INFOACEH.netINFOACEH.netINFOACEH.net
  • Beranda
  • Aceh
  • Nasional
  • Dunia
  • Umum
  • Ulama Aceh
  • Syariah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Opini
  • Olahraga
  • Hukum
  • Gaya Hidup
Cari Berita
© 2026 PT. INFO ACEH NET. All Rights Reserved.
Font ResizerAa
Font ResizerAa
INFOACEH.netINFOACEH.net
Cari Berita
  • Beranda
  • Aceh
  • Nasional
  • Luar Negeri
  • Umum
  • Biografi Ulama Aceh
  • Syariah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Opini
  • Olahraga
  • Hukum
  • Kesehatan & Gaya Hidup
Follow US
© 2026 PT. INFO ACEH NET. All Rights Reserved.
Opini

Negara “Seolah-olah”: Indonesia di Ambang Krisis Legitimasi

Last updated: Selasa, 13 Januari 2026 23:27 WIB
By Redaksi - Wartawati Infoaceh.net
Share
Lama Bacaan 4 Menit
Indonesia memasuki tahun 2026 dengan satu ironi besar: narasi dalam kondisi tampak stabil, tetapi sesungguhnya rapuh di tengah krisis kepercayaan. (Foto: Ist)
SHARE
Oleh: Sri Radjasa (Pemerhati Intelijen)
Indonesia memasuki tahun 2026 dengan satu ironi besar: negara ini tampak berjalan, tetapi tidak sepenuhnya bergerak maju. Di ruang publik, narasi keberhasilan terus diproduksi, namun di lapangan sosial, rasa keadilan justru kian menipis.
Indonesia hari ini hidup dalam atmosfer kebijakan “seolah-olah”: seolah-olah kuat, seolah-olah dihormati dunia, seolah-olah menuju masa keemasan.
Kunjungan kenegaraan, forum internasional, hingga klaim posisi strategis dalam tatanan global multipolar, kerap dikemas sebagai bukti Indonesia disegani.
Padahal, dalam literatur hubungan internasional, recognition tidak diukur dari seremoni diplomatik, melainkan dari kapasitas negara menjaga legitimasi internal, konsistensi hukum dan kohesi sosial.
Tanpa itu, negara hanya menjadi aktor simbolik, dimana hadir di panggung global, rapuh di pangkal domestik.
Pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah Indonesia benar-benar sedang baik-baik saja atau sekadar terlihat demikian?
Peringatan Dini yang Diabaikan
Dalam kajian Prof. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad melalui National Integrity Warning Calendar 2026-2030, negara diperingatkan agar tidak terjebak pada ilusi stabilitas.
Kalender ini menyoroti lima domain krusial: legitimasi hukum, ketahanan ekonomi, kohesi sosial, respons krisis dan bencana, serta perang narasi, termasuk disrupsi kecerdasan buatan.
Kerangka ini sejalan dengan teori state fragility yang dikemukakan Rotberg dan Fukuyama, yaitu negara tidak runtuh karena satu krisis besar, melainkan karena kegagalan berulang dalam merespons krisis-krisis kecil yang diremehkan.
Indonesia saat ini berada pada fase berbahaya tersebut, dimana kesalahan struktural dibaca sebagai insiden biasa dan ketidakadilan sistemik dipersempit menjadi problem teknis.
Alih-alih membongkar sumber ancaman, negara lebih sering memukul gejala. Alih-alih melakukan koreksi kebijakan, elit justru menebalkan narasi pembenaran.
Negara Hadir, Keadilan Absen
Narasi kebohongan bernegara, yang dikemas dalam bahasa stabilitas dan pembangunan diproduksi secara massif. Secara administratif, negara tetap hadir. Secara moral, ia semakin menjauh dari warga.
Publik tidak lagi memandang kesalahan penguasa sebagai kekeliruan individual, melainkan sebagai watak kekuasaan.
Kasus-kasus hukum yang menyentuh rasa keadilan publik, mulai dari kontroversi ijazah, megaproyek infrastruktur, industri ekstraktif, tambang dan sawit ilegal, hingga praktik standar ganda penegakan hukum—ditangani secara seremonial.
Hukum tampil, tetapi tidak bekerja; penegakan berlangsung, tetapi tanpa rasa keadilan. Dalam istilah kritis, ini adalah fake law enforcement, yakni hukum sebagai pertunjukan, bukan sebagai instrumen keadilan.
Di titik ini, negara tidak lagi berfungsi sebagai problem solver, melainkan berubah menjadi problem taker, dimana menumpuk persoalan tanpa menyelesaikan akar masalahnya.
Legitimasi yang Tergerus
Relasi pusat dan daerah kian menunjukkan retakan. Kesalahan prosedur dan komunikasi di tingkat lokal berpotensi menjelma menjadi krisis legitimasi nasional.
Dalam teori legitimasi Weberian, kekuasaan hanya bertahan selama ia dipercaya. Ketika kepercayaan publik terkikis, yang terjadi bukan pemberontakan seketika, melainkan penarikan ekspektasi secara diam-diam.
Presiden Prabowo menghadapi tantangan besar di titik ini. Bukan karena negara telah runtuh, tetapi karena daya ikat kedaulatan mulai melemah.
Pemulihan legitimasi membutuhkan energi politik yang luar biasa, dan yang terpenting, keberanian untuk memutus toleransi terhadap warisan kekuasaan lama yang korup, inkonstitusional dan anti-rakyat.
Akumulasi penderitaan publik bukan narasi politis, melainkan realitas sosial. Ia tidak lahir dari rekayasa, tetapi dari pengalaman sehari-hari warga yang merasa hukum tidak berpihak, negara tidak mendengar dan kekuasaan semakin jauh.
Menuju Negara yang Berlegitimasi
Indonesia Emas tidak akan tegak di atas propaganda, melainkan di atas legitimasi rakyat. Persatuan tidak lahir dari slogan, tetapi dari keadilan yang dirasakan.
Negara menjadi kuat bukan karena oligarki dilindungi, melainkan karena hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.
Sejarah menunjukkan, hanya pemimpin dengan naluri negarawan yang mampu membaca tanda-tanda zaman, yaitu dengan cermat terhadap ekspektasi publik, tegas terhadap kroni dan oligarki, serta konsisten menempatkan kepentingan rakyat di atas kompromi kekuasaan.
Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tetapi kerap kekurangan keberanian moral.
Jika kebijakan “seolah-olah” terus dipertahankan, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar citra pemerintahan, melainkan fondasi kedaulatan negara itu sendiri.
Previous Article 198 Destinasi Wisata Aceh Rusak Berat Akibat Banjir-Longsor
Next Article Dituding Timbun Bantuan, BPBD dan Damkar Bireuen Geruduk Gedung DPRK
Tidak ada komentar

Beri KomentarBatalkan balasan

Populer

Aceh
Soal Status Bencana Nasional, Sekda Aceh Jelaskan Prosedurnya ke Mahasiswa
Rabu, 14 Januari 2026
Pendidikan
UIN Ar-Raniry Jalin Kerja Sama dengan Universitas Songkla Thailand
Rabu, 14 Januari 2026
Hukum
Kardono Ditunjuk Jadi Kajari Aceh Barat Daya
Selasa, 13 Januari 2026
Umum
Tanah Amblas Hampir Sentuh Badan Jalan, Pemkab Aceh Tengah Buka Akses Alternatif 
Rabu, 14 Januari 2026
Umum
AKBP Chairul Ikhsan Gantikan Sujoko sebagai Kapolres Aceh Besar
Sabtu, 20 Desember 2025

Paling Dikomentari

Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah atau Dek Fad saat melepas pelari bercelana pendek di event olahraga FKIJK Aceh Run 2025 yang digelar di lapangan Blang Padang Banda Aceh, Ahad pagi (11/5). (Foto: Dok. Infoaceh.net)
Olahraga

Tanpa Peduli Melanggar Syariat, Wagub Fadhlullah Lepas Pelari Bercelana Pendek di FKIJK Aceh Run

Sabtu, 11 Oktober 2025
Anggota Komisi III DPR RI asal Aceh, M Nasir Djamil
Aceh

Komisi III DPR RI Minta Polisi Tangkap Gubsu Bobby Terkait Razia Mobil Plat Aceh

Minggu, 28 September 2025
UMKM binaan BRI sukses ekspansi pasar Internasional
Ekonomi

Negara Diam, UMKM Digasak Shopee-Tokopedia-TikTok

Jumat, 25 Juli 2025
Anggun Rena Aulia
Kesehatan & Gaya Hidup

Serba Cepat, Serba Candu: Dunia Baru Gen Z di Media Sosial

Minggu, 19 Oktober 2025
Fenomena penggunaan jasa joki akademik di kalangan dosen untuk meraih gelar profesor mulai menjadi sorotan di Aceh. (Foto: Ilustrasi)
Pendidikan

Fenomena Joki Profesor di Aceh: Ancaman Serius bagi Marwah Akademik

Jumat, 12 September 2025
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
TelegramFollow
WhatsAppFollow
ThreadsFollow
BlueskyFollow
RSS FeedFollow

Berita Lainnya

Opini

1.794 Hektare Tambak Tenggelam, Luka yang Tersisa Pascabanjir Pidie

Senin, 5 Januari 2026
Prof Dr TM Jamil MSi
Opini

Aceh Bukan Kolam Ikan:  Menggugat Syahwat Proyek di Tengah Bencana Banjir

Senin, 5 Januari 2026
Kondisi rumah warga yang terkubur lumpur akibat banjir bandang di Gampong Blang Awe Kecamatan Meureudu Kabupaten Pidie Jaya. (Foto: Ist)
Opini

Di Balik Luka dan Tangisan Rakyat Aceh Akibat Kelalaian Negara

Sabtu, 3 Januari 2026
Ketika hukum pidana buruk berada di tangan aparat korup, birokrasi inkompeten dan kekuasaan cenderung otoriter, maka negara sedang menapaki jalur darurat hukum. (Foto: Ist)
Opini

Indonesia dalam Kondisi Darurat Hukum

Sabtu, 3 Januari 2026
Opini

Deforestasi Sawit dan Bencana Aceh yang Diciptakan 

Rabu, 31 Desember 2025
Opini

Aceh dan Luka yang Tak Pernah Benar-benar Sembuh dalam Republik Indonesia

Senin, 29 Desember 2025
Opini

Menjaga Damai di Tengah Bencana, Menahan Diri dari Segala Provokasi

Minggu, 28 Desember 2025
Jangan biarkan pejabat 'wet-wet gaki' (ongkang-ongkang kaki) di tengah bencana terulang. Foto: Ilustrasi
Opini

Jangan Biarkan Pejabat ‘Wet-Wet Gaki’ di Tengah Bencana Aceh

Rabu, 24 Desember 2025
TAMPILKAN LAINNYA
INFOACEH.netINFOACEH.net
Follow US
© 2026 PT. INFO ACEH NET. All Right Reserved.
Developed by PT. Harian Aceh Indonesia
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
Logo Info Aceh
Selamat datang di Website INFOACEH.net
Username atau Email Address
Password

Lupa password?