Jangan Biarkan Bayi Jadi “Penonton Setia” TV, Dokter Ingatkan Risiko yang Sering Diabaikan Orang Tua

Bayi sedang menonton televisi di ruang keluarga. Pakar kesehatan mengingatkan pentingnya membatasi paparan layar pada anak usia dini guna mendukung tumbuh kembang yang optimal. FOTO/ILUSTRASI

Banda Aceh, Infoaceh.net – Kebiasaan menyalakan televisi atau memberikan tontonan digital kepada bayi untuk membuat mereka tenang ternyata menyimpan risiko yang tidak boleh dianggap sepele.

Sejumlah pakar kesehatan anak mengingatkan bahwa paparan layar pada usia dini dapat memengaruhi perkembangan kemampuan bicara, interaksi sosial, hingga kualitas tidur anak apabila dilakukan secara berlebihan dan tanpa pengawasan orang tua.

Di tengah semakin mudahnya akses terhadap televisi, ponsel pintar, dan tablet, banyak orang tua yang tanpa sadar menjadikan layar sebagai “pengasuh kedua” di rumah. Padahal, masa bayi merupakan periode penting bagi perkembangan otak yang membutuhkan stimulasi langsung melalui interaksi dengan orang tua dan lingkungan sekitar.

Selain durasi menonton, jarak antara bayi dan layar televisi juga menjadi perhatian. Anak yang terlalu dekat dengan layar berpotensi mengalami ketegangan mata dan kebiasaan visual yang kurang baik. Para ahli menyarankan agar posisi menonton disesuaikan dengan ukuran televisi sehingga mata tidak bekerja terlalu keras saat fokus pada gambar.

Organisasi kesehatan internasional bahkan merekomendasikan agar bayi di bawah usia 18 bulan tidak terpapar layar digital, kecuali untuk keperluan komunikasi video dengan anggota keluarga. Sementara pada usia di atasnya, penggunaan media digital sebaiknya tetap dibatasi dan dilakukan dengan pendampingan orang tua.

Dokter anak juga mengingatkan bahwa tanda-tanda seperti anak sering mendekati televisi, menyipitkan mata saat melihat objek jauh, atau terlihat lebih tertarik pada layar dibanding berinteraksi dengan lingkungan dapat menjadi sinyal yang perlu diperhatikan.

Menurut para ahli, stimulasi terbaik bagi bayi tetap berasal dari aktivitas sederhana seperti bermain, mendengarkan cerita, bernyanyi, dan berkomunikasi langsung dengan orang tua. Aktivitas tersebut dinilai lebih efektif dalam mendukung perkembangan bahasa, emosi, dan kemampuan sosial anak dibandingkan paparan layar yang berlebihan.

Karena itu, orang tua diimbau untuk lebih bijak dalam mengenalkan teknologi kepada anak. Televisi dan perangkat digital dapat menjadi sarana hiburan maupun edukasi, namun bukan pengganti interaksi keluarga yang menjadi kebutuhan utama dalam tumbuh kembang bayi.

Di era digital saat ini, tantangan terbesar bukan lagi bagaimana mengenalkan teknologi kepada anak, melainkan bagaimana memastikan teknologi digunakan secara sehat, aman, dan sesuai usia.