Harga Barang Melambung Usai Bencana, Aceh Catat Inflasi Tertinggi di Indonesia  

Plt. Kepala BPS Aceh Tasdik Ilhamuddin. (Foto: Ist)

Banda Aceh, Infoaceh.net — Dampak bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November 2025 mulai terasa serius pada sektor ekonomi.

Harga berbagai kebutuhan pokok kini melambung tinggi, mendorong Aceh mencatatkan inflasi tertinggi secara nasional pada Desember 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh melaporkan, pada Desember 2025 Aceh mengalami inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 3,60 persen dan inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 6,71 persen.

Plt. Kepala BPS Aceh Tasdik Ilhamuddin menyampaikan, inflasi tersebut dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas utama, khususnya bahan pangan.

“Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan di Aceh antara lain beras, emas perhiasan, cabai merah, ikan tongkol, dan ikan dencis,” kata Tasdik dalam rilis resmi BPS Aceh, yang disampaikan di Banda Aceh, Senin (5/1/2026).

Seluruh Daerah Inflasi, Aceh Tengah Tertinggi

Secara y-on-y, seluruh wilayah penghitungan inflasi di Aceh mengalami kenaikan harga. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 8,90 persen, sementara inflasi terendah tercatat di Meulaboh dan Lhokseumawe masing-masing sebesar 5,56 persen.

Untuk inflasi bulanan (m-to-m), seluruh wilayah penghitungan juga mengalami inflasi. Kabupaten Aceh Tengah kembali mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,95 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Lhokseumawe sebesar 2,39 persen.

Tasdik menjelaskan, inflasi y-on-y terjadi akibat kenaikan indeks hampir seluruh kelompok pengeluaran, dengan lonjakan paling signifikan terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 12,47 persen.

Selain itu, kenaikan juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 16,02 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 4,03 persen, kelompok kesehatan sebesar 3,92 persen, serta kelompok transportasi sebesar 2,28 persen. Sementara kelompok pendidikan menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi sebesar 0,16 persen.

Bahan Pangan Jadi Penyumbang Utama

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar di Aceh dengan andil y-on-y sebesar 4,62 persen.

Inflasi tertinggi di kelompok ini terjadi pada subkelompok makanan sebesar 14,31 persen.

Komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi tahunan di antaranya beras (1,06 persen), cabai merah (0,38 persen), ikan tongkol (0,35 persen), ikan dencis (0,31 persen), telur ayam ras (0,30 persen), minyak goreng (0,26 persen), serta sigaret kretek mesin (0,25 persen).

Sementara untuk inflasi bulanan (m-to-m), kelompok ini memberikan andil sebesar 2,86 persen, dengan beras kembali menjadi penyumbang terbesar sebesar 0,80 persen, diikuti minyak goreng, telur ayam ras, bawang merah, daging ayam ras, dan berbagai jenis ikan.

Aceh Inflasi Tertinggi Nasional

Secara nasional, seluruh 38 provinsi di Indonesia mengalami inflasi m-to-m pada Desember 2025. Tidak satu pun wilayah mencatat deflasi.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menyatakan, Aceh menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi nasional sebesar 3,60 persen, jauh di atas provinsi lain.

“Jika dilihat dari sebaran inflasi bulanan, seluruh provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Aceh sebesar 3,60 persen, sementara inflasi terendah terjadi di Maluku Utara sebesar 0,05 persen,” ujar Pudji dalam Konferensi Pers BPS, Senin (5/1/2026).

Pudji menjelaskan, tingginya inflasi di Aceh tidak terlepas dari bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sumatera pada akhir 2025.

Ia memaparkan sepanjang Januari hingga Mei 2025, sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi curah hujan menengah hingga tinggi, menandai mundurnya awal musim kemarau.

“Kondisi ini berdampak pada produksi tanaman pangan dan hortikultura, karena waktu tanam, panen, serta risiko gangguan cuaca sangat dipengaruhi dinamika curah hujan,” jelasnya.

Cuaca ekstrem di Aceh dan Sumatera, lanjut Pudji, dipicu oleh bibit Siklon Tropis 95B yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar, serta pengaruh Siklon Tropis Koto.

“Kedua sistem tersebut meningkatkan curah hujan sangat lebat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang kemudian memicu bencana hidrometeorologi dan mengganggu distribusi serta pasokan pangan,” katanya.

Tekanan Ekonomi Pascabencana

Lonjakan inflasi ini menambah tekanan ekonomi masyarakat Aceh yang sebelumnya telah terdampak banjir bandang dan longsor. Kenaikan harga bahan pangan dan kebutuhan pokok berpotensi menekan daya beli rumah tangga, terutama kelompok rentan.

BPS berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat mengambil langkah pengendalian harga dan memastikan kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok, terutama di wilayah terdampak bencana, agar tekanan inflasi tidak berlarut-larut.