Bireuen, Infoaceh.net — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan pembangunan jembatan permanen untuk menggantikan Jembatan Krueng Tingkeum yang putus diterjang banjir bandang di Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Aceh, akan dimulai pada bulan Januari 2026.
Pembangunan jembatan tersebut menjadi bagian dari upaya percepatan pemulihan konektivitas dan kelancaran mobilitas ekonomi pascabencana banjir bandang dan longsor, khususnya di jalur nasional Banda Aceh–Medan yang selama ini menjadi urat nadi transportasi dan distribusi logistik.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh, Mawardi, mengatakan pembangunan Jembatan Krueng Tingkeum masuk dalam program prioritas pemerintah pusat untuk pemulihan infrastruktur strategis di Aceh.
“Ada dua program prioritas terkait konektivitas pascabencana saat ini, yaitu perencanaan pembangunan permanen Jembatan Teupin Mane dan Jembatan Krueng Tingkeum,” ujar Mawardi, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan, Jembatan Krueng Tingkeum yang berada di ruas Jalan Nasional Banda Aceh–Medan KM 234 akan dibangun melalui program reguler Kementerian PU dengan pendanaan sepenuhnya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Mawardi, pemasangan struktur permanen jembatan ditargetkan mulai dilaksanakan pada 20 Januari 2026.
Namun, jadwal tersebut masih bersifat tentatif karena menunggu hasil akhir analisis dan kajian teknis yang saat ini tengah dilakukan oleh tim di lapangan.
“Pemasangan struktur permanen jembatan direncanakan dimulai pada 20 Januari 2026. Namun, jadwal ini masih menunggu hasil analisis dan kajian mendalam yang sedang dilakukan,” jelasnya.
Saat ini, tim teknis dari Kementerian PU masih melakukan observasi menyeluruh terhadap karakteristik jembatan rangka baja jenis steel box bridge yang akan digunakan.
Observasi tersebut bertujuan memastikan struktur jembatan memiliki tingkat efisiensi tinggi, mampu bertahan terhadap cuaca ekstrem, serta aman menopang beban lalu lintas maksimal.
“Mengingat Krueng Tingkeum merupakan jalur vital nasional, percepatan pembangunan menjadi fokus utama agar arus transportasi Banda Aceh–Medan dapat kembali normal dan aktivitas ekonomi masyarakat segera pulih,” pungkas Mawardi.



