BPMA Genjot Produksi Migas Blok A, Sumur Julu Rayeu Diaktifkan Kembali

Aceh Timur, Infoaceh.net – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan operasi produksi, pengeboran, work over dan well service Kuartal I Tahun 2026 di Lapangan Blok A, Aceh Timur.
Kegiatan tersebut melibatkan Divisi Operasi Produksi, Divisi Perencanaan Eksplorasi dan Eksploitasi, serta Divisi Teknologi Pengembangan Lapangan BPMA guna memastikan seluruh program dalam Work Program and Budget (WP&B) 2026 berjalan sesuai target.
Evaluasi difokuskan pada sektor operasi produksi, optimalisasi fasilitas produksi, kegiatan pengeboran, hingga work over dan well service.
Penilaian mencakup aspek keselamatan kerja, ketepatan pelaksanaan program, serta capaian produksi migas di lapangan.
Salah satu perhatian utama dalam monev kali ini adalah program work over sumur-sumur eksisting di wilayah Julu Rayeu yang selama ini menjadi pemasok bahan bakar (fuel gas) untuk Gas Engine Generator (GEG/pembangkit listrik) dan sejumlah unit utilitas di Alur Siwah Central Processing Plant (AS CPP).
BPMA mencatat beberapa sumur mengalami penghentian produksi sehingga operasional GEG dan sejumlah fasilitas utilitas di AS CPP untuk sementara bergantung pada gas salur atau gas pipa.
Padahal, gas tersebut dinilai lebih optimal apabila dialihkan untuk kepentingan komersial yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Pada tahun 2026, program work over difokuskan pada tiga sumur utama, yakni JR-71 dan JR-74 yang diarahkan pada pergantian zona produksi, serta sumur JR-38A yang akan menerapkan metode dual completion injection-production.
Metode pada JR-38A ini memiliki fungsi ganda, yakni sebagai sumur injeksi air terproduksi (produced water injection) sekaligus sumur produksi hidrokarbon.
Produksi dari sumur tersebut diharapkan mampu memperkuat pasokan fuel gas bagi kebutuhan internal AS CPP.
Melalui pemulihan produksi dari sumur JR-71 dan JR-74 serta tambahan suplai dari JR-38A, BPMA menargetkan pengurangan signifikan penggunaan gas salur.
Efisiensi tersebut diharapkan memungkinkan pengalihan gas untuk kebutuhan komersial yang memberikan manfaat ekonomi lebih besar.
Kepala Divisi Operasi Produksi BPMA Ibnu Hafizh menyampaikan harapan agar seluruh program yang telah ditetapkan dalam WP&B 2026 dapat diselesaikan tepat waktu.
“Baik kegiatan operasi produksi rutin, pengeboran, work over maupun well service, termasuk pengaktifan kembali sumur-sumur Julu Rayeu serta penerapan metode dual completion injection-production pada JR-38A, diharapkan berjalan sesuai jadwal. Dengan demikian, efisiensi operasional dan ketahanan energi internal Lapangan Blok A dapat segera tercapai,” ujar Ibnu Hafizh, Ahad (10/5/2025).
BPMA menegaskan, kegiatan monitoring dan evaluasi berkala menjadi instrumen penting dalam memastikan keselarasan antara perencanaan dan implementasi di lapangan.
Sinergi antara regulator dan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dinilai menjadi kunci dalam menghadapi tantangan teknis, termasuk natural decline pada sumur eksisting serta keterbatasan pasokan fuel gas.
Secara terpisah, Kepala BPMA, Nasri Djalal, mengapresiasi sinergi yang telah terbangun antara tim BPMA dan KKKS Medco E&P Malaka dalam mendukung optimalisasi produksi migas Aceh.
“Saya mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh tim BPMA bersama KKKS Medco E&P Malaka. Kerja sama dan sinergi yang terjalin dengan baik merupakan kunci utama dalam mengoptimalkan potensi migas Aceh,” ujar Nasri.
Ia juga meminta seluruh rangkaian operasional terus dimonitor secara ketat dan berkelanjutan guna mengantisipasi berbagai kendala teknis di lapangan.
Nasri berharap seluruh program dalam WP&B 2026 dapat rampung sesuai target, terutama work over sumur Julu Rayeu JR-71, JR-74 dan JR-38A.
“Dengan penyelesaian tepat waktu, kita optimistis dapat menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemandirian energi daerah Aceh,” pungkasnya.