Lumpur, Air Mata dan Pengabdian Terakhir Kepala SDN 1 Tualang Cut  

Aceh Tamiang, Infoaceh.net — Lumpur banjir yang masih menempel di lantai dan dinding SDN 1 Tualang Cut, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, bukan sekadar sisa bencana banjir bandang.

Ia menjadi saksi bisu perjuangan para guru yang bertahan di tengah kelelahan, kesedihan, dan kehilangan, demi satu harapan: agar anak-anak bisa kembali bersekolah pada Senin, 5 Januari 2026.

Di balik ruang-ruang kelas yang lembap dan berlumur lumpur, Wakil Kepala Sekolah SDN 1 Tualang Cut, Ervita Handayani, bersama para guru dan staf bekerja tanpa banyak bicara.

Dengan peralatan seadanya, tangan-tangan mereka membersihkan lumpur yang mengeras, satu ruangan demi ruangan. Letih tak terelakkan, namun tekad mereka tak goyah.

Perjuangan ini sejatinya adalah perjuangan bersama Kepala Sekolah SDN 1 Tualang Cut yang sangat mereka cintai. Sejak awal, beliau menyimpan harapan besar agar sekolah segera pulih.

Meski dalam kondisi sakit, kabar datangnya bantuan disambut dengan senyum dan rasa syukur.

“Waktu itu saya sampaikan bahwa Polres Langsa dan Polsek Tualang Cut akan membantu,” kenang Ervita dengan suara lirih.

“Beliau sangat senang… walaupun saat itu sedang sakit.”

Bantuan dari Polri menjadi titik terang di tengah keterbatasan. Personel Polres Langsa, Polsek Tualang Cut, serta satu pleton Brimob datang dalam jumlah besar.

Mereka bahu-membahu mengangkat lumpur dari ruang kelas, perpustakaan, hingga akses masuk sekolah.

Meja, kursi, dan buku-buku yang basah dipindahkan ke halaman. Semua dikerjakan dengan kepedulian, seolah sekolah itu adalah milik mereka sendiri.

Di tengah proses pembersihan, sebuah pemandangan menggetarkan hati para guru. Sang Kepala Sekolah, meski kondisi kesehatannya menurun, memaksakan diri hadir.

Dengan langkah pelan dan tubuh yang lemah, beliau ikut turun membersihkan lumpur bersama guru dan personel Polri.

Tak banyak kata terucap, namun keteladanan dan kecintaannya pada sekolah terpancar jelas.
Itulah hari-hari terakhir pengabdiannya.

Tak lama berselang, sebelum sekolah benar-benar pulih, Kepala Sekolah SDN 1 Tualang Cut berpulang ke rahmatullah.

Ia pergi tanpa sempat menyaksikan ruang-ruang kelas kembali bersih dan siap menyambut tawa anak-anak didiknya.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi seluruh keluarga besar sekolah.

Meski diliputi kesedihan, perjuangan tak boleh berhenti. Berkat bantuan Polri dan kegigihan para guru, seluruh ruangan akhirnya berhasil dibersihkan.

Meski tanpa kelengkapan meubelair, semangat untuk menyambut siswa tetap menyala.
“Alhamdulillah, semua ruangan sudah bersih,” ujar Ervita dengan mata berkaca-kaca.

“Walaupun nanti anak-anak mungkin harus lesehan, insya Allah kami siap.”

Ia menegaskan, di hari-hari awal masuk sekolah, fokus utama bukanlah pelajaran akademik, melainkan pemulihan mental dan emosional anak-anak yang juga terdampak bencana.

“Mengajak mereka bermain, tertawa, menghilangkan trauma. Walaupun hanya dua atau tiga jam, itu sudah sangat berarti,” tuturnya.

Puncak emosi tak terbendung ketika Ervita menyampaikan ucapan terima kasih. Suaranya bergetar, air mata jatuh satu per satu.

“Maaf… Kepala sekolah kami tidak sempat mengucapkan terima kasih secara langsung,” ucapnya lirih.

“Saya mewakili beliau yang telah meninggal dunia dan seluruh guru SDN 1 Tualang Cut mengucapkan terima kasih kepada Mabes Polri dan seluruh jajaran Polri yang telah membantu kami.”

Tangis pun pecah. “Terima kasih karena telah menolong kami di saat paling sulit. Terima kasih karena sudah peduli pada sekolah kami dan anak-anak kami. Teruslah berbuat baik untuk masyarakat.”

Perjuangan SDN 1 Tualang Cut bukan sekadar membersihkan lumpur. Ini adalah kisah tentang cinta pada pendidikan, pengabdian yang tak sempat selesai, dan harapan yang tetap hidup meski air mata terus mengalir.

Sebuah perjuangan yang kini dilanjutkan dengan doa, kenangan, dan semangat dari sosok kepala sekolah yang telah berpulang, demi masa depan anak-anak yang menanti di balik pintu sekolah.