Banda Aceh, Infoaceh.net – Pemerintah Aceh dinilai belum menunjukkan transparansi dan akuntabilitas yang memadai dalam pengelolaan dana penanganan bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh sejak 26 November 2025.
Karenanya, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh sebagai penanggung jawab administrasi pemerintahan daerah wajib mempertanggungjawabkan penggunaan dana bencana yang bersumber dari berbagai pos anggaran dan bantuan pemerintah pusat maupun daerah.
“Penanganan bencana yang tidak transparan berpotensi menimbulkan persoalan serius, bukan hanya secara administratif, tetapi juga menyangkut keadilan dan kemanusiaan bagi para korban,” ujar Pengamat ekonomi dan politik Aceh, Dr. Taufiq Abdul Rahim, dalam keterangannya kepada media, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada November 2025 lalu merupakan salah satu bencana paling dahsyat dalam beberapa tahun terakhir di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera.
Dampaknya tidak hanya merusak lingkungan dan infrastruktur, tetapi juga memicu krisis kemanusiaan yang luas.
Berdasarkan data terakhir, bencana tersebut di Aceh menyebabkan 559 orang meninggal dunia, 31 orang dinyatakan hilang, serta ratusan ribu jiwa mengungsi.
Kerusakan infrastruktur dan fasilitas publik juga dilaporkan sangat masif. Data menunjukkan sebanyak 258 unit perkantoran, 287 tempat ibadah, 305 sekolah, 431 pesantren, 2.026 rumah sakit dan puskesmas, serta 332 unit jembatan mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi.
“Belum lagi akses jalan yang terputus, gangguan aliran listrik, serta lumpuhnya berbagai layanan dasar masyarakat. Kondisi ini menuntut respons cepat dan pengelolaan dana yang benar-benar tepat sasaran,” kata Akademisi Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) itu.
Selain faktor cuaca ekstrem, Dr. Taufiq juga menyoroti deforestasi yang dinilai memperparah risiko bencana di Aceh.
Ia menyebut, dalam beberapa tahun terakhir laju kehilangan hutan di Aceh meningkat signifikan.
“Deforestasi Aceh mencapai puncaknya pada 2023–2024 sekitar 11.228 hektare, sebelum sedikit menurun pada periode 2024 hingga September 2025 menjadi 10.100 hektare. Aktivitas pertambangan, Hutan Tanaman Industri (HTI), serta kegiatan ilegal lainnya jelas meningkatkan risiko banjir bandang dan longsor,” ujarnya.
Sorotan utama, kata Dr. Taufiq, adalah penggunaan dana bencana yang hingga kini dinilai belum dipaparkan secara terbuka kepada publik.
Total dana yang dikelola Pemerintah Aceh diperkirakan mencapai Rp132 miliar, yang berasal dari Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp80 miliar, bantuan Kementerian Sosial RI sebesar Rp20 miliar, serta hibah dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota sebesar Rp32 miliar.
“Pemerintah Aceh harus menjelaskan secara rinci penggunaan dana ini. Jangan ada hidden agenda yang memanfaatkan penderitaan korban—baik korban jiwa, kerugian harta benda, maupun trauma psikologis masyarakat Aceh,” tegasnya.
Ia menambahkan, masih banyak bantuan yang seharusnya langsung diterima masyarakat terdampak, seperti logistik, honor relawan, serta fasilitas transportasi darat dan udara, yang dinilai belum sepenuhnya tersalurkan secara tepat dan merata.
“Jika penggunaan dana tidak sesuai peruntukannya, Sekda Aceh harus bertanggung jawab. Dana sebesar ini seharusnya mampu mempercepat pemulihan korban dan perbaikan fasilitas publik,” katanya.
Dr. Taufiq menekankan transparansi, akuntabilitas dan pendekatan kemanusiaan harus menjadi prinsip utama dalam penanganan bencana.
Ia mengingatkan agar dana umat dan dana kemanusiaan tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik maupun agenda tersembunyi.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti pentingnya kompetensi pejabat publik dalam manajemen kebencanaan.
Menurutnya, apabila pejabat terkait tidak memiliki kemampuan merespons bencana secara cepat, tepat, dan profesional, maka langkah terbaik adalah mengundurkan diri demi kepentingan rakyat.
“Rakyat tidak membutuhkan narasi indah atau pencitraan visual semata. Yang dibutuhkan adalah kerja nyata, bantuan langsung, dan respons cepat terhadap kebutuhan dasar korban bencana,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Dr. Taufiq mengingatkan agar pemerintah benar-benar memperhatikan kondisi psikologis para korban serta memastikan seluruh dana bencana digunakan secara transparan selama masa tanggap darurat.
“Persoalan mendasar masih banyak dan harus dipertanggungjawabkan. Jangan sampai terjadi kejahatan kemanusiaan atau penyalahgunaan dana untuk kepentingan pribadi maupun kelompok,” pungkasnya.
Penggunaan Dana Bencana Aceh Dinilai Tidak Transparan
Artikel Terkait
Safari Ramadhan di Danau Paris, Wabup Aceh Singkil Puji Peran Dai…
Hamzah Sulaiman menegaskan, keberadaan dai perbatasan memiliki peran penting dalam menjaga…
Setelah Terdepak, Husnan dan Munawar Kembali Masuk Eselon II Kabinet…
Kembalinya Husnan dan Munawar memunculkan dua tafsir besar di ruang publik. Di satu sisi,…
Mualem Lantik 25 Pejabat Eselon II Pemerintah Aceh, Ini Daftarnya
Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem melantik dan mengambil sumpah sebanyak 25 pejabat…
Puluhan Anak TK-SD Keracunan MBG di Simpang Mamplam Bireuen
Para korban awalnya berdatangan ke Puskesmas Simpang Mamplam untuk mendapatkan penanganan…
Mualem Potong TPP PNS Pemerintah Aceh 16,87 Persen
Kebijakan pemotongan TPP PNS ini muncul di tengah tekanan fiskal Pemerintah Aceh pada…
Ratusan Ribu Rumah Rusak, Pembangunan Huntap Lamban: Aceh Desak Pusat…
Wagub mendorong penugasan langsung kepada BUMN Karya agar proses pembangunan dapat…
Masjid Raya Baiturrahman Jadi Magnet Ramadan, Ikon Spiritualitas Aceh…
Masjid Raya Baiturrahman bersiap menyambut jemaah Ramadan 2026. Simak sejarah, keunikan…
Di Tengah Bencana, Pemerintah Aceh Terbitkan 20 Izin Tambang Sepanjang…
“Jangan sampai masyarakat hanya menerima banjir dan kerusakan lingkungan, sementara…
Jualan Siang Hari Ramadan, Usaha Makanan Cepat Saji di Banda Aceh…
“Kami memastikan seluruh poin dalam Seruan Bersama Forkopimda dipatuhi tanpa pengecualian.…
UEA Akan Bangun Masjid Agung dan Islamic Center di Banda Aceh, Pemko…
“Masjid agung yang kami idamkan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga menjadi pusat…
Gema Ramadan di Tanjung Selamat: Masjid Babul Magfirah Menjadi Jantung…
Bangunan masjid tampak mencolok dengan nuansa warna hijau dan krem yang memberi kesan…
Mendagri Tinjau Pembangunan Jembatan Kutablang Bireuen, Target Rampung…
Rombongan kemudian bergerak ke Kabupaten Pidie Jaya. Bersama Bupati Pidie Jaya Sibral…

















