Kisah Ahmed, Mahasiswa Kedokteran USK asal Palestina Terpikat Hangatnya Ramadan di Aceh

Banda Aceh, Infoaceh.net – Menempuh pendidikan ribuan kilometer dari tanah kelahirannya di Palestina menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Ahmed M. A. Aburokba.

Mahasiswa internasional di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh ini mengaku menemukan kehangatan dan ketenangan spiritual selama tinggal di Aceh, khususnya saat bulan suci Ramadan.

Sudah hampir setahun Ahmed menetap di Bumi Serambi Mekkah. Bagi mahasiswa kedokteran itu, Ramadan di Aceh menghadirkan suasana yang berbeda dan begitu berkesan.

Ia merasakan perpaduan antara ketenangan spiritual dan kuatnya kebersamaan masyarakat dalam menjalankan ibadah.

“Saya merasakan kenyamanan yang luar biasa. Suasana Ramadan di Aceh sangat spiritual, tenang, tetapi juga penuh energi kebersamaan. Masyarakatnya sangat aktif menghidupkan masjid dan memiliki tradisi berbagi makanan berbuka yang sangat menyentuh,” kata Ahmed, Senin (9/3).

Sebagai mahasiswa kedokteran, Ahmed harus menjalani jadwal kuliah yang padat, diskusi kelompok, hingga berbagai tugas akademik. Menjalani semua itu di tengah ibadah puasa tentu bukan hal mudah.

Ia mengakui, manajemen waktu antara belajar, ibadah dan aktivitas sehari-hari menjadi tantangan tersendiri.

Namun menurutnya, pengalaman tersebut justru membentuk kedisiplinan dan ketahanan diri.

Tantangan terbesar justru ia rasakan saat pertama kali tiba di Aceh setahun lalu.

Perbedaan budaya, bahasa, hingga lingkungan baru sempat membuatnya harus beradaptasi dengan cepat.

“Awalnya cukup menantang karena saya harus menyesuaikan diri dengan budaya dan bahasa. Tapi keramahan masyarakat Aceh membuat saya merasa sangat diterima,” ujarnya.

Selama Ramadan, Ahmed juga aktif menikmati berbagai tradisi lokal. Ia kerap mengikuti buka puasa bersama (iftar), menunaikan salat Tarawih berjamaah di masjid, hingga berburu takjil di bazar Ramadan yang ramai setiap sore.

Bagi Ahmed, momen-momen sederhana itu menjadi cara terbaik untuk memahami kehidupan masyarakat Aceh dari dekat.

Tak hanya budaya, kuliner Aceh juga berhasil memikat lidahnya. Dari berbagai hidangan yang ia coba, satu menu menjadi favoritnya.

“Mie Aceh goreng adalah favorit saya. Rasanya sangat khas, kuat, dan lezat,” katanya sambil tersenyum.

Pengalaman menjalani Ramadan di Aceh menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Ahmed selama menempuh pendidikan di Indonesia.

Selain menimba ilmu kedokteran di USK, ia juga merasakan langsung nilai kebersamaan, keramahan, dan kehidupan religius masyarakat Aceh.

Kehadiran mahasiswa internasional seperti Ahmed juga menjadi bukti bahwa Universitas Syiah Kuala semakin dikenal sebagai kampus yang terbuka dan inklusif di tingkat global, tempat ilmu pengetahuan bertemu dengan nilai-nilai kemanusiaan dan religiusitas.