Ramadhan dan Pewarisan Keshalihan Ayah Bunda

Oleh: Muhammad Yasir Yusuf
Ramadhan adalah madrasah ketakwaan. Setiap tahun ia datang menyapa, membersihkan jiwa, menundukkan hawa nafsu, dan melatih kita menjadi pribadi yang shaleh.
Namun pertanyaan reflektif yang patut kita ajukan: sudah berapa lama kita berpuasa dan sudah seberapa besar keshalihan itu berbuah kebaikan di lingkungan sosial kita, lebih sempit dalam keluarga kita?
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah proses pembentukan karakter. Allah menegaskan tujuan puasa adalah la‘allakum tattaqun—agar kamu menjadi orang yang bertakwa.
Ketakwaan itu tidak berhenti pada sajadah dan tasbih, tetapi menembus ruang keluarga dan masyarakat. Ia tampak pada kejujuran dalam bekerja, kepedulian terhadap fakir miskin, serta kelembutan dalam memimpin rumah tangga.
Dalam konteks keluarga, Ramadhan menghadirkan peran strategis seorang ayah dan bunda. Ayah bukan hanya pencari nafkah, Bunda bukan hanya berfungsi menyiapkan santapan sahur dan berbuka, tetapi Ayah dan Bunda adalah pewaris nilai.
Keshalihan yang diraih selama Ramadhan harus diwariskan, bukan hanya dirasakan secara personal. Pewarisan ini bersifat vertikal dan horizontal.
Vertikal, karena ayah dan bunda menanamkan tauhid, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, membiasakan anak dengan shalat berjamaah, tilawah, dan doa.
Horizontal, karena ayah dan bunda menanamkan empati sosial—mengajak anak berbagi, menyantuni yang lemah, serta menjaga adab dalam pergaulan.
Sudah berapa kali Ramadhan kita lalui? Puluhan mungkin. Tetapi jika setelah sekian tahun anak-anak kita tidak semakin dekat dengan masjid, tidak semakin lembut hatinya terhadap sesama, maka ada yang belum tuntas dalam proses pewarisan itu.
Keshalihan yang tidak diwariskan akan berhenti sebagai pengalaman pribadi, bukan peradaban keluarga.
Al-Qur’an merekam doa para hamba yang bertakwa: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Doa ini mengandung visi lintas generasi. Ayah dipanggil untuk menjadi imam, bukan sekadar figur simbolik. Ia memimpin dengan teladan, bukan hanya dengan instruksi.
Bunda dengan kerahimannya mengajarkan kepedulian, kasih sayang dan saling menghormati sesama.
Ramadhan menyediakan ruang terbaik untuk itu. Momen sahur bersama, berbuka dengan doa, tarawih berjamaah, hingga i’tikaf di sepuluh malam terakhir adalah ruang pembentukan memori spiritual anak.
Dari sana lahir ikatan emosional dan nilai yang mengakar kuat.
Keshalihan ayah dan bunda adalah investasi jangka panjang. Ia melahirkan anak-anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
Inilah makna pewarisan sejati: ketika nilai-nilai Ramadhan hidup dalam diri anak-anak kita, bahkan setelah kita tiada.
Maka, jadikan Ramadhan bukan hanya momentum perbaikan diri, tetapi momentum membangun mata rantai keshalihan. Sebab keluarga yang shaleh adalah fondasi masyarakat yang berkah.