Aceh Tidak Butuh Pencitraan Politik Bahlil

Sebaiknya Bahlil tidak membangunkan harimau tidur, membangkitkan luka lama dan memancing persoalan baru, seolah-olah ingin membantu Aceh dengan menggunakan perspektif rasisme mengaitkan Papua dan Aceh

Oleh: Dr Taufik A Rahim SE MSi* 

Kehadiran Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Umum Partai pada pekan lalu di Aceh yang memanfaatkan kedudukannya sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, ikut menyampaikan pesan dengan mencoba mengaitkan pernyataan bernada rasisme, antara Papua dan Aceh.

Ini erat kaitannya dengan pencitraan politik atau kemunafikan politik, bahwa akan membantu Aceh, dapat dinyatakan bahwa semakin tidak pentingnya kehadiran Bahlil di Aceh.

Hanya saja tidak disadari bahwa, kehadirannya untuk melantik pengurus partai politik yang tercatat sangat memiliki kekuasaan politik yang berlebihan (abused of power politics), juga tercatat dalam sejarah sebagai partai politik yang sangat arogan, sentralistik, otoriter dan melakukan praktik politik kolonialisme terhadap Aceh.

Partai tersebut juga mengguasai berbagai sumber daya alam Aceh, baik mineral emas, batubara, hasil hutan/kayu minyak dan (Migas) dan lain sebagainya.

Sehingga dengan sangat menggunakan secara sewenang-wenang bahkan berdampak konflik kepentingan, konflik sosial bahkan konflik bersenjata melahirkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Hal ini disebabkan pemberlakuan terhadap Aceh, rakyat Aceh serta seluruh kehidupan sosial-budaya, kmasyarakatan, ekonomi, politik juga seluruh dimensi kehidupan sangat menyengsarakan rakyat Aceh.

Oleh karena itu, sebaiknya Bahlil tidak mencoba membangunkan harimau tidur, membangkitkan luka lama dan memancing persoalan baru, seolah-olah ingin membantu Aceh dengan menggunakan perspektif rasisme mengaitkan Papua dan Aceh.

Dengan demikian dengan menggunakan kekuasaan sentralistik, otoritarian serta oligarki yan dikendalikan dari pusat kekuasaan politik di Jakarta, ingin menguasai sumber daya alam (resources) Aceh dengan melakukan pembohongan rasional dan atau perhitungan ekonomi agar Migas Blok Andaman dapat dieksplorasi dan eksploitasi dengan cara pengendalian dari Pemerintah Pusat Jakarta.

Dengan berbagai tipu muslihat yang sedang dihadapi Aceh dengan Migas Blok Andaman, sebaiknya batalkan saja dari pada terus menerus dirugikan serta ditipu.

Dengan demikian, sesungguhnya kehadiran Bahlil tidak lebih hanya untuk kepentingan bpolitik partainya, yang sudah memiliki catatan sejarah politik buruk bagi seluruh rakyat Aceh dan seluruh elemen serta dimensi kehiudupan di Aceh.

Bahkan sampai berurusan dengan konflik bersenjata karena sangat berhasrat, bernafsu serta serakah ingin menguasai seluruh sumber daya alam di Aceh.

Demikian juga kondisi kehgidupan ekonomi, politik, sosial-budaya serta kehidupan yang demikian kompleks saat ini dihadapi rakyat.

Hal mana kondisi ekonomi Aceh saat ini juga sedang tidak baik-baik saja, pasca bencana banjir bandang dan kerusakan ekosistem serta ekologi lingkungan hidup.

Demikian juga, ditengah ketidakpastian kehidupan dan masa depan Aceh, serta perubahan kehidupan kehidupan tidak semakin baik ditengah krisis ekonomi, politik dan lingkungan hidup, berhasrat menguasai sumber daya alam Migas Aceh.

Kemudian kembali dengan kekuasaan politik sentralistik dari partai politik yang pernah menjadikan Aceh semakin kelam, rusak dan hancur terjajah dengan konflik bersenjata, ingin memperlihatkan mampu melakukan segala sesuatu untuk Aceh.

Ternyata Bahlil seolah-olah ingin hadir dengan pencitraan dan atau kemunafikan politik terhadap Aceh. Maka sesungguhnya, Bahlil tidak penting bagi rakyat Aceh, lebih baik mengurus dirinya sendiri dan kelompoknya atau partai politiknya.

*Penulis adalah Pengamat ekonomi dan akademisi Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha)