Tiap Hari Ramadhan, Allah Bebaskan 60 Ribu Hamba-Nya dari Api Neraka

Banda Aceh, Infoaceh.net — Bulan suci Ramadhan tidak hanya dikenal sebagai bulan puasa, tetapi juga bulan penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka (itqum minan naar).

Setiap malam di bulan yang mulia ini, Allah SWT memberikan kesempatan luar biasa kepada hamba-Nya untuk memperoleh pengampunan dan keselamatan di akhirat.

Pesan penuh harapan itu disampaikan oleh Ustaz H Mursalin Basyah Lc MA dalam ceramah Ramadhan sebelum pelaksanaan shalat Tarawih di Masjid Oman Al-Makmur Lampriet, Banda Aceh, Ahad malam (15/3/2026).

Di hadapan jamaah yang memadati masjid tersebut, ia mengingatkan bahwa Ramadhan adalah momentum spiritual yang sangat langka.

Dalam berbagai riwayat hadits disebutkan bahwa Allah SWT membebaskan puluhan ribu hamba-Nya dari api neraka setiap malam sepanjang bulan Ramadhan.

Menurutnya, dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa setiap malam Ramadhan Allah membebaskan 60 ribu orang dari api neraka.

Bahkan pada malam terakhir Ramadhan, Allah membebaskan hamba-hamba-Nya sebanyak jumlah orang yang telah dibebaskan sejak malam pertama hingga malam terakhir.

“Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah di bulan Ramadhan. Setiap malam ada hamba yang diselamatkan dari siksa neraka. Maka sangat rugi jika kita melewati bulan ini tanpa memperbanyak ibadah,” ujar Ustaz Mursalin yang juga Wakil Ketua Himpunan Ulama Dayah (HUDA) Banda Aceh ini.

Ia menjelaskan, meskipun terdapat variasi jumlah dalam sejumlah literatur hadis, inti dari pesan tersebut adalah bahwa Ramadhan merupakan bulan pengampunan yang sangat besar.

Allah membuka pintu rahmat selebar-lebarnya bagi siapa saja yang sungguh-sungguh mendekatkan diri kepada-Nya.

Menurutnya, kesempatan ini seharusnya menjadi motivasi bagi setiap Muslim untuk memperbaiki kualitas ibadah, memperbanyak doa, serta memperkuat hubungan dengan sesama manusia.

“Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah kesempatan untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan juga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia,” jelas Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) ini.

Ia juga mengingatkan bahwa salah satu waktu yang sangat mustajab untuk berdoa adalah menjelang berbuka puasa.

Pada saat itu, seorang hamba dianjurkan memohon ampunan kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.

“Banyak orang fokus pada hidangan berbuka, padahal menjelang berbuka adalah waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Gunakan waktu itu untuk memohon ampunan dan keselamatan dari api neraka,” katanya.

Ramadhan dan Spirit Saling Memaafkan

Dalam ceramahnya, Ustaz Mursalin juga menekankan pentingnya sikap saling memaafkan di antara sesama manusia.

Ia mengingatkan bahwa pengampunan dari Allah harus diiringi dengan kesediaan manusia untuk memaafkan kesalahan orang lain.

Menurutnya, nilai tersebut tercermin dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah An-Nur ayat 22, yang mengajarkan umat Islam untuk tetap berbuat baik kepada kerabat, orang miskin, dan mereka yang membutuhkan, meskipun pernah disakiti.

Ayat tersebut berbunyi: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini, katanya, mengandung pesan moral yang sangat kuat: seseorang yang berharap mendapatkan ampunan dari Allah harus terlebih dahulu belajar memaafkan sesama manusia.

“Kalau kita ingin diampuni Allah, maka kita juga harus belajar memaafkan orang lain. Jangan simpan dendam. Jangan simpan kebencian. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk membersihkan hati,” tuturnya.

Lebih jauh, ia mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan diri. Bukan sekadar menjalankan ritual tahunan, tetapi sebagai proses memperbaiki akhlak, memperkuat keimanan, dan memperbanyak amal kebajikan.

Menurutnya, banyak orang yang rajin beribadah di bulan Ramadhan, tetapi setelah bulan tersebut berakhir, semangat ibadah kembali menurun.

Padahal, nilai utama Ramadhan adalah membentuk karakter takwa yang berkelanjutan.

“Ramadhan adalah madrasah spiritual. Di bulan ini kita dilatih jujur, sabar, dan disiplin. Jika latihan ini berhasil, maka setelah Ramadhan selesai kita akan menjadi pribadi yang lebih baik,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kesempatan Ramadhan tidak selalu datang setiap tahun bagi setiap orang. Karena itu, setiap Muslim harus memanfaatkan bulan ini sebaik mungkin.

“Tidak ada yang tahu apakah kita akan bertemu Ramadhan tahun depan atau tidak. Maka manfaatkan Ramadhan tahun ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Menutup ceramahnya, Ustaz Mursalin mengingatkan jamaah agar tidak menyia-nyiakan bulan suci ini. Ramadhan, katanya, adalah kesempatan emas yang diberikan Allah untuk memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat.

“Jika setiap malam ada 60 ribu orang yang dibebaskan dari api neraka, maka kita harus bertanya kepada diri sendiri: apakah kita termasuk di dalamnya?” ucapnya.

Pertanyaan tersebut membuat suasana masjid sejenak hening. Banyak jamaah yang tampak merenung, menyadari bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi kesempatan luar biasa untuk meraih keselamatan di akhirat.

Karena itu, ia mengajak umat Islam memperbanyak ibadah seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, bersedekah, memperbanyak istighfar, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

“Ramadhan adalah bulan rahmat. Jangan sampai ia datang lalu pergi tanpa meninggalkan perubahan dalam diri kita,” pungkasnya.