Psikolog UIN Ar-Raniry Ungkap Penyebab Kekerasan di Daycare dan Dampak pada Anak

Banda Aceh, Infoaceh.net — Maraknya kasus kekerasan terhadap anak di tempat penitipan anak (daycare) memicu keprihatinan banyak pihak.

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Iyulen Pebry Zuanny MPsi Psikolog, menilai persoalan tersebut bukan sekadar ulah oknum, melainkan tanda adanya kelemahan sistem dalam pengelolaan daycare.

Menurut Iyulen, kasus kekerasan dan pengabaian terhadap anak di daycare menunjukkan masih rendahnya kualitas pengawasan, kompetensi pengasuh, serta belum optimalnya penerapan aturan perlindungan anak.

“Ini bukan hanya kesalahan individu. Ada persoalan sistemik yang harus segera dibenahi, mulai dari kompetensi pengasuh, pengawasan, hingga aturan yang tidak berjalan maksimal,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Ia menjelaskan, anak usia dini berada pada fase penting dalam membangun rasa aman dan kepercayaan terhadap lingkungan.

Jika pada masa tersebut anak mengalami perlakuan buruk, dampaknya dapat memengaruhi perkembangan psikologis dalam jangka panjang.

“Anak bisa menjadi sulit mengelola emosi, susah percaya pada orang lain, dan perkembangan sosialnya terganggu,” jelasnya.

Iyulen mengimbau para orang tua agar lebih teliti sebelum memilih tempat penitipan anak. Menurutnya, orang tua sebaiknya datang langsung ke lokasi, memperhatikan interaksi pengasuh dengan anak-anak, menanyakan sistem keamanan, serta memastikan prosedur penanganan darurat tersedia.

Selain itu, daycare juga harus memiliki izin resmi, tenaga pengasuh dengan kualifikasi jelas, jumlah staf yang memadai, lingkungan yang bersih dan aman, serta program yang mendukung tumbuh kembang anak.

“Pilih daycare yang bukan hanya menjaga anak, tetapi benar-benar peduli pada hubungan emosional dan perkembangan mereka,” katanya.

Untuk mendeteksi kemungkinan kekerasan, Iyulen menyebut orang tua perlu waspada bila anak mendadak takut, sering menangis, menolak pergi ke daycare, pola makan dan tidur berubah, atau menunjukkan kemunduran perkembangan seperti kembali mengompol.

Pada anak yang belum bisa berbicara, tanda-tanda dapat terlihat dari perilaku seperti tubuh menegang saat bertemu orang tertentu, menangis terus-menerus, adanya luka tidak wajar, menjadi terlalu pendiam, terlalu lengket atau sulit tidur.

Ia menyarankan agar orang tua segera berkonsultasi dengan psikolog jika menemukan gejala tersebut agar dapat dilakukan asesmen lebih lanjut.

Menurut Iyulen, pihak daycare wajib menjadikan keselamatan anak sebagai prioritas utama. Tempat penitipan anak harus memiliki standar perlindungan yang jelas, jumlah pengasuh seimbang dengan jumlah anak, pelatihan rutin bagi staf, sistem pelaporan terbuka, serta lingkungan yang ramah anak.

Ia juga menekankan pentingnya proses rekrutmen pengasuh dilakukan secara ketat melalui tes psikologi, wawancara mendalam, pengecekan latar belakang, tes kemampuan dasar mengasuh, hingga simulasi langsung.

“Pengawasan harus serius dan berlapis, misalnya CCTV yang aktif dipantau, inspeksi mendadak, evaluasi rutin, pengawasan antarpegawai, dan tersedia saluran pengaduan,” pungkasnya.