Prof Jasafat Raih Gelar Guru Besar Ilmu Dakwah UIN Ar-Raniry

BANDA ACEH, Infoaceh.net – Bagi sebagian akademisi, jabatan Guru Besar merupakan puncak karier yang membanggakan.
Namun bagi Prof Dr Jasafat MA, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, gelar profesor bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari amanah yang jauh lebih besar.
Ketika menerima Keputusan Menteri Agama RI tentang Penetapan Guru Besar, Prof Jasafat justru mengingatkan bahwa ilmu tidak boleh melahirkan kesombongan.
“Jangan menganggap guru besar itu sudah paling besar, tapi kebesaran itu akan benar-benar besar jika ia mampu membesarkan Allah,” ujarnya.
Ungkapan tersebut menggambarkan cara pandangnya terhadap dunia akademik. Baginya, jabatan profesor bukan sekadar simbol prestise, melainkan tanggung jawab moral untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan, membimbing generasi muda, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Diasuh Guru Sejak Usia Dini
Perjalanan hidup Prof Jasafat tidak selalu mudah. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia tidak sepenuhnya dibesarkan oleh kedua orang tuanya, melainkan diasuh oleh adik kandung ayahnya.
Memasuki jenjang SMP, kehidupannya berada di bawah bimbingan Drs Tgk Ismail Yakob, dosen Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry, yang kemudian menjadi sosok paling berpengaruh dalam membentuk karakter, kedisiplinan, dan kecintaannya terhadap dunia pendidikan.
“Beliau bukan hanya mengajarkan pelajaran sekolah, tetapi juga mendidik akhlak, kedisiplinan, cara berpikir, dan semangat menuntut ilmu. Apa yang saya capai hari ini tidak terlepas dari didikan beliau,” kenangnya.
Lingkungan yang dekat dengan dunia kampus sejak usia muda membuat cita-citanya perlahan terbentuk. Ia memandang profesi dosen bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan untuk mencerdaskan umat melalui pendidikan dan dakwah.
Menempuh Pendidikan di Tengah Konflik Aceh
Perjalanan akademiknya menuju gelar doktor berlangsung pada masa yang tidak mudah. Prof Jasafat melanjutkan studi magister dan doktor di Universiti Sains Malaysia (USM), Pulau Pinang, ketika Aceh masih dilanda konflik bersenjata.
Di tengah situasi penuh ketidakpastian, ia memilih tetap melanjutkan pendidikan sebagai bentuk ikhtiar membangun masa depan.
“Ketika itu kami kuliah sambil menyelamatkan diri dari konflik. Pendidikan menjadi harapan agar kami tetap bisa melangkah ke depan,” tuturnya.
Selama berada di Malaysia, perjuangannya tidak hanya sebatas menyelesaikan studi. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan, ia juga menjalankan usaha serta bekerja pada bidang Sosial Budaya dan Penerangan (SOSBUDPEN) di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Pulau Pinang.
Pengalaman menjalani peran sebagai mahasiswa, pekerja, sekaligus pelaku usaha menempa dirinya menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Dakwah Bukan Sekadar Ceramah
Kecintaannya terhadap Ilmu Dakwah lahir dari keyakinan bahwa dakwah memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan ceramah di mimbar.
Menurutnya, dakwah merupakan proses membangun kualitas manusia, menyelesaikan persoalan sosial, memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus menghadirkan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat secara nyata.
Karena itu, selama menjadi dosen dan peneliti, ia aktif mengembangkan kajian komunikasi dakwah, media dakwah, pemberdayaan masyarakat, hingga strategi dakwah di era digital.
Ia menilai perkembangan teknologi informasi harus dijadikan peluang untuk memperluas jangkauan dakwah, tanpa menghilangkan substansi ajaran Islam yang menjadi fondasi utamanya.
Guru Besar Adalah Amanah
Perjalanan menuju jabatan Guru Besar membutuhkan proses panjang, mulai dari pendidikan tinggi, penelitian, publikasi ilmiah, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Namun menurut Prof Jasafat, tantangan terbesar justru dimulai setelah seseorang menyandang gelar profesor.
“Guru Besar bukan gelar untuk dibanggakan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberi manfaat,” katanya.
Ia mengaku bersyukur atas kepercayaan yang diberikan Kementerian Agama RI. Baginya, rasa syukur tersebut bukan karena berhasil mencapai jabatan akademik tertinggi, melainkan karena memperoleh kesempatan untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar dalam memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Ingin Melahirkan Akademisi Baru
Sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Dakwah, Prof Jasafat berharap dapat melahirkan lebih banyak akademisi muda yang memiliki integritas, memperkuat budaya riset di lingkungan perguruan tinggi, serta mengembangkan model dakwah yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Ia percaya ukuran keberhasilan seorang profesor tidak diukur dari banyaknya gelar atau penghargaan yang dimiliki, melainkan dari ilmu yang diwariskan dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Guru Besar bukan berarti kita yang paling besar. Kebesaran itu akan bernilai apabila ilmu yang kita miliki semakin mendekatkan manusia kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama,” ujarnya.
Prinsip tersebut terus menjadi pegangan hidupnya, mulai dari masa kecil yang dibesarkan dalam asuhan seorang guru, perjuangan menempuh pendidikan di tengah konflik Aceh, hingga kini dipercaya mengemban amanah sebagai Guru Besar Ilmu Dakwah.
Bagi Prof Jasafat, setiap pencapaian bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan untuk memperluas pengabdian kepada agama, bangsa, dan masyarakat.
Sebagaimana diketahui, UIN Ar-Raniry Banda Aceh kembali menambah enam guru besar setelah enam dosennya menerima Keputusan Menteri Agama (KMA) tentang Penetapan Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode III Tahun 2025.
Keputusan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Agama RI, Prof Dr Nasaruddin Umar MA, dalam seremoni yang berlangsung di Hotel Grand Mercure Harmoni, Jakarta Pusat, Senin (13/7/2026).
Prof Dr Jasafat MA menjadi salah satu dosen yang menerima penetapan sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Dakwah.
Dengan penambahan enam profesor baru tersebut, jumlah Guru Besar di lingkungan UIN Ar-Raniry kini mencapai 66 orang. Pada kesempatan yang sama, Kementerian Agama juga menyerahkan KMA kepada 119 guru besar dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) di seluruh Indonesia.
Seluruh guru besar tersebut memperoleh jabatan akademik dengan Terhitung Mulai Tanggal (TMT) 1 Juli 2026.