Maksimalkan Ramadhan: Momentum Ampunan dan Kenaikan Derajat

Oleh: Muhammad Yasir Yusuf*
Ramadhan bukan sekadar siklus tahunan yang datang dan pergi. Ia adalah bulan mubarak, bulan ketika Allah melimpahkan keberkahan dan membuka pintu ampunan seluas-luasnya.
Dalam Qur’an Surat Al-Baqarah: 183, Allah menegaskan bahwa kewajiban puasa bukan semata ritual fisik, melainkan jalan menuju takwa—sebuah kualitas spiritual yang membentuk integritas pribadi, etika sosial, bahkan perilaku ekonomi.
Rasulullah ﷺ bersabda, ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu Jahannam ditutup, dan setan-setan dibelenggu.
Ini bukan sekadar metafora, melainkan penegasan bahwa atmosfer spiritual Ramadhan memang dirancang Allah untuk memudahkan manusia kembali kepada-Nya.
Bulan ini menghadirkan peluang emas untuk meraih ampunan. Siapa yang terhalang dari kebaikan Ramadhan, sungguh ia termasuk orang yang merugi.
Dalam hadits lain, ketika Rasulullah ﷺ menaiki mimbar dan mengucapkan “Amin” tiga kali, salah satu doa Malaikat Jibril adalah kecelakaan bagi orang yang mendapati Ramadhan namun tidak memperoleh ampunan.
Pesan ini sangat tegas: Ramadhan adalah momentum penghapusan dosa. Siang dan malamnya dipenuhi rahmat. Dalam riwayat sahih disebutkan, siapa yang berpuasa dan menegakkan malam Ramadhan dengan iman dan ihtisab, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Kisah yang diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah memberikan pelajaran mendalam. Dua sahabat yang gugur sebagai syuhada terlihat dalam mimpi.
Ternyata yang wafat belakangan justru masuk surga lebih dahulu. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa sahabat yang hidup lebih lama itu sempat bertemu Ramadhan, berpuasa dan memperbanyak sujud selama setahun, sehingga derajatnya melampaui yang lebih dahulu syahid.
Kisah ini menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang kenaikan maqam di sisi Allah.
Karena itu, Ramadhan harus disambut dengan persiapan yang sungguh-sungguh.
Pertama, persiapkan hati. Taubat yang tulus, membersihkan niat, dan menata ulang orientasi hidup. Tanpa kesiapan ruhani, Ramadhan hanya akan berlalu sebagai rutinitas tahunan.
Kedua, susun program ibadah. Target tilawah, qiyamullail, sedekah, dan perbaikan akhlak perlu dirancang dengan disiplin.
Spirit Ramadhan harus dikelola sebaik kita mengelola agenda dunia.
Ketiga, siapkan harta terbaik. Ramadhan adalah bulan berbagi. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan instrumen penyucian harta dan penguat solidaritas umat.
Ramadhan adalah sekolah ruhani tahunan. Ia melatih kesabaran, kejujuran, dan kepedulian. Jangan sampai kita hanya memperoleh lapar dan dahaga, tetapi kehilangan ampunan dan keberkahan.
Mari maksimalkan setiap detiknya—karena belum tentu kita berjumpa Ramadhan berikutnya. Selamat berpuasa.
Semoga kita meraih kemuliaan dan termasuk golongan muttaqin.
*Penulis adalah akademisi dan da’i di Banda Aceh