– Pelanggan Dipaksa Bayar Tagihan Penuh Meski Layanan Lumpuh Hampir Satu Bulan
Banda Aceh, Infoaceh.net — Di tengah kondisi penderitaan rakyat Aceh yang dilanda bencana banjir bandang dan tanah longsor sejak akhir November 2025, layanan telekomunikasi justru menuai sorotan tajam.
Operator seluler terbesar di Indonesia, Telkomsel, dinilai tetap meraup keuntungan meskipun layanan jaringannya di berbagai wilayah Aceh lumpuh hampir satu bulan penuh.
Sejak bencana besar menerjang Aceh pada 26 November 2025, pemadaman listrik terjadi hampir di seluruh kabupaten/kota terdampak. Dampaknya, jaringan telekomunikasi—khususnya Telkomsel—ikut terhenti karena banyak tower tidak dilengkapi genset.
Akibat kondisi tersebut, sinyal Telkomsel di banyak wilayah Aceh menghilang total selama berjam-jam hingga beberapa pekan setiap kali listrik padam.
Bahkan, di sejumlah daerah, jaringan tidak dapat digunakan sepanjang siang dan malam
Ironisnya, meskipun layanan tidak dapat dinikmati, pelanggan Telkomsel—khususnya pengguna pascabayar—tetap diwajibkan membayar tagihan secara penuh untuk bulan November dan Desember 2025.
Jaringan Mati, Tagihan Tetap Jalan
Salah satu keluhan datang dari Syakya Meirizal, pelanggan Telkomsel di Kota Banda Aceh. Ia mengaku hanya bisa menggunakan layanan telekomunikasi selama setengah bulan, namun tetap menerima tagihan penuh.
“Nasib kami pelanggan Telkomsel di Aceh. Pakai jasa layanan setengah bulan, bayar tagihan tetap sebulan penuh,” ujarnya dengan nada kecewa.
Keluhan serupa disampaikan banyak pelanggan lainnya di berbagai wilayah Aceh. Mereka menilai kebijakan penagihan penuh di tengah kondisi darurat bencana mencerminkan minimnya empati terhadap masyarakat terdampak.
“Tidak ada pengurangan tagihan, tidak ada kompensasi, padahal jaringan tidak bisa dipakai sama sekali. Ini terasa seperti dipaksa membayar layanan yang tidak kami nikmati,” kata seorang pelanggan di Aceh Besar, Jum’at (9/1/2026).
Buruknya Layanan Telekomunikasi di Tengah Darurat Bencana
Buruknya layanan telekomunikasi menjadi salah satu keluhan terbesar masyarakat Aceh selama bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sedikitnya 18 kabupaten/kota.
Saat ratusan ribu warga berjuang bertahan di tengah kondisi darurat—mengungsi, kehilangan rumah, serta terpisah dari anggota keluarga—akses komunikasi menjadi kebutuhan vital. Namun, justru pada saat paling krusial, jaringan Telkomsel kerap menghilang.
Warga di Banda Aceh, Aceh Besar, Sabang, Pidie, Aceh Barat Daya, Aceh Timur, Aceh Tenggara, Subulussalam, Aceh Tamiang, hingga Aceh Tengah dan Bener Meriah, melaporkan kondisi serupa: setiap listrik padam, sinyal Telkomsel ikut mati total.
“Ketika listrik mati, sinyal Telkomsel langsung hilang. Kami sedang butuh komunikasi darurat pascabanjir, tapi HP cuma jadi pajangan,” keluh Syahrul, warga Banda Aceh beberapa waktu lalu.
Di wilayah Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, sejumlah desa bahkan sempat terisolasi akibat longsor yang memutus akses jalan.
Fakta di lapangan menunjukkan banyak site Telkomsel di Aceh tidak dilengkapi genset permanen. Sebagian besar tower hanya mengandalkan baterai cadangan yang maksimal bertahan dua hingga tiga jam.
Ketika pemadaman listrik berlangsung lebih lama—seperti yang terjadi hampir setiap hari selama bencana—tower otomatis mati dan sinyal menghilang.
Padahal, Aceh merupakan daerah rawan bencana dan kerap mengalami pemadaman listrik massal akibat cuaca ekstrem.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai kesiapan operator telekomunikasi dalam menghadapi situasi darurat.
“Telkomsel perusahaan besar, tapi tower-tower di Aceh seperti tidak siap menghadapi bencana. Harusnya ada genset atau sistem cadangan daya yang kuat,” tulis seorang warga dalam unggahan media sosial yang ramai dibagikan.
Ironi di Tengah Musibah
Di tengah jaringan yang lumpuh berkepanjangan, masyarakat justru tetap menerima tagihan bulanan tanpa pengurangan.
“Hari ini tagihan Telkomsel masuk seperti biasa, padahal seharian tidak ada sinyal. Ini tidak adil,” ungkap Mukhlis, warga Aceh Besar.
Banyak pelanggan menilai seharusnya ada kebijakan khusus berupa keringanan, diskon, atau kompensasi bagi wilayah terdampak bencana besar.
“Kami tidak sedang mencari murah. Kami sedang tertimpa musibah. Setidaknya ada empati dan kebijakan khusus untuk Aceh,” ujar seorang pelanggan lainnya.
Di tengah banjir bandang dan tanah longsor yang menyebabkan ratusan ribu warga mengungsi, ribuan rumah rusak, dan korban jiwa, komunikasi menjadi faktor krusial untuk: koordinasi evakuasi, distribusi bantuan,
laporan kondisi lapangan ke posko, serta menghubungkan keluarga yang terpisah.
Namun lemahnya jaringan telekomunikasi justru memperparah situasi dan menghambat penanganan bencana.



