Orang Berpuasa Itu Jujur Meski Tak Ada yang Melihat

Aceh Besar, Infoaceh.net — Ibadah puasa tidak hanya mengajarkan umat Islam menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih karakter kejujuran dalam diri setiap muslim.

Kejujuran menjadi salah satu nilai utama yang dibentuk melalui ibadah puasa, karena orang yang berpuasa tetap menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa meskipun tidak ada orang lain yang melihat.

Pimpinan Dayah Khamsatu Anwar Deunong, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Dr Tgk H Sirajuddin Saman MA menyampaikan hal tersebut dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Hidayah Dusun Meusara Agung, Gampong Gue Gajah,Jum’at  (13/3/2026), bertepatan dengan 23 Ramadhan 1447 Hijriah.

Dalam khutbahnya, Tgk Sirajuddin menjelaskan bahwa kejujuran merupakan akhlak mulia yang menjadi ciri khas Nabi Muhammad SAW. Karena itu, setiap muslim dianjurkan meneladani sifat tersebut agar mendapatkan cinta Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 70 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kejujuran harus diwujudkan tidak hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Menurutnya, kejujuran orang yang berpuasa merupakan sesuatu yang luar biasa. Seorang muslim mampu menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, baik saat berada bersama orang lain maupun ketika sendirian tanpa pengawasan siapa pun.

“Semua itu dilakukan karena iman dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta keyakinan bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan hamba-Nya,” ujarnya.

Tgk Sirajuddin mengajak umat Islam untuk merenungkan sejauh mana nilai kejujuran yang dilatih melalui ibadah puasa telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam menjalankan amanah di tempat kerja serta dalam mencari penghasilan yang halal.

Dalam khutbah tersebut, ia juga mengisahkan teladan kejujuran pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Suatu ketika, Umar bertemu dengan seorang budak yang sedang menggembalakan domba milik tuannya di pinggiran Kota Madinah.

Untuk menguji kejujuran budak tersebut, Umar berpura-pura ingin membeli seekor domba dari gembala itu. Namun budak tersebut menolak menjualnya karena domba itu bukan miliknya.

Bahkan ketika Umar menyarankan agar ia menjual satu ekor domba dan mengatakan kepada tuannya bahwa domba tersebut dimakan serigala, budak itu tetap menolak dan berkata, “Walaupun tuanku tidak mengetahui, tetapi Allah Maha Mengetahui.”

Jawaban tersebut membuat Khalifah Umar tertegun dan kagum terhadap keteguhan iman serta kejujuran budak tersebut.

Menurut Tgk Sirajuddin, kisah tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kejujuran merupakan pondasi iman yang sangat kuat. Sifat ini akan menyelamatkan seseorang dari berbagai keburukan dan azab, baik di dunia maupun di akhirat.

Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk melatih diri agar senantiasa berlaku jujur, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

“Jika kejujuran benar-benar tertanam dalam diri kita, maka insya Allah kita akan meraih predikat takwa yang merupakan tujuan utama dari ibadah puasa,” katanya.

Pada bagian lain khutbahnya, Tgk Sirajuddin juga mengingatkan bahwa umat Islam kini telah memasuki hari-hari terakhir bulan suci Ramadhan. Karena itu, setiap muslim perlu melakukan refleksi terhadap kualitas ibadah yang telah dijalankan selama bulan penuh berkah ini.

“Tanpa terasa kita sudah memasuki hari ke-23 Ramadhan. Tidak lama lagi bulan yang penuh berkah ini akan meninggalkan kita. Pertanyaannya, sudahkah puasa yang kita jalani berhasil membentuk kepribadian kita menjadi lebih baik,” pungkasnya.