Pidie, Infoaceh.net — Tiga kecamatan pedalaman di Kabupaten Pidie yakni Geumpang, Mane dan Tangse kini menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin parah.
Meskipun wilayah ini tidak dilanda banjir secara langsung, efek dari banjir di daerah lain telah memutus segala pasokan, menyebabkan krisis ganda yang mengancam kehidupan masyarakat.
Krisis BBM telah mencapai titik nadir: sudah dua hari penuh tidak ada setetes pun bahan bakar yang tersedia. Pertashop tutup total, SPBU kosong melompong, dan kios pengecer tak berdaya.
Harga Pertamax sempat mencapai Rp20.000 per liter, tetapi itu hanya angka kosong, karena tidak ada lagi yang menjualnya.
Tragisnya, krisis BBM ini datang bersamaan dengan menipisnya stok sembako. Harga-harga melambung tak terkendali, sementara barang-barang kebutuhan pokok semakin sulit didapatkan.
Beberapa jenis sembako bahkan hilang dari pasaran, membuat warga semakin panik dan putus asa.
Kehidupan masyarakat lumpuh total. Kendaraan terparkir tak berdaya, para pekerja tidak bisa bepergian, pedagang tidak dapat mendistribusikan barang, dan layanan vital seperti ambulans terancam berhenti beroperasi.
Rantai pasokan terputus akibat banjir di wilayah sekitar, membuat Geumpang–Mane seolah terisolasi dari dunia luar.
“Kami benar-benar tak bisa bergerak! BBM tidak ada, sembako mulai hilang, harga-harga menggila! Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Pertashop kosong, SPBU gelap, pasar sepi, harga melambung tapi barang tak ada! Kami butuh pemerintah hadir SEKARANG, bukan besok, bukan nanti, tapi SEKARANG!” teriak seorang ibu rumah tangga di Mane, mewakili suara putus asa seluruh warga Geumpang.
Pertanyaan pun membara di benak setiap warga: bagaimana kami bisa bertahan hidup? Apakah penderitaan ini tidak ada akhirnya? Di mana negara saat rakyatnya menjerit?
Tokoh masyarakat dan pemerhati kebijakan publik di Pidie, Drs M. Isa Alima, menyatakan situasi ini sudah menjadi darurat kemanusiaan yang membutuhkan tindakan cepat dan terkoordinasi.
“Geumpang–Mane dan Tangse tidak hanya terisolir secara geografis, tetapi juga terisolir akibat dampak banjir di wilayah lain yang memutus akses pasokan. Ini adalah krisis ganda yang mengancam nyawa dan kehidupan ratusan ribu manusia. Pemerintah pusat dan daerah harus segera mengirimkan bantuan darurat: BBM, sembako, obat-obatan, dan air bersih. Jangan biarkan rakyat kami menderita dan kehilangan harapan di tengah kekayaan alam Aceh! Ini bukan lagi soal imbauan atau koordinasi, ini soal nyawa manusia!” tegas Drs. Isa Alima, mantan anggota DPRK Pidie dua periode ini, Ahad (30/11/2025).
Warga tidak lagi meminta, mereka menuntut: Pemerintah harus segera bertindak! Kirim bantuan darurat sekarang juga jangan biarkan kami menderita!
Sambil menunggu uluran tangan pemerintah, masyarakat Geumpang–Mane dan Tangse terus berjuang untuk bertahan hidup. Mereka saling membantu, berbagi makanan, dan mencari cara untuk mendapatkan informasi. Namun, tanpa bantuan dari luar, harapan mereka semakin menipis.
Di tengah kegelapan dan keputusasaan, satu harapan masih membara: Pemerintah akan datang sebelum semuanya terlambat.
Pemerintah akan bertindak, sebelum Geumpang–Mane dan Tangse menjadi kota mati.



