
“Selain merusak fasilitas negara dan fasilitas umum mereka juga merusak dan membakar barang milik orang lain dalam aksi tersebut,” pungkas Kapolresta. (IA)