Jakarta, Infoaceh.net – PT Pertamina (Persero) mendorong pemerintah untuk memberikan pembebasan cukai terhadap etanol yang digunakan sebagai campuran bahan bakar Pertamax Green 95.
Usulan tersebut dinilai krusial agar harga dan biaya produksi BBM ramah lingkungan tetap kompetitif di tengah upaya percepatan transisi energi nasional.
Permintaan itu disampaikan Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, dalam forum Debottlenecking Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP) di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Ia menilai skema biaya yang berlaku saat ini masih menjadi hambatan utama bagi pengembangan bioetanol sebagai energi alternatif.
Menurut Oki, tarif cukai etanol yang berada di kisaran Rp20.000 per liter memberikan tekanan cukup besar terhadap struktur biaya produksi.
Kondisi tersebut semakin terasa ketika Pertamina tengah memperluas distribusi Pertamax Green ke berbagai wilayah melalui jaringan terminal BBM nasional.
Ia menjelaskan bahwa dukungan fiskal diperlukan agar penetrasi bahan bakar rendah emisi dapat berjalan lebih cepat.
Pertamina saat ini memiliki ratusan titik distribusi yang berpotensi mengadopsi skema serupa apabila regulasi cukai disederhanakan.
Selain persoalan tarif, perusahaan juga menyoroti proses perizinan yang dinilai masih memerlukan waktu panjang.
Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa pengurusan fasilitas pembebasan cukai bisa berlangsung bertahun-tahun, situasi yang dinilai kurang selaras dengan target percepatan energi bersih.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah terbuka melakukan penyesuaian aturan guna mendukung agenda strategis energi nasional.
Evaluasi terhadap regulasi teknis akan dipercepat, termasuk penyederhanaan mekanisme administrasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Pemerintah menargetkan pembaruan kebijakan dapat segera diterapkan agar distribusi bahan bakar berbasis bioetanol tidak terhambat.
Langkah ini diharapkan memperkuat ekosistem energi ramah lingkungan sekaligus menjaga keseimbangan fiskal serta keberlanjutan industri energi domestik.



















