Pilrek USK: Menjaga Marwah Akademik di Tengah Perbedaan

Oleh: Drs M. Isa Alima*

Di tengah dinamika pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh periode 2026-2031, penting bagi kita untuk menjaga kejernihan pikiran dan menata kembali niat.

Proses ini adalah bagian dari tradisi akademik yang luhur, yang seharusnya berjalan dengan tenang, bermartabat, dan jauh dari kegaduhan yang tidak perlu.

USK bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah rumah besar ilmu pengetahuan, kampus tertua dan paling dihormati di Aceh, yang pernah menjadi magnet bagi para pencari ilmu dari berbagai penjuru Nusantara hingga Semenanjung Malaysia.

Nama besarnya lahir dari sejarah panjang, kepercayaan publik, dan dedikasi para pendidik yang mengabdi dengan tulus.

Karena itu, kompetisi menuju kursi rektor hendaknya dimaknai sebagai ajang adu gagasan, adu integritas, dan adu visi untuk masa depan pendidikan Aceh.

Bukan sebagai arena saling mencurigai, apalagi menggiring opini yang berpotensi memecah belah kebersamaan sivitas akademika.

Aceh adalah negeri Serambi Mekkah, yang dikenal dengan kesejukan nilai, keteguhan akhlak, dan penghormatan pada adab.

Suasana yang teduh dan bijaksana ini selayaknya tercermin pula dalam ruang-ruang akademik kita.

Narasi yang dibangun seharusnya menyejukkan hati, selaras dengan semangat syariat Islam yang menjunjung tinggi persaudaraan dan kebijaksanaan.

Lebih dari itu, nama Syiah Kuala yang melekat pada universitas ini bukanlah nama sembarangan. Ia adalah nama seorang ulama besar, cahaya ilmu yang harum di seluruh Nusantara.

Menjaga marwah Universitas Syiah Kuala berarti juga menjaga kehormatan nama ulama tersebut, tidak menodainya dengan hiruk pikuk yang mengaburkan tujuan mulia pendidikan.

Perlu kita sadari bahwa para calon rektor yang ada saat ini adalah putra-putra terbaik Aceh. Mereka hadir dengan niat yang sama, yaitu mengabdi, membangun, dan memajukan dunia pendidikan.

Perbedaan visi adalah hal yang wajar, namun perpecahan bukanlah pilihan yang bijak.

Mari kita kembalikan proses ini ke jalurnya yang benar. Biarkan ia mengalir dengan jernih, dewasa, dan beradab.

Mari kita tonjolkan keunggulan daerah kita, kita jaga kebesaran nama Universitas Syiah Kuala, dan kita rawat warisan intelektual Aceh dengan kata-kata yang sejuk serta sikap yang bijaksana.

Karena ilmu pengetahuan tumbuh subur dalam ketenangan, dan kebesaran lahir dari kedewasaan.

*Penulis adalah Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh