2.805 Sekolah Terdampak Bencana, Pemerintah Longgarkan Penggunaan Dana BOS untuk Aceh

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin. (Foto: Ist)

Banda Aceh, Infoaceh.net — Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh pada akhir November 2025 membawa dampak besar terhadap sektor pendidikan.

Data Dinas Pendidikan Aceh mencatat, 2.805 sekolah terdampak, melibatkan 362.617 peserta didik dan 34.081 guru, baik dari sisi kegiatan belajar-mengajar maupun kondisi sarana dan prasarana pendidikan.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Pemerintah Pusat memberikan kebijakan fleksibilitas atau kelonggaran penggunaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) Tahun Anggaran 2026 bagi satuan pendidikan di Aceh.

Kebijakan ini dimaksudkan agar sekolah memiliki ruang menyesuaikan penggunaan anggaran sesuai kebutuhan darurat pascabencana.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menyampaikan kebijakan tersebut sangat penting untuk memastikan proses pembelajaran tetap berlangsung di tengah keterbatasan yang dialami sekolah terdampak.

“Kami berharap seluruh satuan pendidikan dapat memanfaatkan fleksibilitas Dana BOSP ini secara maksimal dan tepat sasaran, agar layanan pendidikan tetap berjalan,” ujar Murthalamuddin dalam keterangannya, Rabu (28/1).

Selain dukungan kebijakan anggaran, pemulihan pendidikan Aceh juga mendapat perhatian melalui kolaborasi lintas sektor.

Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri bersama ILMCI Group menyalurkan 1,2 juta PIN e-learning guna menunjang pembelajaran mandiri bagi siswa korban bencana.

Bantuan tersebut diterima Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah dalam seremoni penyerahan di Jakarta, Selasa (27/1/2026), yang turut dihadiri Ketua STIK Lemdiklat Polri Irjen Pol Eko Rudi Sudarto dan CEO Yayasan Anak Bangsa Indonesia–ILMCI Group Dr Sofian Tjandra.

Plt. Kadis Pendidikan Aceh Murthalamuddin menegaskan, Pemerintah Aceh berkomitmen menjaga keberlangsungan pendidikan melalui pendekatan pembelajaran yang fleksibel dan adaptif.

“Pendidikan merupakan hak dasar anak. Dalam kondisi apa pun, termasuk bencana, negara harus hadir memastikan proses belajar tidak terhenti,” katanya.

Ia menilai bantuan PIN e-learning menjadi penguatan penting bagi sekolah dan peserta didik, sekaligus bagian dari investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Aceh.

“Ini bukan hanya bantuan teknologi, tetapi langkah strategis membangun ketahanan pendidikan Aceh di wilayah rawan bencana,” tutupnya.