Cumlaude! Herman RN Raih Doktor IPS USK, Tawarkan ‘Mbong’ Model Mitigasi Konflik Aceh

Banda Aceh, Infoaceh.net —Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK) yang juga budayawan Aceh, Herman RN, berhasil menyelesaikan studi doktoral pada Program Studi Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (DPIPS) Pascasarjana USK.

Kelulusan tersebut diumumkan dalam sidang promosi doktoral DPIPS, Selasa (21/4/2026) di Auditorium Pascasarjana USK.

Sidang promosi doktoral Herman RN diuji oleh beberapa profesor dari lintas peguruan tinggi.

Penguji ekseternal oleh Prof Dr Irwan Abdullah dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Dua penguji konsentrasi masing-masing Guru Besar USK, Prof Dr Rusli Yusuf MPd dan Guru Besar UIN Ar-Raniry, Prof Dr Misri A Muchsin MAg.

Herman RN dinyatakan lulus sebagai doktor dengan IPK 3.95 dengan masa studi 2 tahun 9 bulan. Pernyataan kelulusan tersebut dibacakan Wakil Rektor Akademik USK, Prof Dr Ir Agussabti MSi yang bertindak sebagai pimpinan sidang pada hari itu.

“Dengan kelulusan ini, Saudara berhak menyandang gelar Doktor, dengan tulisan D besar R kecil,” ujar Prof Agussabti dalam amaran penutupan sidang tersebut.

Penguji lainnya adalah para promotor dan kopromotor yang terdiri atas Prof Dr Drs Yusri Yusuf MPd dari FKIP USK, Dr Masrizal MA dari FISIP USK, dan Dr Mu’jizah MHum dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Jakarta.

Ujian tersebut juga mendapatkan sejumlah pertanyaan dari ketua tim penguji, Prof Dr Ir Agussabti MSi dan sekretaris tim penguji yang juga Wakil Direktur Akademik Pascasarjana USK, Dr Ir M Ikhsan Sulaiman MSc.

Semua pertanyaan para penguji dijawab dan diselesaikan oleh Herman dengan tenang, tegas, dan tangkas.

Pada akhirnya, Herman mendapatkan pujian dan apresiasi dari para penguji karena berhasil merumuskan Acehnese Conflict Mitigation Concept (ACMC) yang merupakan elaboarasi dari teori resolusi konflik Simon Fisher, Ralf Dahrendorf, dan Johan Galtung.

“Ini temuan menarik. Noveltinya jelas dan kuat. Meskipun punya kaitan dengan teori mitigasi konflik ala Eropa, model yang dirumuskan promovendus ini punya ciri khas tersendiri sebagai kearifan lokal Aceh,” ujar Guru Besar UGM, Prof. Irwan Abdullah.

Sementara peneliti utama BRIN, Dr Mu’jizah merasa bangga dapat berkolaborasi dengan Herman RN.

“Penelitian ini telah mempertegas posisi teks sastra sebagai sumber informasi yang relevan,” ujarnya.

Guru Besar UIN Ar-Raniry, Prof Misri, merasa tergelitik dengan klaim ‘Mbong’ sebagai salah satu model mitigasi konflik ke-Acehan. Berulang kali ia mempertanyakan bagaimana ‘Mbong’ dapat dielaborasi sebagai model mitigasi konflik sosial.

Herman RN menjelaskan, “Mbong menjadi model mitigasi konflik bagi lawan, tetapi tidak cocok bagi kawan.”

Menurut Herman, dalam setiap dinamika konflik sosial di Aceh, ‘Mbong’ memiliki posisi kuat sebagai model mitigasi konflik. Secara rinci, Herman pun memberikan contoh berdasarkan kajiannya terhadap hikayat-hikayat perang Aceh.

Sidang promosi tersebut dihadiri keluarga dan sejumlah kolega Herman, antara lain Prof Dr Fuad Mardhatillah, Prof Dr Denni Iskandar, Prof Dr Ramli, Dr Ismail Yarmen Dinamika, Ihan Sunrise dan penyair Wina SW1.