Program MBG Tetap Jalan di Aceh Selama Ramadhan, Dibagikan Sore Saat Tidak Ada Siswa di Sekolah

Banda Aceh, Infoaceh.net — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Aceh tetap dilaksanakan selama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, meski sebelumnya diminta untuk dihentikan sementara oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.Kebijakan tersebut memicu perdebatan di tengah masyarakat, terutama terkait mekanisme distribusi dan efektivitas pelaksanaannya selama bulan puasa.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, makanan MBG tidak lagi dibagikan pada pagi atau siang hari seperti biasanya, melainkan diantar ke sekolah pada sore hari saat siswa sudah tidak lagi berada di lingkungan sekolah.
Para guru kemudian menyampaikan pemberitahuan kepada siswa agar orang tua atau wali datang ke sekolah untuk mengambil paket makanan tersebut.
Salah satu pengumuman resmi yang beredar di sekolah-sekolah di Banda Aceh menyebutkan: dalam rangka mendukung program pemerintah melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan ini kami informasikan bahwa distribusi makanan bergizi gratis selama bulan Ramadhan akan dilaksanakan pada sore hari pukul 16.00 WIB s/d 17.30 WIB
Diminta MPU Aceh Hentikan Sementara
Sebelumnya, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh meminta agar program MBG dihentikan sementara selama Ramadhan dengan pertimbangan menjaga kekhusyukan ibadah puasa serta menyesuaikan pola konsumsi masyarakat yang berubah signifikan pada bulan tersebut.
Sejumlah kalangan menilai pembagian makanan di siang hari berpotensi menimbulkan polemik.
Namun pemerintah tetap menjalankan program tersebut dengan skema penyesuaian waktu distribusi pada sore hari, mendekati waktu berbuka.
Meski distribusi dilakukan sore hari, fakta di lapangan menunjukkan tidak semua orang tua datang mengambil jatah MBG. Beberapa guru mengakui hanya sebagian kecil wali murid yang hadir ke sekolah sesuai jadwal yang ditentukan.
“Sudah kami informasikan melalui grup kelas dan surat edaran, tapi memang tidak semua orang tua bisa datang. Ada yang bekerja, ada juga yang rumahnya cukup jauh,” ujar seorang guru di Banda Aceh yang enggan disebutkan namanya.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas distribusi MBG selama Ramadhan. Sebab, berbeda dengan hari biasa ketika makanan langsung dikonsumsi siswa di sekolah, kini pengambilan bergantung sepenuhnya pada inisiatif orang tua.
Selain soal teknis distribusi, muncul pula kekhawatiran terkait kualitas makanan.
Untuk efisiensi, jatah MBG hari Senin, Selasa dan Rabu diserahkan sekaligus pada hari Senin (23/2/2026).
Dalam setiap paket, terdapat telur rebus yang menjadi menu rutin harian.
Pertanyaan pun mencuat: apakah telur rebus yang dikonsumsi hingga tiga hari setelah direbus masih bergizi dan layak makan?
Secara umum, telur rebus yang disimpan dalam kondisi utuh dan diletakkan di lemari pendingin dapat bertahan hingga satu pekan.
Namun, jika disimpan pada suhu ruang — terlebih dalam kondisi cuaca panas — daya tahannya jauh lebih singkat, sekitar satu hingga dua hari.
Dari sisi kandungan gizi, protein dalam telur tidak serta-merta hilang dalam tiga hari. Namun kualitas dan keamanan pangan sangat bergantung pada cara penyimpanan.
Jika rantai pendinginan tidak terjaga, risiko kontaminasi bakteri seperti Salmonella dapat meningkat.
Seorang ahli gizi di Banda Aceh menjelaskan bahwa untuk menjaga keamanan, telur rebus sebaiknya segera disimpan dalam suhu dingin setelah matang.
“Kalau langsung dibagikan untuk tiga hari tanpa penyimpanan yang baik, tentu perlu menjadi perhatian,” ujarnya.
Program MBG sendiri merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah. Namun pelaksanaannya di Aceh selama Ramadhan menunjukkan adanya tantangan teknis dan sosial yang perlu dievaluasi.
Di satu sisi, pemerintah berupaya menjaga keberlanjutan program. Di sisi lain, aspirasi ulama dan efektivitas distribusi di lapangan menjadi faktor penting yang tak bisa diabaikan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi terbaru dari pihak terkait mengenai kemungkinan evaluasi atau penyesuaian lanjutan terhadap mekanisme distribusi MBG selama Ramadhan di Aceh.