KAMMI Banda Aceh: Jangan Jadikan Dapur MBG Ajang Pamer Keuntungan, Kami Tidak Respek

Banda Aceh, Infoaceh.net – Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Banda Aceh, Ariska, mengkritik maraknya pembahasan mengenai bisnis dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan berkembang di kalangan sebagian pelaku usaha.
Menurutnya, diskusi tersebut telah bergeser dari semangat pengabdian menjadi pembicaraan yang lebih menonjolkan keuntungan bisnis dibanding kepedulian terhadap kondisi masyarakat.
Didampingi Aulia Rahmi yang membidangi advokasi dan isu-isu perempuan di KAMMI Komisariat Universitas Syiah Kuala (USK), Ariska mengaku prihatin karena percakapan yang berkembang justru berkisar pada besarnya laba harian, omzet, hingga jumlah dapur MBG yang berhasil dikelola.
“Di saat masyarakat sedang berjuang menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi yang semakin berat, kami justru mendengar sebagian orang membicarakan laba harian, omzet, bahkan berlomba menunjukkan berapa banyak dapur yang mereka miliki. Menurut kami, ini sudah tidak lagi mencerminkan empati terhadap situasi rakyat,” ujar Ariska, Jum’at (10/7/2026).
Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat hingga kini belum benar-benar pulih. Banyak keluarga masih harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara lapangan kerja dan sumber pendapatan dinilai belum mengalami perbaikan yang signifikan.
Karena itu, KAMMI Banda Aceh mendorong pemerintah agar menghadirkan kebijakan ekonomi yang lebih inovatif dan mampu memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Kami berharap pemerintah tidak hanya terpaku pada satu program. Yang lebih dibutuhkan masyarakat hari ini adalah bagaimana ekonomi bergerak, daya beli meningkat, dan masyarakat memiliki sumber penghasilan yang layak. Kita menuju masa-masa paceklik yang berat. Pemerintah jangan sampai tidak hadir,” katanya.
Ariska juga menilai kritik publik terhadap pelaksanaan Program MBG muncul bukan tanpa alasan. Menurutnya, sejak awal program tersebut telah diwarnai berbagai persoalan yang menjadi perhatian masyarakat.
Ia menyebut mulai dari dugaan persoalan tata kelola anggaran, mekanisme penunjukan penyedia yang dinilai rawan konflik kepentingan, hingga kualitas makanan yang beberapa kali menuai keluhan publik.
“Semua orang tahu program ini sejak awal tidak lepas dari berbagai persoalan. Isu tata kelola anggaran menjadi perhatian banyak pihak dan berpotensi menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari. Sekarang terbukti sebagian dapur MBG terpaksa berhenti beroperasi. Di sisi lain, masyarakat juga mendengar berbagai cerita mengenai proses memperoleh pengelolaan dapur yang dianggap penuh transaksi kepentingan. Akibatnya, ketika kualitas makanan dipersoalkan, publik menjadi semakin antipati,” ujarnya.
Menurut Ariska, kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap narasi yang selama ini dibangun mengenai program tersebut.
“Kami terus terang tidak respek jika yang dipamerkan adalah keuntungan dari program yang sejak awal masih menyisakan banyak pertanyaan publik. Jangan lagi membanggakan berapa besar laba atau berapa banyak dapur yang dimiliki,” tegasnya.
Sebaliknya, ia mengaku lebih menghargai masyarakat maupun pelaku usaha yang memanfaatkan kemampuan dan sumber daya mereka untuk kegiatan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami justru lebih salut kepada orang-orang yang bergotong royong mengumpulkan dana untuk membangun jembatan gantung di pedalaman, memperbaiki fasilitas umum, atau membantu masyarakat tanpa berharap keuntungan. Kontribusi seperti itu jauh lebih bermakna bagi rakyat Aceh,” katanya.
Secara khusus, Ariska menyampaikan apresiasi kepada masyarakat di Nener Meriah yang secara swadaya membangun Jembatan Enang-enang.
“Mereka adalah pahlawan di tengah kemiskinan dan absennya pemerintah,” ujarnya.
Meski melontarkan kritik, Ariska menegaskan bahwa pernyataannya tidak ditujukan kepada seluruh mitra penyedia Program MBG. Menurutnya, masih banyak pelaku usaha yang menjalankan program tersebut secara profesional, menjaga integritas, serta mengutamakan pelayanan kepada masyarakat.
“Kami tidak menggeneralisasi. Masih banyak mitra penyedia yang bekerja dengan baik, menjaga integritas, dan benar-benar ingin memberikan pelayanan terbaik. Kepada mereka yang tetap memegang etika dan tidak menjadikan program ini sebagai ajang pamer keuntungan, kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya,” tutupnya.