BSI Bidik Potensi Ekonomi Halal Nasional Rp5.000 Triliun

Jakarta, Infoaceh.net – PT Bank Syariah Indonesia (BSI) semakin menunjukkan ambisinya untuk menjadi pemain utama sekaligus penggerak pertumbuhan ekosistem halal nasional.

Dengan potensi pasar halal lifestyle Indonesia yang diperkirakan mencapai Rp5.000 triliun, BSI menegaskan kesiapan memimpin transformasi ekonomi syariah agar naik kelas dan lebih kompetitif di tingkat global.

Komitmen besar tersebut disampaikan Direktur Utama Anggoro Eko Cahyo dalam sesi Business Talks pada ajang Financial Festival 2026 di Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Anggoro, industri perbankan syariah saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyedia layanan keuangan, tetapi telah berkembang menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi nasional berbasis nilai-nilai syariah.

“BSI tidak hanya menjadi lembaga keuangan transaksional, tetapi juga ikut menentukan arah pertumbuhan ekonomi baru Indonesia,” ujar Anggoro, Sabtu (23/5/2026).

Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI melihat peluang ekonomi halal nasional masih sangat terbuka lebar. Besarnya jumlah penduduk Muslim di Indonesia dinilai menjadi kekuatan strategis untuk membangun industri halal yang terintegrasi, mulai dari sektor makanan, fesyen Muslim, pendidikan, keuangan, hingga wisata religi.

Indonesia saat ini diketahui menempati posisi ketiga terbesar dalam pasar halal lifestyle dunia. Anggoro meyakini angka potensi ekonomi halal sebesar Rp5.000 triliun masih dapat terus tumbuh apabila seluruh pelaku usaha dan sektor terkait terkoneksi dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Menurutnya, keberhasilan pengembangan ekonomi halal tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan integrasi antara lembaga keuangan syariah, pelaku usaha, industri halal, komunitas Islam, hingga sektor pendidikan agar tercipta rantai ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.

Dalam upaya tersebut, BSI menyiapkan sejumlah strategi percepatan melalui pembiayaan produktif di berbagai sektor ekonomi.

Fokus utama diarahkan pada penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dinilai memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

BSI, kata Anggoro, tidak sekadar menyalurkan pembiayaan, tetapi juga membangun sistem pendampingan menyeluruh melalui BSI UMKM Centre. Program ini dirancang untuk membantu pelaku usaha berkembang dari tahap awal hingga mampu menembus pasar yang lebih luas.

“Kami serius memastikan pertumbuhan UMKM berjalan secara berkelanjutan,” katanya.

Di pusat layanan tersebut, pelaku UMKM mendapat akses pembinaan usaha, pelatihan peningkatan kapasitas, pendampingan usaha yang belum memenuhi standar pembiayaan bank (unbankable), hingga peluang memperluas jaringan bisnis melalui program business matching dengan pembeli dari dalam maupun luar negeri.

Tidak berhenti di situ, BSI juga memperkuat jejaring ekosistem halal melalui kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk pondok pesantren, sekolah Islam, komunitas Muslim, pelaku industri halal, hingga sektor haji dan umrah.

Strategi ini diharapkan mampu memperluas inklusi keuangan syariah sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi umat.

Anggoro menilai tantangan terbesar ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan industri syariah, tetapi memastikan perbankan syariah mampu mengambil posisi terdepan dalam mengelola potensi ekonomi halal nasional yang sangat besar.

“Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Karena itu, kita harus mampu mengeksplorasi potensi besar ini secara optimal,” tegasnya.

Di akhir pemaparannya, Anggoro menegaskan bahwa prinsip ekonomi syariah pada hakikatnya tidak semata-mata mengejar keuntungan finansial.

Lebih dari itu, ekonomi syariah harus dibangun atas dasar keadilan, transparansi, kebermanfaatan, dan keberlanjutan sesuai nilai maqashid syariah.

“Ekonomi itu tidak hanya untuk profit, tetapi juga harus memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan berkelanjutan,” pungkasnya.