Aceh

Jelang Ramadan 10 Hari Lagi, Pembangunan Huntara di Aceh Baru 26 Persen

Banda Aceh, Infoaceh.net — Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang tinggal sekitar 10 hari lagi, pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh masih jauh dari target.
Hingga awal Februari 2026, baru 4.401 unit atau sekitar 26 persen huntara yang berhasil dirampungkan dari total kebutuhan 15.956 unit.
Capaian tersebut menimbulkan kekhawatiran, mengingat puluhan ribu warga terdampak bencana masih bertahan di tenda pengungsian dan belum punya tempat tinggal layak.
Data terbaru mencatat 74.120 jiwa atau 19.019 kepala keluarga masih tersebar di 986 titik pengungsian di 10 kabupaten/kota.
Sebaran huntara yang telah selesai dibangun didominasi Kabupaten Aceh Utara sebanyak 1.015 unit dan Aceh Tamiang 1.000 unit. Disusul Gayo Lues 530 unit, Aceh Timur 529 unit, dan Bener Meriah 455 unit.
Sementara daerah lain mencatat angka yang relatif kecil, seperti Nagan Raya 70 unit, Kota Lhokseumawe 50 unit, Kota Langsa 30 unit dan Pidie hanya 12 unit.
Kasatgaswil Pemulihan Bencana Aceh, Dr Safrizal ZA, menyatakan pemerintah melalui Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) terus mempercepat pembangunan huntara.
“Pembangunan huntara telah rampung 4.401 unit atau setara 26 persen dari total 15.956 unit yang direncanakan. Kita kebut dan terus percepat,” ujar Safrizal dalam keterangan tertulis, Sabtu (7/2/2026).
Namun, dengan waktu yang semakin sempit menuju Ramadan, percepatan tersebut dinilai menjadi tantangan besar.
Banyak pengungsi diperkirakan masih harus menjalani ibadah puasa di tenda darurat dengan keterbatasan fasilitas.
Di sisi lain, pemerintah melaporkan kemajuan pada sejumlah sektor pemulihan.
Sebanyak 465 pasar rakyat telah kembali aktif, sementara 641 rumah ibadah sudah difungsikan. Upaya pembersihan lumpur oleh Kementerian PUPR juga terus berjalan, dengan 129 dari 235 lokasi sasaran telah ditangani.
Meski demikian, 106 lokasi lainnya masih dalam proses pembersihan, menunjukkan pekerjaan rehabilitasi pascabencana masih cukup panjang. Di sektor kesehatan, 146 fasilitas kesehatan tetap beroperasi, walaupun dua puskesmas di Aceh Timur dan Aceh Tenggara masih memberikan layanan di luar gedung.
Bencana juga berdampak pada 1.204 fasilitas pendidikan. Pemerintah memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung, meski sebagian dilakukan dengan berbagai keterbatasan sarana.
Untuk infrastruktur dasar, pembangunan air bersih dan sanitasi terus dikebut. Hingga kini, 614 sumur bor telah selesai dibangun, satu unit masih dalam proses, dan empat unit dalam tahap persiapan.
Sementara fasilitas MCK yang telah rampung baru mencapai 46 unit, dengan 26 unit lainnya masih dikerjakan.
Kondisi ini menunjukkan pemulihan pascabencana di Aceh masih membutuhkan kerja ekstra, terutama agar para penyintas dapat menjalani Ramadan dengan tempat tinggal yang lebih layak.

Beri Komentar

Artikel Terkait