Presiden Prabowo Disarankan Puasa Pidato untuk Redam Kemarahan Rakyat

Jakarta, Infoaceh.net – Di tengah meningkatnya kritik dan gelombang demonstrasi yang muncul di berbagai daerah, Presiden Prabowo Subianto disarankan untuk mengurangi aktivitas pidato dan lebih memfokuskan diri pada penyelesaian persoalan yang dihadapi masyarakat.
Saran tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago.
Pangi menilai sejumlah pidato Prabowo kurang terarah dan memicu kontroversi serta resistensi di masyarakat.
Menurutnya, situasi politik dan sosial yang berkembang saat ini tidak terlepas dari cara pemerintah berkomunikasi kepada publik.
Pangi menilai sejumlah pernyataan Presiden dalam berbagai kesempatan justru kerap memicu polemik baru dan menjadi bahan perdebatan di ruang publik.
Akibatnya, perhatian masyarakat bergeser dari substansi program pemerintah kepada kontroversi yang muncul dari pidato-pidato tersebut.
“Menurut saya, enggak usah Prabowo pidato dulu, satu sampai dua bulan ini pasti mereda negara ini. Jangankan dua bulan, sepekan berhenti pidato, enggak ada orang demo lagi,” kata Pangi, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, dalam kondisi ekonomi yang masih dirasakan berat oleh sebagian masyarakat, pemerintah perlu menunjukkan empati dan menghadirkan kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan rakyat secara langsung.
Ia mencontohkan masih tingginya harga sejumlah kebutuhan pokok, meningkatnya biaya hidup, serta berbagai persoalan ekonomi yang menjadi perhatian masyarakat.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu memusatkan energi pada penyelesaian masalah-masalah tersebut dibandingkan meladeni perdebatan yang muncul akibat komunikasi politik.
Pangi juga menyoroti pidato Presiden saat Musyawarah Nasional HIPMI di Lampung yang menyinggung pihak-pihak yang dianggap sering mengkritik pemerintah.
Menurutnya, pernyataan seperti itu berpotensi memperlebar jarak antara pemerintah dan kelompok masyarakat yang memiliki pandangan berbeda.
Dalam pandangannya, seorang pemimpin harus mampu membaca suasana kebatinan rakyat dan menyampaikan pesan yang menenangkan, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi tekanan ekonomi dan ketidakpastian.
Ia kemudian membandingkan pendekatan komunikasi Prabowo dengan Presiden ketujuh RI, Joko Widodo. Menurut Pangi, Jokowi relatif berhasil menjaga hubungan emosional dengan masyarakat melalui komunikasi yang sederhana dan lebih mudah diterima publik.
“Prestasi negara itu sejauh mana mereka punya kemampuan untuk menggembirakan hati rakyat. Menjaga perasaan rakyat itu bagian dari kinerja,” ujarnya.
Pangi menegaskan bahwa keberhasilan pemerintahan tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dijalankan, tetapi juga dari kemampuan membangun kepercayaan publik. Karena itu, komunikasi yang tepat dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sosial dan politik.
Menurutnya, apabila pemerintah mampu menghadirkan kebijakan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat serta memperbaiki pola komunikasi publik, maka tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan kembali menguat.
“Yang dibutuhkan masyarakat hari ini adalah solusi, bukan kontroversi. Rakyat ingin melihat hasil kerja yang nyata dan merasakan manfaatnya secara langsung,” tutupnya.