Umum

Terisolasi Pascabanjir, Sudah Dua Bulan Lebih PLN Belum Mampu Pulihkan Listrik 16 Desa di Aceh

Banda Aceh, Infoaceh.net — Pasokan listrik di 16 desa di Provinsi Aceh hingga Ahad (8/2/2026) belum pulih lebih dari dua bulan setelah bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025.

Akibatnya, warga di desa-desa terdampak masih mengandalkan generator dan lampu tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari.
Berdasarkan data PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, 16 desa yang belum kembali teraliri listrik tersebut tersebar di enam kabupaten.
Di Kabupaten Aceh Tengah, desa yang masih mengalami pemadaman meliputi Atu Payung, Bintang Pepara, Delung Sekinel, Jamat, Karang Ampar, Kekuyang, Kute Reje, Umang dan Reje Payung.
Sementara itu di Kabupaten Aceh Utara terdapat Desa Leubok Pusaka. Di Kabupaten Gayo Lues, listrik belum pulih di Desa Lesten.
Kemudian di Kabupaten Aceh Timur masih tersisa satu desa yang belum mendapatkan pasokan listrik, yakni Desa Sahraja.
Kondisi serupa juga terjadi di Desa Salah Sirong Jaya, Kabupaten Bireuen.
Desa Sekumur di Kabupaten Aceh Tamiang serta Desa Sikundo di Kabupaten Aceh Barat.
Manajer Komunikasi dan TJSL PLN UID Aceh, Lukman Hakim, mengatakan kendala utama pemulihan jaringan listrik adalah rusaknya infrastruktur akses akibat bencana, seperti jalan yang ambles dan jembatan yang terputus.
Menurut dia, kondisi tersebut menyulitkan tim teknis PLN dalam mengangkut tiang listrik, kabel, dan material lainnya ke lokasi terdampak.
“Medannya memang sangat berat. Kami berusaha memulihkan seluruh desa secepatnya. Tim terus berjuang di lapangan,” ujar Lukman.
Sementara Keuchik Desa Leubok Pusaka, Kabupaten Aceh Utara, Janni, berharap pemulihan listrik dapat segera direalisasikan.
Selama dua bulan terakhir, warga yang terdampak banjir terpaksa mengandalkan generator dan lampu tenaga surya.
“Masalah kami cuma listrik yang belum menyala. Kami harap bisa dipercepat,” katanya.
Ia menambahkan, warga harus membeli bahan bakar untuk menyalakan generator pada malam hari, yang dinilai sangat memberatkan kondisi ekonomi masyarakat saat ini.
Menurut Janni, sebagian besar warga belum bisa kembali berkebun karena lahan masih rusak dan tertutup lumpur.
Saat ini, banyak keluarga hanya mengandalkan penghasilan sebagai buruh pada proyek pembangunan pascabencana di desa mereka.
“Untuk ke kebun belum bisa, hancur dan penuh lumpur. Beli bahan bakar untuk menyalakan generator malam hari itu berat bagi warga,” pungkasnya.

Beri Komentar

Artikel Terkait