Memasuki Ramadan, Utamakan Ukhuwah daripada Perdebatan Khilafiyah  

Banda Aceh, Infoaceh.net — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, umat Islam diimbau untuk lebih mengutamakan ukhuwah dan memperkuat silaturrahim daripada membesar-besarkan perbedaan fiqhiyah dalam perkara furu’ yang berpotensi merusak keharmonisan dan persatuan umat.
Pesan tersebut disampaikan akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk Saifuddin A. Rasyid, dalam khutbah Jum’at di Masjid Besar Abu Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Jum’at (13/2/2026) bertepatan 25 Sya’ban 1447 Hijriah.
Dalam khutbahnya, Saifuddin menyoroti fenomena yang kerap muncul menjelang Ramadan, yakni memanasnya perbincangan soal isu-isu khilafiyah seperti perbedaan pandangan tentang shalat tarawih.
Menurutnya, kegaduhan yang berulang setiap tahun itu terbukti menguras energi persatuan dan merugikan umat Islam secara keseluruhan.
Imam Besar Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry itu menilai umat Islam perlu lebih bijak dengan menahan diri dan memfokuskan energi pada upaya menjaga hubungan baik serta membangun silaturrahim antar kelompok.
Ia mengingatkan agar perbedaan pemahaman dalam terminologi dan tema keilmuan agama tidak dibesar-besarkan hingga memicu perpecahan.
Saifuddin menyayangkan adanya sebagian kalangan yang rela mengabaikan kewajiban memelihara persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah demi memperdebatkan persoalan khilafiyah dalam ibadah sunnah.
“Fokus utama kita dalam beribadah adalah mempersembahkan yang terbaik kepada Allah sesuai keyakinan masing-masing lillahi ta’ala. Hindari menilai dan menyalahkan ibadah orang lain karena itu bukan wewenang kita. Biarlah Allah yang menilai,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa nilai ibadah bisa berkurang bahkan hilang jika diiringi sikap mencemooh orang lain dan gemar menimbulkan keributan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, sebagaimana spirit dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 10–12.
Untuk menahan diri dari perilaku membesar-besarkan perbedaan khilafiyah furu’iyah, Saifuddin menguraikan lima hal penting.
Pertama, mengedepankan sikap toleransi (tasamuh) dengan menghargai perbedaan pendapat sebagai bentuk keluasan ilmu. Kedua, menghindari fanatisme buta (ta’ashub) dengan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
Ketiga, terus memperdalam ilmu agama (tafaqquh fid din) agar mampu memahami dan memberi ruang bagi perbedaan. Keempat, menjaga adab dalam berbeda pendapat dengan tutur kata santun serta lebih mengutamakan introspeksi diri.
Kelima, mengambil peran aktif dalam menjaga ukhuwah Islamiyah dengan mempromosikan nilai persatuan di lingkungan masing-masing.
Menutup khutbahnya, Imam Syik Masjid Jamik Baitul Jannah Tungkop itu mengajak umat untuk lebih memperhatikan persoalan besar yang dihadapi umat Islam saat ini.
Ia menyoroti masalah kemiskinan, ketertinggalan pendidikan agama, generasi yang meninggalkan shalat, ketidakmampuan membaca Al-Qur’an, hingga pengaruh gaya hidup yang tidak islami.
Saifuddin juga menyinggung kekhawatirannya terhadap munculnya kasus kemurtadan yang dinilai sebagai persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.
“Ini masalah besar dan jauh lebih penting kita pikirkan daripada terus menghabiskan waktu dan energi membesar-besarkan masalah khilafiyah yang dapat merusak persaudaraan,” pungkasnya. (Sayed M. Husen)