Nyak Sandang, Donatur Pembelian Pesawat Pertama RI Asal Aceh Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun

Aceh Jaya, Infoaceh.net – Kabar duka menyelimuti Tanah Rencong. Salah satu tokoh bersejarah yang berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Teungku Nyak Sandang, meninggal dunia pada Selasa (7/4/2026) sekitar pukul 12.20 Wib di kediamannya di Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. Ia wafat dalam usia 100 tahun.
Cucu Nyak Sandang, Attahilah membenarkan kabar duka tersebut. Almarhum meninggal tepat di usia 100 tahun di kediamannya.
“Benar, almarhum meninggal dunia tadi pukul 12:20 WIB,” katanya saat dikonfirmasi
Diketahui Nyak Sandang tahun lalu baru saja mendapat penghargaan dari Presiden Prabowo yaitu Bintang Jasa Utama atas jasa besarnya menyumbang tanah dan emas untuk pembelian pesawat pertama Indonesia, Seulawah RI-001 saat masa kemerdekaan.
Nyak Sandang saat itu masih berusia 23 tahun dan menyumbang sepetak tanah dengan luas di dalamnya 40 batang kelapa dan dijual seharga Rp 100 perak dan sumbangan emas 10 gram pada tahun 1950
Kepergian Nyak Sandang menjadi kehilangan mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa Indonesia yang pernah merasakan manfaat dari pengorbanannya.
Nyak Sandang dikenal sebagai salah satu penyumbang dalam pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, Seulawah RI-001, yang menjadi tonggak awal lahirnya maskapai nasional Garuda Indonesia.
Kontribusinya menjadi simbol nyata bagaimana rakyat kecil ikut mengambil peran besar dalam mempertahankan kemerdekaan.
Sekitar tahun 1950, di tengah kondisi negara yang masih berjuang pasca kemerdekaan, Nyak Sandang yang saat itu berusia 23 tahun bersama ayahnya menjual sepetak sawah miliknya. Tanah tersebut sejatinya bernilai Rp200, namun dijual cepat seharga Rp100 demi segera menyumbangkan dana untuk pembelian pesawat perjuangan.
Penggalangan dana itu berawal dari seruan Gubernur Aceh sekaligus Gubernur Militer saat itu, Abu Daud Beureueh, yang menyampaikan pidato penuh semangat di halaman masjid di Calang, Aceh Jaya.
Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya Indonesia memiliki pesawat untuk menjalin hubungan dengan dunia luar.
Seruan tersebut kemudian diperkuat oleh ulama kharismatik setempat, Muhammad Idarus atau yang dikenal sebagai Abu Sabang. Ajakan ulama ini disambut antusias masyarakat, termasuk Nyak Sandang yang dengan ikhlas menyerahkan hasil penjualan tanahnya.
“Ini kebanggaan bagi saya bisa membantu negara. Saya ikhlas, tidak mengharap apa-apa,” kenang Nyak Sandang dalam sebuah wawancara beberapa tahun silam.
Sebagai bukti kontribusi, ia menerima obligasi dari pemerintah, meskipun janji imbalan yang disampaikan saat itu tak pernah menjadi tujuan utamanya.
Selain menyumbang, Nyak Sandang juga aktif dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Ia bertugas sebagai pasukan pengintai di wilayah pesisir Aceh Jaya. Dari pos pengamatannya, ia memantau pergerakan kapal Belanda dan memberikan informasi kepada pasukan yang bertahan di kawasan Puncak Gureutee.
Peran tersebut sangat krusial dalam menjaga pertahanan wilayah dari serangan musuh di masa agresi militer.
Kisah perjuangan Nyak Sandang sempat viral pada tahun 2018 dan mengundang perhatian Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Ia diundang ke Istana Negara dan menyampaikan tiga permintaan sederhana: operasi katarak, pembangunan masjid di kampungnya, serta kesempatan menunaikan ibadah haji atau umrah. Ketiganya kemudian dikabulkan oleh pemerintah.
Penghargaan tertinggi atas jasanya datang pada tahun 2025, saat Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Jasa Utama.
Dalam momen haru di Istana Negara, penghargaan tersebut disematkan langsung sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya terhadap kemerdekaan dan kemandirian bangsa.
Kepergian Nyak Sandang meninggalkan jejak keteladanan yang tak ternilai. Di tengah keterbatasan, ia menunjukkan bahwa cinta tanah air tidak diukur dari besarnya harta, melainkan dari keikhlasan berkorban.
Dari sepetak sawah di pelosok Aceh, lahir kontribusi besar yang membantu Indonesia terbang tinggi sebagai negara merdeka.
Kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa sejarah bangsa ini dibangun oleh tangan-tangan tulus rakyatnya.
Selamat jalan, Nyak Sandang. Jasamu akan selalu dikenang dalam sejarah Indonesia.