Surat Warga

Kepemimpinan Baru USK, Prof Mirza Tabrani Bawa Harapan Besar bagi Aceh

Banda Aceh, Infoaceh.net — Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh memasuki babak baru kepemimpinan setelah Prof Dr Mirza Tabrani SE MBA DBA terpilih sebagai Rektor USK periode 2026–2031.

Kemenangan Prof Mirza disambut luas oleh berbagai kalangan sebagai harapan besar bagi kebangkitan USK dan kontribusi strategis perguruan tinggi tertua di Aceh tersebut bagi pembangunan daerah.

Prof Mirza Tabrani resmi terpilih melalui Rapat Pleno Tertutup Majelis Wali Amanat (MWA) USK) yang berlangsung di Balai Senat USK, Darussalam, Banda Aceh, Senin (2/2/2026).

Dalam pemilihan itu, Prof Mirza meraih 13 dari 19 suara, menandai mandat kuat untuk memimpin USK lima tahun ke depan.

Ketua MWA USK, Dr Safrizal ZA, menyampaikan hasil pemilihan mencerminkan besarnya kepercayaan anggota MWA terhadap visi, kapasitas akademik, serta rekam jejak kepemimpinan Prof Mirza di lingkungan kampus.

Apresiasi juga datang dari berbagai elemen masyarakat. Drs Isa Alima, Ketua Patriot Bela Nusantara (PBN) Aceh sekaligus pemerhati sosial dan kebijakan publik, menilai terpilihnya Prof Mirza sebagai momentum penting bagi kebangkitan pendidikan tinggi Aceh.

“USK adalah jantung intelektual Aceh. Ketika denyutnya dipimpin oleh sosok yang matang secara akademik dan manajerial seperti Prof Mirza Tabrani, maka harapan itu kembali bernyala,” ujar Isa Alima.

Menurutnya, USK ke depan tidak hanya dituntut unggul dalam pemeringkatan, tetapi juga hadir sebagai pusat riset yang berpihak pada rakyat serta menjadi mercusuar moral dalam pembangunan Aceh.

Prof Mirza Tabrani merupakan guru besar kelahiran Banda Aceh, 26 September 1967. Ia menamatkan pendidikan Sarjana (S1) Manajemen di Universitas Syiah Kuala pada 1991. Gelar Master of Business Administration (MBA) diraihnya dari Universiti Kebangsaan Malaysia pada 1995, sementara gelar Doctor of Business Administration (DBA) diselesaikannya di universitas yang sama pada 2007.

Rekam jejak kepemimpinannya di lingkungan USK terbilang panjang dan berjenjang. Prof Mirza pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi USK periode 2007–2009, kemudian dipercaya sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi USK periode 2009–2013.

Selanjutnya, ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi USK selama dua periode, 2014–2018.

Selain berkiprah di dunia akademik, Prof Mirza juga memiliki pengalaman profesional di sektor keuangan. Ia pernah menjabat sebagai Komisaris Independen Bank Aceh Syariah periode 2020–2023, yang semakin memperkuat kompetensinya dalam bidang manajemen, tata kelola dan pengelolaan risiko.

Prof Mirza sebelumnya mendaftarkan diri sebagai calon Rektor USK periode 2026–2031 pada Jum’at (17/10/2025).

Dalam pemaparannya, Prof Mirza membawa tujuh poin utama visi dan misi kepemimpinan. Salah satu poin sentral adalah membangun Good University Governance (GUG) sebagai fondasi pengelolaan USK.

Di atas fondasi tersebut, ia menekankan pentingnya penerapan smart humanocracy governance dan penguatan integritas sebagai model kepemimpinan modern.

Menurutnya, pendekatan tersebut menempatkan manusia sebagai subjek utama pembangunan kampus, bukan sekadar objek birokrasi.

“Saya ingin seluruh sivitas akademika USK mendapat kesempatan yang adil untuk berkembang. Birokrasi yang kaku harus kita tinggalkan,” ujar Prof Mirza.

Ia menegaskan penerapan smart governance akan mempercepat layanan, memangkas birokrasi berbelit, serta mencegah praktik korupsi.

“Dua hal ini akan menopang integritas. Kiban haba meunan but. Konsisten agar kompeten,” katanya.

Selain tata kelola, Prof Mirza juga bertekad memperkuat kemandirian finansial USK melalui pembentukan USK Holding Company.

Menurutnya, USK memiliki aset dan sumber daya manusia yang besar dan perlu dikelola secara profesional agar memberi manfaat optimal.

“Apa yang telah dirintis rektor-rektor sebelumnya harus dilanjutkan hingga benar-benar memberi dampak nyata, tidak hanya bagi USK, tetapi juga bagi Aceh,” ujarnya.

USK Holding Company nantinya akan mengelola berbagai aset produktif universitas, di antaranya pengembangan rumah sakit dengan layanan premium untuk membantu mengurangi beban Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA), sekaligus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Selain itu, Prof Mirza berencana mengembangkan pusat pelatihan, memperkuat riset terpadu, serta mengoptimalkan laboratorium terakreditasi agar dapat dikomersialisasikan.

“USK tidak boleh menjadi menara gading. Kampus ini harus hadir menjawab kebutuhan Aceh dan mendukung agenda pembangunan daerah,” tegasnya.

Sebagai akademisi sekaligus praktisi, Prof Mirza juga mengantongi sejumlah sertifikasi profesional, antara lain Certified Financial Risk Management (CFRM), Certified Islamic Finance Analyst (CIFA), Certified Human Resource Analyst (CHRA), Certified International Marketing Analyst (CIMA), serta Sertifikasi Manajemen Risiko Perbankan Tingkat 6.

Dengan kemenangan telak meraih 13 dari 19 suara, Prof Mirza Tabrani mengantongi mandat kuat untuk membawa Universitas Syiah Kuala memasuki fase baru sebagai perguruan tinggi yang mandiri secara finansial, unggul secara akademik, serta berkontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Beri Komentar

Artikel Terkait