Aceh Utara, Infoaceh.net — Bencana banjir bandang yang melanda wilayah di Kabupaten Aceh Utara menyebabkan kerusakan serius pada sektor pangan dan mata pencaharian masyarakat.
Sedikitnya 22.613 hektare lahan produktif, terdiri dari tambak dan sawah milik warga, dilaporkan rusak akibat terendam air dan material lumpur.
Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil, yang akrab disapa Ayahwa sudah menyampaikan langsung kondisi tersebut saat mendampingi kunjungan kerja Menteri Kabinet Merah Putih (KMP) ke lokasi terdampak banjir di Gampong Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Jum’at (9/1/2026).
Dalam kunjungan itu, Ayahwa mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Menteri Perdagangan Budi Santoso. Kehadiran para menteri dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk melaporkan secara langsung besarnya dampak kerusakan dan kerugian yang dialami masyarakat, khususnya pada sektor pertanian dan perikanan.
Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Muntasir Ramli, menjelaskan bahwa Ayahwa memaparkan data rinci mengenai lahan produktif yang terdampak banjir.
Berdasarkan pendataan sementara, tercatat 10.684 hektare tambak dan 11.929 hektare sawah mengalami kerusakan akibat terendam banjir serta tertutup lumpur dan material bawaan arus deras.
“Kerusakan ini berdampak langsung terhadap sumber penghidupan ribuan kepala keluarga di Aceh Utara. Tambak dan sawah merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir dan pedesaan,” ujar Muntasir, dalam keterangannya, Sabtu (10/1).
Dalam kesempatan tersebut, Ayahwa berharap pemerintah pusat melalui Menko Pangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Perdagangan dapat segera mengambil langkah konkret dan terkoordinasi untuk pemulihan sektor pangan.
Ia menekankan pentingnya intervensi kebijakan yang cepat dan tepat, terutama dalam bentuk revitalisasi tambak dan perbaikan lahan sawah agar masyarakat dapat kembali berproduksi.
“Bupati meminta agar bantuan tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga menyentuh pemulihan jangka menengah dan panjang, sehingga ekonomi warga terdampak bisa pulih secara berkelanjutan,” tambah Muntasir.
Selain meninjau lokasi terdampak dan berdialog dengan warga, kunjungan kerja tersebut juga diwarnai dengan penyerahan bantuan tunai sebesar Rp100 juta bagi nelayan terdampak di Desa Lancok.
Bantuan ini diharapkan menjadi stimulus awal untuk mempercepat proses pemulihan pascabencana, khususnya bagi nelayan yang kehilangan alat produksi dan pendapatan akibat banjir.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara optimistis sinergi lintas kementerian ini dapat membantu menstabilkan pasokan pangan daerah serta mempercepat perbaikan infrastruktur pertanian dan perikanan, yang selama ini menjadi sumber utama pendapatan masyarakat setempat.



