Tabungan Haji Melejit, BSI Raup Laba Rp2,2 Triliun Awal 2026

Jakarta, Infoaceh.net — Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatatkan kinerja impresif pada awal 2026. Didorong lonjakan Tabungan Haji dan penguatan bisnis emas, bank syariah terbesar di Indonesia itu membukukan laba bersih sebesar Rp2,2 triliun pada Triwulan I 2026 atau tumbuh 17,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).

Pertumbuhan tersebut ditopang tingginya antusiasme masyarakat untuk menunaikan ibadah haji yang berdampak pada melonjaknya jumlah nasabah Tabungan Haji BSI hingga mencapai 7,25 juta orang. Menariknya, sekitar 1,2 juta di antaranya berasal dari generasi muda, yakni kalangan milenial dan Gen-Z.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan tabungan saat ini menjadi mesin pertumbuhan utama atau engine growth perseroan, terutama berasal dari Tabungan Haji.

“Tabungan saat ini menjadi engine growth BSI termasuk dari Tabungan Haji,” ujar Anggoro dalam paparan kinerja Perseroan Triwulan I 2026, dikutip Selasa (12/5/2026).

Menurut Anggoro, BSI saat ini fokus memperkuat tiga sektor utama penghimpunan dana, yakni Tabungan Haji, Payroll, dan Tabungan Bisnis. Sebagai bank syariah berstatus persero, BSI juga mengambil peran aktif mendukung tingginya minat masyarakat Muslim Indonesia untuk berhaji.

Data BSI menunjukkan animo masyarakat terhadap ibadah haji terus mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2023 jumlah pendaftar haji nasional tercatat sebanyak 286,4 ribu orang, lalu meningkat tajam menjadi 422,3 ribu orang pada 2025.

Seiring melonjaknya jumlah pendaftar, dominasi BSI di pasar tabungan haji nasional juga semakin kuat. Pangsa pasar (market share) BSI meningkat dari 49,5 persen pada 2023 menjadi 53,6 persen pada 2025.

Dari total 422,3 ribu pendaftar haji nasional pada 2025, sebanyak 226,4 ribu jamaah tercatat mendaftar melalui BSI. Bahkan, untuk fase keberangkatan tahun 2026, sekitar 83,5 persen dari total kuota jamaah haji nasional merupakan calon jamaah yang mendaftar lewat BSI.

Perseroan menyebut peningkatan jumlah nasabah haji tidak terlepas dari kemudahan pembukaan rekening melalui platform digital BYOND by BSI, ditambah berbagai kampanye produk haji yang dilakukan secara nasional.

Lonjakan jumlah nasabah juga berkontribusi signifikan terhadap peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI. Hingga Maret 2026, total DPK perseroan tumbuh 18 persen (yoy) menjadi Rp376,8 triliun.

Menariknya, pertumbuhan tersebut ditopang kuat oleh segmen dana murah atau CASA (Current Account Saving Account). Dana giro meningkat 24,17 persen menjadi Rp71,7 triliun, sementara tabungan tumbuh 20,18 persen menjadi Rp164,5 triliun.

Secara keseluruhan, total dana murah BSI tumbuh 21,36 persen menjadi Rp236,2 triliun.

Sejak merger pada 1 Februari 2021, jumlah nasabah BSI juga terus meningkat signifikan. Hingga Triwulan I 2026, total nasabah BSI mencapai 23,7 juta orang atau bertambah 9,26 juta nasabah sejak penggabungan bank syariah nasional tersebut.

Bahkan, hanya dalam tiga bulan pertama tahun 2026, BSI berhasil menambah sekitar 500 ribu nasabah baru.

Pertumbuhan customer base tersebut ikut mengerek total aset BSI menjadi Rp460,1 triliun per posisi Maret 2026. Capaian itu membawa BSI resmi masuk jajaran lima besar bank terbesar di Indonesia setelah memperoleh status sebagai bank persero pada 23 Januari 2026.

Kondisi ini dinilai menjadi bukti bahwa industri perbankan syariah kini mampu berdiri sejajar dengan bank-bank konvensional besar, baik dari sisi aset maupun profitabilitas.

Tak hanya mengandalkan bisnis syariah, BSI juga memperoleh keuntungan dari strategi dual licence, yakni lisensi sebagai bank syariah sekaligus bank emas.

Strategi tersebut terbukti memperkuat inklusivitas layanan BSI, ditandai dengan meningkatnya jumlah nasabah non-Muslim hingga mencapai 12 persen.

“Keunikan dual licence menghasilkan kinerja BSI yang sehat dan profit sustain. Pada Triwulan I 2026 BSI membukukan laba bersih Rp2,2 triliun, tumbuh 17,1 persen (yoy),” kata Anggoro.

Direktur Finance and Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho, mengungkapkan strategi dual licence turut mendongkrak pendapatan berbasis komisi atau Fee Based Income (FBI).

Pada Triwulan I 2026, FBI BSI mencapai Rp2,09 triliun atau tumbuh 22,98 persen dibanding periode sama tahun lalu. Komposisi FBI terhadap total pendapatan BSI juga meningkat menjadi 22,98 persen.

Bisnis emas menjadi penyumbang terbesar pendapatan berbasis komisi dengan kontribusi mencapai 33,69 persen atau senilai Rp705 miliar, melonjak hingga 125 persen secara tahunan.

Selain itu, sektor treasury menyumbang 21,67 persen, sedangkan layanan e-channel mencapai 17,46 persen.

Dari lini bisnis emas, pembiayaan gadai emas tumbuh 58,3 persen (yoy), sementara layanan emas digital atau E-Mas melonjak fantastis lebih dari 2.700 persen.

Di sektor pembiayaan, BSI juga mencatat pertumbuhan dua digit. Hingga akhir Maret 2026, total pembiayaan mencapai Rp329 triliun atau naik 14,39 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Mayoritas pembiayaan atau sebesar 72,37 persen disalurkan ke sektor konsumer dan ritel, sementara sisanya 27,63 persen mengalir ke segmen wholesale.

Meski tumbuh agresif, kualitas pembiayaan tetap terjaga. Rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF) gross membaik menjadi 1,8 persen dari sebelumnya 1,88 persen. Sementara NPF nett berada di kisaran 0,38 persen.

Peningkatan dana murah juga berhasil menekan biaya dana (cost of fund) ke level 2,12 persen, sementara Cost of Credit (CoC) tetap terjaga pada level 0,73 persen.

Kondisi tersebut berdampak positif terhadap profitabilitas perseroan, tercermin dari rasio Return on Asset (ROA) sebesar 2,53 persen dan Return on Equity (ROE) mencapai 19,36 persen.

Direktur Sales and Distribution BSI, Anton Sukarna, mengatakan perseroan juga aktif mendukung program prioritas pemerintah, termasuk program Astacita.

BSI tercatat telah menyalurkan dukungan senilai Rp198 miliar kepada 211 dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, BSI juga berkontribusi pada penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan koperasi yang menjangkau lebih dari 80 ribu koperasi serta 17.732 penerima manfaat KUR.

Pada sektor perumahan, BSI menyalurkan fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) kepada 894 nasabah sepanjang kuartal I 2026, dengan total pembiayaan rumah subsidi mencapai Rp5,7 triliun.

Selain rumah subsidi, BSI juga turut mendukung pembiayaan program perumahan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).