Buntut Penanganan Banjir, HRD dan Bupati Mukhlis ‘Perang Terbuka’: Siapa Pahlawan, Siapa Pencitraan?

Bireuen, Infoaceh.net – Ketegangan politik mencuat di Kabupaten Bireuen setelah hubungan antara anggota DPR RI Fraksi PKB, H. Ruslan M. Daud, dan Bupati Bireuen Mukhlis memanas di ruang publik.
Di tengah situasi darurat pascabanjir bandang yang masih menyisakan ribuan pengungsi, dua figur penting daerah itu justru terlibat saling serang pernyataan yang memicu perdebatan luas.
Persoalan bermula ketika Ruslan M. Daud melayangkan surat resmi kepada pimpinan di tingkat pusat yang berisi dorongan agar Menteri Dalam Negeri mengevaluasi kepemimpinan Bupati Bireuen.
Ia menilai respons pemerintah daerah terhadap kondisi pengungsi berjalan lambat, terutama terkait penyediaan hunian sementara bagi warga terdampak bencana.
Menurut Ruslan, banyak keluarga masih bertahan di tenda darurat dengan fasilitas terbatas, termasuk sanitasi yang dinilai tidak memadai bagi bayi dan lansia.
Ia menyoroti belum adanya langkah konkret pengajuan hunian sementara ke pemerintah pusat, sementara fokus pada pembangunan hunian tetap dianggap membutuhkan waktu panjang.
Kondisi ini, kata dia, berpotensi memperpanjang penderitaan warga yang membutuhkan penanganan cepat.
Pernyataan tersebut segera memantik reaksi dari lingkungan Pemerintah Kabupaten Bireuen. Pihak internal pemerintah daerah menilai kritik itu sebagai langkah politis yang tidak sepenuhnya menggambarkan situasi di lapangan.
Mereka menegaskan bahwa kebijakan yang diambil bertujuan memastikan solusi jangka panjang agar warga memperoleh tempat tinggal permanen, bukan sekadar fasilitas sementara yang dikhawatirkan tidak efisien.
Lingkaran pemerintahan daerah juga menyiratkan bahwa polemik ini berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap kerja tim penanganan bencana yang sedang berjalan. Menurut mereka, prioritas utama tetap pada pembangunan hunian yang berkelanjutan demi kepastian hidup masyarakat terdampak.
Di tengah tarik-menarik narasi tersebut, masyarakat Bireuen justru menanti langkah nyata.
Banyak pengungsi masih hidup dalam keterbatasan, sementara waktu terus berjalan mendekati bulan Ramadhan.
Situasi ini membuat harapan warga sederhana kepastian tempat tinggal yang layak dan percepatan pemulihan, bukan konflik elite yang berkepanjangan.