Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Aceh Minus 1,6 Persen Terdampak Bencana

Banda Aceh, Infoaceh.net – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat ekonomi Aceh pada Triwulan IV 2025 mengalami kontraksi sebesar 1,61 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y), dipicu antara lain oleh dampak bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada akhir 26 November 2025.

Hal tersebut disampaikan Kepala BPS Aceh, Agus Andria SST MSi, dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Aceh, Kamis (5/2/2026).
Secara keseluruhan, ekonomi Aceh sepanjang tahun 2025 masih tumbuh sebesar 2,97 persen dibandingkan tahun 2024 (cumulative-to-cumulative/c-to-c).
Namun pada Triwulan IV 2025, ekonomi Aceh juga terkontraksi 0,05 persen dibandingkan triwulan sebelumnya (quarter-to-quarter/q-to-q).
Pada Triwulan IV 2025, ekonomi Aceh yang dihitung berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp257,50 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp158,34 triliun.
BPS mencatat, pertumbuhan ekonomi Aceh tahun 2025 sebesar 2,97 persen ditopang oleh sejumlah lapangan usaha.
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan yang tumbuh 6,00 persen.
Disusul Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 4,81 persen serta Industri Pengolahan sebesar 4,63 persen.
Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang memiliki peran dominan dalam struktur ekonomi Aceh tumbuh 3,60 persen.
Sementara sektor Pertambangan dan Penggalian tumbuh 1,01 persen, sedangkan sektor Konstruksi mengalami kontraksi sebesar 2,48 persen.
Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,41 persen.
Struktur PDRB Aceh tahun 2025 masih didominasi oleh sektor Pertanian sebesar 32,74 persen.
Kemudian diikuti Perdagangan Besar dan Eceran serta Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 15,10 persen, Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 8,95 persen, Konstruksi 8,22 persen, serta Transportasi dan Pergudangan 6,96 persen.
Kelima sektor tersebut menyumbang 71,97 persen terhadap perekonomian Aceh.
Secara tahunan (y-on-y), ekonomi Aceh Triwulan IV 2025 terkontraksi 1,61 persen.
Dari sisi produksi, kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 17,79 persen. Selain itu, Pengadaan Listrik dan Gas turun 11,71 persen, Pengadaan Air turun 8,61 persen, serta Konstruksi terkontraksi 8,42 persen.
Sementara sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih tumbuh 0,85 persen.
Adapun Perdagangan Besar dan Eceran serta Reparasi Mobil dan Sepeda Motor mengalami kontraksi tipis sebesar 0,06 persen.
Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mengalami kontraksi terdalam sebesar 6,13 persen (di luar komponen pengurang).
Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q), ekonomi Aceh Triwulan IV 2025 terkontraksi 0,05 persen.
Lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian kembali mencatat kontraksi terdalam sebesar 19,56 persen.
Dari sisi pengeluaran, komponen konsumsi rumah tangga mengalami penurunan paling dalam, yakni 6,69 persen.
Menurut Agus Andria, bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025 menjadi salah satu faktor utama yang menekan aktivitas ekonomi, baik secara tahunan maupun triwulanan.
“Bencana tersebut berdampak pada terganggunya aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi masyarakat, sehingga turut memengaruhi kinerja ekonomi Aceh pada akhir tahun,” pungkasnya.

Beri Komentar

Artikel Terkait