JKA Penggerak Ekonomi Rakyat Aceh, Pembatasan Bisa Picu Kemiskinan Massal

BANDA ACEH, Infoaceh.net – Wacana pembatasan layanan dalam program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) dinilai berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kondisi sosial-ekonomi masyarakat.
Program yang selama ini menjadi andalan warga untuk mengakses layanan kesehatan gratis tersebut disebut bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan pilar penting dalam menjaga stabilitas ekonomi rakyat.
Analis kebijakan publik, Dr. Nasrul Zaman MKes menegaskan bahwa keberadaan JKA telah memberikan efek berantai yang signifikan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga di Aceh.
Ia menilai, cara pandang yang menempatkan JKA hanya sebagai beban anggaran Pemerintah Aceh merupakan kekeliruan yang bisa berujung pada kebijakan yang merugikan masyarakat luas.
“JKA itu bukan sekadar program kesehatan. Ia adalah penggerak ekonomi rakyat. Ketika akses layanan kesehatan terjamin, masyarakat bisa bekerja dengan tenang tanpa dihantui ketakutan terhadap biaya berobat yang mahal,” ujar Nasrul Zaman, Jum’at (3/4).
Menurutnya, dalam kondisi tanpa jaminan kesehatan yang kuat, masyarakat cenderung menahan konsumsi dan menyimpan dana sebagai cadangan menghadapi risiko sakit.
Hal ini, kata dia, secara tidak langsung menghambat perputaran ekonomi di tingkat lokal.
Sebaliknya, dengan adanya JKA, masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk mengalokasikan pendapatan mereka ke sektor yang produktif, seperti pendidikan anak, pengembangan usaha kecil, hingga konsumsi yang mendorong aktivitas pasar.
“Ini yang sering tidak dihitung. Uang yang tadinya ‘diparkir’ untuk berjaga-jaga biaya rumah sakit, kini bisa diputar di ekonomi. Itu artinya JKA juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya.
Namun demikian, Nasrul mengingatkan bahwa setiap bentuk pembatasan terhadap program JKA berpotensi mengganggu keseimbangan tersebut.
Ia bahkan menyebut, kebijakan yang mempersempit akses layanan kesehatan bisa menjadi pemicu meningkatnya angka kemiskinan secara signifikan.
“Bayangkan satu keluarga yang sedang berusaha bangkit secara ekonomi. Ketika salah satu anggota keluarganya sakit dan harus mengeluarkan biaya besar, semua usaha itu bisa runtuh seketika. Mereka bisa menjual aset, berutang, dan akhirnya kembali jatuh miskin,” katanya.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai “jebakan kemiskinan” yang selama ini coba diputus melalui kehadiran JKA. Jika program ini dilemahkan, maka siklus tersebut berisiko kembali terulang secara luas di tengah masyarakat.
“Pembatasan JKA bukan sekadar penghematan anggaran, tapi bisa menjadi pintu masuk bagi kemiskinan massal. Ini yang harus dipahami oleh para pengambil kebijakan,” tegas Nasrul.
Lebih jauh, ia menilai bahwa pembangunan yang berorientasi pada manusia seharusnya menempatkan sektor kesehatan sebagai prioritas utama.
Dalam konteks tersebut, JKA harus dilihat sebagai investasi jangka panjang yang memberikan manfaat besar, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi perekonomian daerah secara keseluruhan.
“Produktivitas masyarakat tidak akan tumbuh jika mereka terus hidup dalam ketidakpastian. Rasa aman terhadap kesehatan adalah fondasi dasar untuk mendorong aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Nasrul Zaman juga mendorong pemerintah agar lebih bijak dalam merumuskan kebijakan terkait JKA.
Alih-alih melakukan pembatasan, ia menyarankan perbaikan tata kelola dan efisiensi anggaran tanpa mengorbankan hak dasar masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan.
“Kalau ada persoalan anggaran, yang dibenahi adalah sistemnya, bukan mengurangi hak rakyat. Jangan sampai solusi yang diambil justru menimbulkan masalah yang jauh lebih besar di kemudian hari,” pungkasnya.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang masih dihadapi masyarakat, keberlanjutan JKA untuk seluruh penduduk Aceh dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga daya tahan ekonomi rakyat Aceh.
Tanpa perlindungan kesehatan yang memadai, risiko guncangan ekonomi di tingkat rumah tangga akan semakin besar—dan pada akhirnya bisa berdampak luas terhadap kondisi sosial secara keseluruhan.