Buruknya Layanan Telkomsel Aceh, Listrik Padam Sinyal Langsung Hilang

Buruknya layanan Telkomsel yang sering hilang sinyal saat listrik padam menjadi sorotan masyarakat Aceh di tengah bencana besar banjir bandang dan longsor yang melanda 18 kabupaten/kota sejak awal November lalu. (Foto: Ilustrasi)
Banda Aceh, Infoaceh.net — Buruknya layanan telekomunikasi kembali menjadi sorotan masyarakat Aceh di tengah bencana besar banjir bandang dan tanah longsor yang melanda 18 kabupaten/kota sejak awal November lalu.
Saat ratusan ribu warga berjuang bertahan di tengah kondisi darurat, sinyal telekomunikasi—khususnya Telkomsel—menjadi salah satu masalah paling dikeluhkan saat ini.
Pasalnya, setiap kali listrik padam, sinyal Telkomsel di banyak wilayah Aceh langsung menghilang, menyebabkan warga kesulitan berkomunikasi, mengakses informasi darurat, hingga menghubungi pihak keluarga yang terpisah akibat bencana.
Keluhan ini semakin menumpuk ketika masyarakat tetap menerima tagihan bulanan meski layanan tak bisa digunakan berhari-hari.
Sejumlah warga di Kota Banda Aceh Besar, Sabang, Pidie, Aceh Barat Daya, Aceh Timur, Aceh Tenggara, Subulussalam, dan Aceh Tamiang melaporkan bahwa setiap kali listrik padam—yang kini terjadi hampir setiap hari—tower Telkomsel turut mati tanpa cadangan daya yang memadai.
“Ketika listrik mati, sinyal Telkomsel langsung hilang total. Kami sedang butuh komunikasi darurat pasca banjir parah. Tapi HP cuma jadi pajangan,” keluh Syahrul, warga Banda Aceh.
Banyak warga menilai kondisi ini ironis karena Aceh sedang berada dalam status tanggap darurat bencana, namun jaringan telekomunikasi yang seharusnya menjadi tulang punggung komunikasi bencana justru lumpuh.
Di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, sejumlah desa terisolasi akibat longsor yang memutus akses jalan. Warga di daerah tersebut mengaku kesulitan menghubungi keluarga dan tim penyelamat karena sinyal hilang setiap listrik padam.
“Saat butuh informasi cepat sinyal justru mati total. Kami hanya bisa menunggu listrik hidup kembali, itu pun listriknya nyala sebentar setelah tiga hari padsm,” ujar Arifin, warga Aceh Besar.
Sejumlah relawan di lokasi bencana juga merasa terhambat dalam mengirim update kondisi lapangan ke posko provinsi karena sinyal yang naik-turun dan sering mati.
Tower Tanpa Genset, Backup Baterai Lemah
Fakta di lapangan menunjukkan banyak site Telkomsel di Aceh tidak dilengkapi genset dan hanya mengandalkan baterai cadangan yang maksimal bertahan 2–3 jam. Ketika listrik padam lebih lama—seperti yang terjadi dalam beberapa hari terakhir—tower otomatis mati dan sinyal menghilang.
Padahal Aceh termasuk daerah rawan bencana dan kerap mengalami pemadaman listrik massal. Kondisi ini membuat banyak warga mempertanyakan kesiapan operator telekomunikasi menghadapi kondisi ekstrem.
“Telkomsel perusahaan besar, tapi tower-tower di Banda Aceh kami seperti tak siap menghadapi bencana. Harusnya ada genset atau baterai kuat, bukan begini,” ujar warga lainnya dikitip dari media sosial.
Ironi: Layanan Tidak Bisa Dipakai, Tagihan Tetap Jalan
Di tengah jaringan yang lumpuh berkepanjangan, masyarakat pelanggan pascabayar mengeluhkan tetap menerima tagihan bulanan secara penuh.
“Hari ini tagihan Telkomsel masuk seperti biasa, padahal seharian tak ada sinyal. Ini tidak adil,” ungkap Mukhlis, warga Aceh Besar.
Beberapa pelanggan menilai seharusnya ada kebijakan keringanan atau kompensasi bagi wilayah yang terdampak bencana besar dan mengalami blackout sinyal berkepanjangan.
“Tagihan tetap dipaksa bayar, tapi layanan tak bisa dinikmati. Kami sedang tertimpa musibah, bukan mau cari murah. Setidaknya ada empati dan kebijakan khusus untuk Aceh,” ujarnya.
Di tengah banjir bandang, tanah longsor, ratusan ribu warga mengungsi, ratusan ribu rumah rusak, serta korban jiwa yang terus bertambah, komunikasi adalah hal paling penting untuk: koordinasi evakuasi, distribusi bantuan, laporan situasi lapangan ke posko dan kebutuhan warga menghubungi keluarga.
Namun lemahnya jaringan membuat proses penanganan bencana terhambat.
Warga mendesak pemerintah daerah dan pusat untuk menegur operator telekomunikasi agar memperkuat jaringan, khususnya saat kondisi Aceh sedang dilanda bencana besar yang belum pernah terjadi dalam dua dekade terakhir.
Banyak masyarakat menyerukan agar Telkomsel: memperkuat cadangan daya di tower, terutama di daerah rawan bencana.
Mengirim genset mobile (mobile generator) ke titik kritis, Mlmemberikan kompensasi atau diskon tagihan untuk wilayah terdampak bencana serta membuka posko layanan keluhan khusus di Aceh.
Warga berharap operator Telkomsel tidak sekadar beroperasi sebagai penyedia jasa yang mengeruk keuntungan di tengah bencana, tetapi hadir sebagai bagian dari solusi di saat Aceh berada dalam situasi darurat.
Buruknya layanan telekomunikasi di Aceh selama bencana banjir dan longsor telah menambah kesulitan masyarakat yang sudah kehilangan rumah, harta benda, dan akses dasar. Di tengah situasi ini, komunikasi adalah kebutuhan vital yang seharusnya bisa diandalkan.
Masyarakat berharap Telkomsel dan seluruh operator bergerak lebih cepat, lebih tanggap, dan menunjukkan empati nyata bagi Aceh, bukan hanya pada saat jaringan stabil—tetapi terutama di saat rakyat sangat membutuhkan.