Selamatkan Generasi Aceh, MADA Ajak Orang Tua Antar Anak ke Dayah

BANDA ACEH, Infoaceh.net – Majelis Akreditasi Dayah Aceh (MADA) mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk kembali menjadikan dayah sebagai pilihan utama dalam mendidik putra-putri mereka.
Ajakan tersebut disampaikan sebagai respons atas semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi generasi muda, mulai dari penyalahgunaan narkoba, judi daring, degradasi moral, hingga dampak negatif perkembangan teknologi digital.
Wakil Ketua MADA, Dr Tgk Teuku Zulkhairi MA mengatakan dayah memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membentuk karakter, akhlak, serta menjaga identitas keislaman masyarakat Aceh. Menurutnya, pendidikan di dayah bukan hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membangun disiplin, adab, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Pernyataan itu disampaikan Zulkhairi saat menjadi narasumber dalam Kajian Aktual bertema “Krisis Generasi Aceh: Dayah sebagai Agensi Defensif dan Transformatif” yang diselenggarakan Majelis Tastafi Banda Aceh bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD), Jum’at (10/7/2026) malam di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh.
Menurut Zulkhairi, berbagai persoalan yang kini dihadapi generasi muda Aceh tidak bisa dipandang sebagai masalah biasa. Fenomena penyalahgunaan narkotika, maraknya judi online, lunturnya penghormatan kepada guru dan orang tua, serta penggunaan teknologi digital yang tidak terkendali telah menjadi tantangan besar bagi keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah.
“Dayah bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi benteng moral masyarakat Aceh. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, dayah memiliki peran strategis menjaga akidah, akhlak, tradisi keilmuan, serta jati diri masyarakat Aceh,” ujar Zulkhairi.
Ia menjelaskan dayah memiliki dua fungsi utama yang saling melengkapi. Pertama, sebagai agensi defensif, yakni menjaga nilai-nilai Islam, tradisi keilmuan, sanad, adab, serta warisan para ulama agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Kedua, sebagai agensi transformatif, yaitu menjadi pusat perubahan sosial melalui pendidikan, dakwah, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
“Kalau fungsi defensif menjaga agar masyarakat tidak kehilangan identitasnya, maka fungsi transformatif mendorong lahirnya generasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam,” jelasnya.
Benteng dari Narkoba dan Dampak Buruk Teknologi
Zulkhairi menilai, salah satu keunggulan pendidikan dayah adalah kemampuannya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan karakter santri. Dengan sistem pendidikan yang disiplin dan pembinaan akhlak yang berlangsung selama 24 jam, dayah dinilai mampu menjadi benteng bagi generasi muda dari berbagai pengaruh negatif.
Ia bahkan menyebut ada dua ancaman besar yang saat ini menghantui generasi Aceh, yakni penyalahgunaan sabu-sabu dan kerusakan moral akibat penggunaan teknologi digital yang tidak terkendali.
“Di dayah, anak-anak kita insya Allah akan aman dari dua penyakit besar ini. Aman dari sabu-sabu dan aman dari kerusakan akibat teknologi. Mereka tidak akan disibukkan dengan android maupun game-game yang melalaikan,” katanya.
Menurutnya, lingkungan dayah mendorong para santri lebih fokus memperdalam ilmu agama, membangun karakter, membiasakan hidup disiplin, serta memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an dan para guru.
Akreditasi Dayah Berorientasi Mutu
Sebagai Wakil Ketua MADA, Zulkhairi juga menjelaskan bahwa paradigma akreditasi dayah yang sedang dikembangkan Pemerintah Aceh tidak hanya berorientasi pada kelengkapan administrasi.
Lebih dari itu, proses akreditasi juga mengukur sejauh mana dayah mampu menjalankan empat fungsi pokoknya, yakni sebagai lembaga pendidikan, pusat dakwah, pusat pengabdian kepada masyarakat, serta pusat pengembangan karya dan tradisi keilmuan Islam.
Menurutnya, pendekatan tersebut dilakukan agar kualitas dayah terus meningkat tanpa meninggalkan karakter dan kekhasan pendidikan Islam tradisional yang telah menjadi bagian dari sejarah panjang Aceh.
“Akreditasi bukan sekadar penilaian dokumen, tetapi bagaimana dayah mampu menjalankan fungsi-fungsi strategisnya dalam membangun masyarakat,” ujarnya.
Investasi Terbaik bagi Masa Depan Aceh
Di akhir pemaparannya, Zulkhairi mengajak seluruh orang tua di Aceh untuk tidak ragu mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada dayah. Ia meyakini, investasi terbesar bagi masa depan Aceh bukanlah pembangunan fisik semata, melainkan membangun sumber daya manusia yang memiliki ilmu, akhlak, dan integritas.
“Kalau kita ingin Aceh tetap dikenal sebagai Serambi Mekkah, maka kita harus memastikan dayah tetap menjadi jantung peradaban Aceh. Dari dayahlah lahir generasi yang mampu menjaga agama, membangun masyarakat, dan memimpin masa depan,” pungkasnya.
Selain Dr Tgk Teuku Zulkhairi MA kajian tersebut juga menghadirkan Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Syamsul Rijal MAg serta Pimpinan Dayah Mishrul Huda Malikussaleh Banda Aceh, Waled Rusli Daud MAg.
Ketiga narasumber mengulas berbagai tantangan aktual yang dihadapi masyarakat Aceh dari perspektif pendidikan, sosial, dan keislaman.
Mereka menegaskan penguatan peran dayah menjadi salah satu strategi penting dalam membangun generasi yang berilmu, berakhlak, adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dan budaya Aceh.
Kajian yang dihadiri kalangan akademisi, ulama, mahasiswa, serta masyarakat umum itu juga menjadi ruang diskusi mengenai pentingnya sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, ulama dan pemerintah dalam menghadapi berbagai persoalan yang mengancam masa depan generasi Aceh.
Para peserta berharap penguatan dayah tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak pada peningkatan mutu pendidikan Islam di Aceh.