Jangan Merasa Paling Benar, Prof Syamsul Rijal Ingatkan Bahaya ‘Merasa Punya Kunci Surga’

BANDA ACEH, Infoaceh.net — Ketua Program Studi S3 Studi Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Syamsul Rijal MAg, mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak pada sikap merasa paling benar dalam beragama, apalagi hingga seolah-olah memegang “kunci surga” dan mudah menghakimi orang lain.
Pesan tersebut ia sampaikan dalam ceramah tarawih di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Rabu malam, 25 Februari 2026.
Di hadapan jamaah, Prof Syamsul menegaskan Ramadan sejatinya adalah ruang transformasi diri dan penyucian hati. Ibadah puasa, menurutnya, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk karakter yang rendah hati dan penuh empati.
“Agama tidak mengajarkan kita menjadi hakim atas orang lain. Tugas kita adalah memperbaiki diri, bukan sibuk menilai siapa yang paling dekat dengan surga,” ujarnya.
Ia menyoroti fenomena sebagian orang yang merasa paling lurus dalam memahami ajaran agama, lalu dengan mudah menyalahkan dan merendahkan pihak lain.
Sikap tersebut, katanya, justru bertentangan dengan semangat Islam yang mengedepankan kasih sayang dan kelembutan.
Prof Syamsul mengutip Surah Taha sebagai pelajaran penting tentang etika dakwah.
Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk berbicara dengan lemah lembut bahkan kepada Fir’aun.
“Kalau kepada Fir’aun saja diperintahkan berkata lembut, apalagi kepada sesama Muslim dan sesama manusia,” katanya.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahaya riya dan kesombongan dalam beribadah. Amal yang dilakukan dengan motif ingin dipuji atau merasa lebih suci, menurutnya, dapat menggerus nilai keikhlasan.
Ia turut menyinggung sabda Nabi Muhammad SAW tentang adanya orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa selain rasa lapar dan haus.
Hal itu menjadi peringatan bahwa esensi Ramadan terletak pada perubahan akhlak dan kebersihan hati.
Dalam kesempatan itu, Prof Syamsul mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum refleksi diri, sebagaimana doa Nabi Yunus AS ketika berada dalam perut ikan—sebuah pengakuan atas kelemahan diri dan kepasrahan kepada Allah.
“Ramadan harus meninggalkan jejak dalam perilaku kita. Bukan hanya pada ibadah ritual, tetapi juga pada cara kita memperlakukan orang lain,” pungkasnya.