Masjid Raya Baiturrahman Jadi Magnet Ramadan, Ikon Spiritualitas Aceh Tetap Memukau

Pemandangan halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dengan payung elektrik yang sedang mengembang. Masjid bersejarah ini tetap menjadi pusat peradaban dan tujuan utama jemaah dari berbagai penjuru dunia saat memasuki bulan suci Ramadan. (Foto: Dok. Istimewa)

Banda Aceh, Infoaceh.net – Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh tetap menjadi pusat spiritual sekaligus kebanggaan masyarakat Aceh.

Menjelang berbagai agenda keagamaan, masjid bersejarah yang selamat dari bencana tsunami 2004 ini terus dipoles melalui perawatan fasilitas modern sehingga tetap tampil megah sebagai salah satu destinasi wisata religi unggulan di Asia Tenggara.

Didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada 1612, Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol sejarah panjang peradaban Islam di Aceh.

Bangunan masjid mencerminkan kekuatan tradisi dan keimanan masyarakat Aceh yang terjaga hingga kini.

Keunikan masjid terlihat dari perpaduan arsitektur klasik dengan teknologi modern. Halaman masjid dilengkapi 12 unit payung elektrik raksasa yang terinspirasi dari desain Masjid Nabawi di Madinah.

Fasilitas tersebut berfungsi sebagai peneduh otomatis bagi jemaah, sehingga area pelataran tetap nyaman digunakan untuk beribadah meskipun cuaca panas.

Pemerintah Aceh terus melakukan pemeliharaan rutin terhadap infrastruktur masjid guna menjaga kenyamanan jemaah. Perawatan difokuskan pada perbaikan sistem mekanik payung elektrik serta pemolesan lantai marmer di area masjid agar tetap bersih dan terawat.

Pengelola masjid menegaskan Masjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu ikon utama Aceh sehingga kualitas fasilitas harus dijaga dengan baik, mulai dari pencahayaan hingga sistem pengeras suara, agar mampu melayani jemaah secara optimal.

Selain dikenal karena kemegahannya, Masjid Raya Baiturrahman juga memiliki nilai historis yang kuat.

Bangunan ini menjadi simbol keteguhan masyarakat Aceh setelah tetap berdiri kokoh ketika tsunami melanda Banda Aceh pada 2004, sementara banyak bangunan di sekitarnya hancur.

Dengan kapasitas mencapai sekitar 24.000 jemaah, Masjid Raya Baiturrahman terus berperan sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus landmark utama Serambi Mekkah yang memadukan sejarah, keindahan arsitektur, dan nilai spiritual dalam satu kawasan.