Ayatollah Ali Khamenei Gugur Dibom AS–Israel, Iran Berkabung 40 Hari

Teheran, Infoaceh.net — Pemerintah Iran resmi mendeklarasikan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, dinyatakan gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Media semi-pemerintah Iran, Fars News Agency, yang dikutip Al Jazeera, melaporkan bahwa selain masa berkabung 40 hari, pemerintah juga menetapkan tujuh hari libur nasional sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Konfirmasi wafatnya Khamenei juga disampaikan oleh stasiun televisi pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB).

“Pemimpin Tertinggi Iran telah syahid,” demikian pernyataan yang disiarkan IRIB pada Ahad (1/3).

Pengumuman dari media pemerintah Iran itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka mengklaim bahwa Khamenei tewas dalam operasi militer bersama kedua negara tersebut.

“Ali Khamenei sudah tewas. Ini adalah peluang tunggal terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka,” ujar Trump dalam pernyataannya pada Sabtu.

Serangan besar-besaran yang disebut menargetkan kompleks kediaman Khamenei itu dilaporkan turut menewaskan sejumlah anggota keluarganya, termasuk anak perempuan, cucu, dan menantu.

Selain itu, beberapa pejabat tinggi militer Iran juga dilaporkan gugur, di antaranya Menteri Pertahanan Amir Hatami serta Komandan Angkatan Bersenjata Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohammed Pakpour.

Secara keseluruhan, gempuran tersebut disebut menyebabkan sedikitnya 201 orang tewas dan 747 lainnya mengalami luka-luka, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan dalam sejarah konflik terbaru di Timur Tengah.

Meski serangan itu telah menimbulkan kerusakan besar dan korban jiwa signifikan, Trump dan Netanyahu dikabarkan menyatakan operasi militer akan terus berlanjut hingga terjadi perubahan rezim di Iran.

Situasi ini memicu ketegangan hebat di kawasan Timur Tengah dan menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.

Sejumlah negara dilaporkan mulai menyerukan de-eskalasi dan penyelesaian melalui jalur diplomasi guna mencegah perang terbuka yang lebih besar.