Luar Negeri

Tragedi Janji Manis Washington: Saat Rakyat Iran Merasa Ditumbalkan dalam ‘Gimmick’ Politik Trump

Taheran, Infoaceh.net – Gelombang protes berdarah yang menyapu Iran kini menyisakan luka ganda bagi para demonstran. Selain menghadapi represi aparat, mereka kini harus menelan pil pahit atas apa yang disebut sebagai pengkhianatan diplomatik terbesar abad ini.

Donald Trump, yang awalnya mengobral janji perlindungan, secara mengejutkan berbalik arah dan memberikan panggung apresiasi bagi rezim Teheran.

Perubahan drastis ini hanya terjadi dalam hitungan hari. Ancaman militer yang sempat membumbung tinggi tiba-tiba menguap, berganti menjadi ucapan terima kasih yang dilayangkan Trump kepada otoritas Iran.

Spekulasi ‘Umpan Meriam’ di Tengah Represi

Narasi “Bantuan Sedang Dalam Perjalanan” yang diunggah Trump pada 13 Januari lalu ternyata menjadi bumerang mematikan. Pesan tersebut memicu keberanian warga untuk menghadapi moncong senapan karena percaya ada kekuatan besar yang membentengi mereka.

Namun, alih-alih bantuan datang, para demonstran justru disambut hujan peluru dari penembak jitu dan senapan mesin.

“Darah 15.000 jiwa ini ada di tangan Trump,” kecam seorang pengusaha di Teheran dalam wawancaranya dengan majalah TIME, Minggu (18/1/2026).

Publik di Teheran kini meyakini bahwa janji “siap tempur” dari Gedung Putih hanyalah gertakan kosong yang justru mendorong warga ke ladang pembantaian.

Diplomasi ‘Truth Social’ dan Luka Para Aktivis

Puncak kemarahan publik meledak ketika Trump melalui platform Truth Social pada Sabtu (17/1) menyatakan rasa terima kasihnya kepada pimpinan Iran atas pembatalan eksekusi massal. Langkah ini dianggap sebagai pengakuan de facto terhadap rezim yang tengah digoyang rakyatnya sendiri.

“Kami dipermainkan seperti pion dalam papan catur politiknya,” ujar seorang pelarian Iran yang masih didera trauma.

Di lorong-lorong gelap Teheran, kecurigaan mengenai adanya kesepakatan rahasia atau “deal” bawah tanah antara Washington dan Teheran kini menjadi perbincangan panas di tengah isak tangis keluarga korban.

Akhir dari Sebuah Perlawanan?

Keputusasaan ini menjalar hingga ke komunitas diaspora. Dari Sydney hingga London, warga Iran di perantauan merasa harapan mereka terhadap demokrasi telah “dijual” oleh kepentingan politik praktis.

Elham, aktivis di Australia, menyebut tindakan Trump sebagai penghancuran moral yang tak dapat diperbaiki.

Kini, api pemberontakan di berbagai kota dilaporkan mulai meredup, bukan karena rakyat menyerah pada rezim, melainkan karena merasa ditinggalkan sendirian di bawah ancaman maut.

Dunia kini menyaksikan sebuah babak kelam: benarkah rakyat Iran sengaja dibiarkan menjadi umpan meriam demi ambisi politik global sang Presiden?

Beri Komentar

Artikel Terkait