Diduga Cacat Perencanaan, Proyek Jalan Pokir HRD di Bireuen Mulai Amblas

Bireuen, Infoaceh.net –Proyek preservasi jalan Matang Gleumpang Dua – Ulee Jalan – Blang Mane yang diklaim sebagai buah Pokok Pikiran (Pokir) anggota DPR RI asal Aceh, H. Ruslan Daud (HRD), kini menuai rapor merah.
Bukannya memperlancar mobilitas, proyek bernilai belasan miliar ini justru dituding mengubah kawasan Keude Asan, Gampong Leung Kuli, Kecamatan Peusangan Selatan, menjadi “kampung langganan banjir”.
Hujan deras yang mengguyur Bireuen pada Kamis (7/5/2026) malam kembali merendam rumah warga. Masyarakat menilai, petaka ini adalah dampak nyata dari buruknya perencanaan proyek yang mengabaikan sistem drainase.
Data Proyek: Anggaran Fantastis Tanpa Parit
Berdasarkan data pada papan proyek di lokasi, pekerjaan ini berada di bawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Aceh. Proyek ini menelan anggaran APBN Tahun 2025–2026 dengan nilai kontrak fantastis mencapai Rp16.177.369.238.
Namun, di balik angka miliaran tersebut, terselip fakta miris. Pihak pelaksana dari PT Karya Usaha Mandiri Utama mengakui bahwa pembangunan drainase di titik Keude Asan memang tidak masuk dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).
“Benar kami pelaksana pekerjaan. Tidak ada dalam RAB untuk pekerjaan drainase di titik Keude Asan,” ujar pihak kontraktor saat dikonfirmasi di lokasi kejadian.
Lima Kali Kebanjiran, Warga: Proyek Cacat Sejak Awal!
Pengakuan kontraktor tersebut langsung menyulut amarah warga. Junaidi, salah seorang pemuda setempat, menyebut banjir kini menjadi ancaman rutin yang menghantui setiap kali mendung tiba.
“Ini sudah lima kali banjir terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Kami sudah lama melapor ke satgas, tapi belum ada tindakan nyata,” ketus Adi Pemuda Keude Asan.
Warga menilai proyek ini cacat secara perencanaan. Alih-alih melakukan normalisasi drainase lama yang sudah tersumbat, pembangunan jalan baru justru menutup jalur air, sehingga sisa hujan langsung meluap ke pemukiman penduduk.
Sudah Banjir, Jalan Pun Mulai Amblas
Penderitaan warga tak berhenti di soal banjir. Kualitas pekerjaan proyek senilai Rp16 miliar ini pun mulai diragukan. Di sejumlah titik, badan jalan dan bahu jalan dilaporkan sudah mulai amblas dan rusak meski baru saja selesai dikerjakan.
“Belum lama selesai, tapi pinggir jalan sudah amblas. Kalau dibiarkan, ini bisa membahayakan pengguna jalan,” ujar warga lainnya yang menduga pekerjaan dilakukan asal jadi.
Tenaga Ahli HRD: Urusan Teknis Tanggung Jawab Kontraktor
Menanggapi polemik ini, Muhammad Adam selaku Tenaga Ahli (TA) Haji Ruslan Daud, menegaskan bahwa peran pihak pengusul pokir hanya sebatas merealisasikan program ke daerah.
“Jalan sudah kami usulkan dan sudah dilaksanakan. Untuk urusan teknis dengan PPTK dan kontraktor pelaksana, itu bukan lagi wewenang dari pemilik pokir,” tegas Muhammad Adam.
Kini, bola panas berada di tangan BPJN Aceh dan kontraktor pelaksana. Warga Keude Asan mendesak adanya evaluasi total dan audit kualitas pekerjaan.
Bagi mereka, apalah arti aspal mulus jika rumah terus terendam lumpur dan badan jalan hancur sebelum sempat dinikmati sepenuhnya.