Memasuki Tahun Baru 1448 H, Evaluasi Diri dan Perkuat Iman

Aceh Besar, Infoaceh.net – Menjelang berakhirnya Tahun 1447 Hijriah dan memasuki Tahun Baru 1448 Hijriah, umat Islam diajak menjadikan momentum pergantian tahun sebagai sarana muhasabah atau evaluasi diri terhadap perjalanan hidup dan kualitas ibadah yang telah dijalani selama setahun terakhir.

Ajakan tersebut disampaikan akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk Saifuddin A. Rasyid, dalam khutbah Jumat di Masjid Nurul Huda, Gampong Limpok, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Jum’at (12/6/2026), bertepatan 26 Zulhijjah 1447 Hijriah.

Menurutnya, pergantian tahun dalam kalender Islam bukan sekadar perubahan angka, melainkan momentum penting untuk melakukan introspeksi terhadap hubungan seorang hamba dengan Allah SWT, sekaligus menilai kembali peran dan kontribusi yang telah diberikan dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat.

“Penghujung tahun Hijriah merupakan kesempatan terbaik bagi umat Islam untuk merenungkan sejauh mana prestasi spiritual yang telah dicapai selama ini. Evaluasi tersebut penting agar setiap muslim mampu meningkatkan kualitas dirinya sebagai hamba Allah yang taat, tunduk, dan senantiasa berusaha memperbaiki ibadah dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia.

Namun di sisi lain, kemajuan tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan yang dapat menggerus nilai-nilai keimanan dan moralitas.

Menurutnya, derasnya arus informasi saat ini tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga berpotensi memunculkan berbagai persoalan seperti penyebaran informasi yang menyesatkan, dekadensi moral, kerusakan akhlak, hingga berbagai bentuk godaan yang dapat melemahkan keimanan seseorang.

“Di tengah berbagai tantangan tersebut, umat Islam harus tetap menjaga keutuhan iman agar tidak goyah dalam menjalani kehidupan. Iman merupakan pondasi utama tempat kita berpijak. Iman adalah niat dasar, sumber kekuatan, sekaligus motivasi hidup yang akan mengantarkan manusia menuju ridha Allah SWT,” katanya.

Selain mengevaluasi kualitas iman, Tgk Saifuddin juga mengajak umat Islam untuk menilai kembali semangat jihad dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, jihad tidak semata-mata dimaknai sebagai perjuangan fisik, melainkan mencakup kesungguhan dalam menjalankan ajaran Islam dan memperjuangkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan pribadi, keluarga, lingkungan kerja, maupun masyarakat.

Ia menegaskan bahwa Tahun Baru Hijriah juga menjadi momentum penting untuk memahami makna hijrah secara lebih mendalam. Hijrah, katanya, bukan hanya perpindahan tempat sebagaimana yang dialami Rasulullah SAW dan para sahabat, tetapi juga perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

“Hijrah berarti berpindah dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kelalaian menuju kesadaran, dari kelemahan menuju kekuatan iman, serta dari perilaku yang kurang baik menuju akhlak yang lebih mulia,” jelasnya.

Karena itu, setiap muslim perlu bertanya kepada dirinya sendiri apakah selama ini telah melakukan hijrah menuju kualitas hidup yang lebih baik dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Sudahkah kita berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik? Sudahkah kita berupaya mendekatkan diri kepada Allah agar memperoleh kedudukan yang lebih mulia di sisi-Nya? Hijrah yang sejati adalah perubahan yang membuat seseorang semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama manusia,” tuturnya.

Dalam khutbah tersebut, Tgk Saifuddin juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 218 yang menyebutkan bahwa orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah merupakan golongan yang mengharapkan rahmat-Nya.

Selain itu, dalam Surah At-Taubah ayat 20, Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta serta jiwa mereka di jalan Allah akan memperoleh derajat yang lebih tinggi di sisi-Nya dan termasuk golongan yang memperoleh kemenangan.

Menutup khutbahnya, Tgk Saifuddin mengingatkan bahwa menjaga iman merupakan tugas utama setiap muslim, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi keluarga dan lingkungan masyarakat.

“Jangan sampai keimanan kita ditembus oleh godaan setan, hawa nafsu maupun berbagai bentuk penyimpangan yang dapat menjauhkan manusia dari jalan Allah. Sebab, menjaga iman tanggung jawab yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT pada hari perhitungan,” pungkasnya. (Sayed M. Husen)