Garis Polisi Dicabut, KMP Aceh Hebat 2 Kembali Berlayar Setelah Insiden Ledakan

Banda Aceh, Infoaceh.net — Kapal Motor Penumpang (KMP) Aceh Hebat 2 kembali beroperasi melayani rute Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, menuju Pelabuhan Balohan, Sabang, mulai Ahad (5/7/2026), setelah sempat dihentikan beberapa pekan akibat insiden ledakan di ruang mesin yang merengut nyawa tiga taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati.
Pengoperasian kembali kapal milik Pemerintah Aceh tersebut dilakukan setelah Polda Aceh mencabut garis polisi (police line) yang sebelumnya dipasang untuk kepentingan penyidikan.
PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh juga telah mengantongi persetujuan berlayar usai seluruh proses inspeksi teknis dan pemeriksaan kelayakan kapal selesai dilakukan.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan, membenarkan bahwa KMP Aceh Hebat 2 telah memperoleh izin operasional dan siap kembali melayani masyarakat.
“Kapal sudah mendapatkan persetujuan berlayar dan mulai kembali dioperasikan untuk melayani lintasan Ulee Lheue–Balohan,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).
Kembalinya KMP Aceh Hebat 2 diharapkan mampu memperkuat armada penyeberangan menuju Sabang, terutama menghadapi peningkatan jumlah penumpang selama musim libur sekolah saat ini.
Meski demikian, dibukanya kembali operasional kapal tidak menghentikan proses hukum.
Penyidik Polda Aceh masih melanjutkan investigasi untuk mengungkap penyebab pasti ledakan yang terjadi di ruang mesin kapal.
Ledakan Terjadi Saat Praktik Taruna Poltekpel
Insiden tragis itu terjadi pada Jum’at (12/6/2026) sekitar pukul 10.45 WIB ketika KMP Aceh Hebat 2 baru bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue usai berlayar dari Sabang.
Saat kejadian, sebanyak 14 taruna Politeknik Pelayaran Malahayati sedang menjalani praktik pengenalan mesin di ruang mesin kapal dengan didampingi seorang Kepala Kamar Mesin (KKM).
Ledakan hebat tiba-tiba terjadi di area Auxiliary Engine atau mesin bantu. Dugaan awal mengarah pada komponen elektronik hidrolik pintu sekat kedap air. Api dengan cepat membesar dan menjebak para taruna yang berada di dalam ruang mesin.
Tim Basarnas Banda Aceh bersama awak kapal KN Kresna bergerak melakukan evakuasi terhadap seluruh korban. Sebanyak 15 orang mengalami luka bakar dengan tingkat keparahan berbeda dan langsung dilarikan ke Pos Kesehatan Pelabuhan sebelum dirujuk ke RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.
Dari 15 korban, tiga taruna akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat luka bakar berat.
Ketiga korban tersebut yakni:
Fakhri Herdieco M (19), taruna asal Sigli, meninggal dunia pada 20 Juni 2026.
Muhammad Bilal Ramzi, taruna asal Kota Sabang, meninggal dunia pada 26 Juni 2026.
Muhammad Zulfikar, taruna asal Medan, Sumatera Utara, yang menjadi korban meninggal ketiga.
Sementara itu, sebelas korban lainnya masih menjalani proses pemulihan, sedangkan seorang korban telah diperbolehkan menjalani rawat jalan.
Penyidikan Masih Berjalan
Polda Aceh telah menyelesaikan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mencabut police line setelah pemeriksaan awal di ruang mesin rampung.
Kapal kemudian diserahkan kembali kepada PT ASDP Indonesia Ferry untuk dilakukan inspeksi teknis sebelum memperoleh izin beroperasi.
Meski kapal telah kembali melayani penumpang, penyidikan kasus belum dihentikan.
Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Aceh masih menganalisis sejumlah sampel dan komponen mesin guna memastikan penyebab ledakan.
Penyidik masih mendalami apakah insiden tersebut murni disebabkan kegagalan teknis atau terdapat unsur kelalaian dalam prosedur keselamatan kerja.
Sementara itu, manajemen PT ASDP Indonesia Ferry menyatakan tetap bertanggung jawab terhadap penanganan para korban, termasuk pembiayaan perawatan medis serta pemberian santunan kepada keluarga korban meninggal dunia.
Perusahaan juga menyatakan akan menjadikan hasil investigasi sebagai dasar evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan operasional seluruh armada penyeberangan.