Hutama Karya Kebut Penanganan Jalan Longsor di Aceh-Sumatera, Ditargetkan Fungsional Agustus 2026

Banda Aceh, Infoaceh.net – PT Hutama Karya terus mempercepat penyelesaian proyek penanganan tanggap darurat bencana di sejumlah ruas jalan nasional di Pulau Sumatera, termasuk di Provinsi Aceh.

Langkah ini dilakukan untuk memulihkan konektivitas masyarakat terdampak bencana sekaligus memastikan akses transportasi kembali aman dan berfungsi optimal menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di Aceh, Hutama Karya saat ini menangani tiga paket pekerjaan strategis, yakni Ruas PPK 3.3 Aceh, Ruas PPK 3.4 Batas Gayo Lues–Blangkejeren, serta Ruas PPK 3.5 Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane.

Penanganan meliputi pembangunan dinding penahan tanah, box culvert, pemasangan buis beton, bored pile, pembangunan jembatan rangka baja, hingga perlindungan lereng pada sejumlah titik longsor dan kerusakan jalan.

Untuk Ruas PPK 3.3 Aceh, progres pekerjaan hingga Juni 2026 telah mencapai 30,46 persen. Proyek tersebut mencakup penanganan 26 titik longsor dan dua titik jembatan. Sejumlah lokasi prioritas telah selesai dan dapat digunakan, sementara beberapa titik lainnya ditargetkan mulai difungsikan pada momentum HUT RI, 17 Agustus 2026.

Sementara itu, pada Ruas PPK 3.4 Batas Gayo Lues–Blangkejeren, progres pekerjaan mencapai 22,41 persen. Penanganan dilakukan di 23 titik yang tersebar pada ruas Aceh Tengah–Blangkejeren dan Blangkejeren–Aceh Tenggara.

Pekerjaan yang dilakukan meliputi pemasangan buis beton, beton siklop, dinding penahan tanah, hingga timbunan pilihan guna memperkuat badan jalan dan lereng di kawasan rawan longsor. Beberapa titik prioritas seperti Palok dan Ramung ditargetkan sudah dapat difungsikan pada Agustus 2026.

Adapun pada Ruas PPK 3.5 Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane, progres pekerjaan hingga pekan kedua Juli 2026 mencapai 43 persen.

Paket pekerjaan tersebut mencakup enam titik, terdiri atas dua jembatan dan empat titik longsor, yaitu Jembatan Lawe Mengkudu, Bener Berpapah, Lawe Ger-Ger, Jembatan Penanggalan, Ketambe, dan Cafetingir.

Salah satu fokus utama proyek ini adalah penyelesaian Jembatan Lawe Mengkudu yang ditargetkan mulai difungsikan pada Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya memulihkan konektivitas di Kabupaten Aceh Tenggara dan sekitarnya.

Hingga kini, sejumlah pekerjaan utama seperti pembangunan box culvert, soldier pile, bored pile, dinding penahan tanah, hingga timbunan pilihan menunjukkan progres positif sesuai jadwal pelaksanaan.

Selain di Aceh, Hutama Karya juga mengerjakan proyek penanganan darurat pada koridor Tarutung–Sibolga, Sumatera Utara. Hingga 10 Juli 2026, progres fisik proyek tersebut telah mencapai 24,26 persen.

Di sisi lain, perusahaan telah menuntaskan Proyek Penanggulangan Bencana Alam Malalak di Sumatera Barat dengan progres 100 persen. Seluruh penanganan sementara telah digantikan konstruksi permanen sehingga jalur Padang–Bukittinggi kini kembali berfungsi secara optimal.

Sedangkan proyek penanganan banjir bandang dan longsor di Ruas Padang Panjang–Sicincin (Lembah Anai) telah mencapai progres 96,71 persen dan ditargetkan rampung pada 26 Juli 2026.

Pelaksana Tugas Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, mengatakan percepatan penanganan infrastruktur pascabencana merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung pemerintah memulihkan konektivitas masyarakat sekaligus meningkatkan ketahanan infrastruktur nasional.

“Hutama Karya berkomitmen mendukung percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana melalui pembangunan infrastruktur yang aman, andal, dan berkelanjutan. Melalui berbagai proyek penanganan tanggap darurat di Sumatra, kami berharap konektivitas masyarakat dapat segera pulih serta memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap risiko bencana di masa mendatang,” ujar Hamdani, Sabtu (18/7/2026).

Menurutnya, selain memulihkan akses transportasi, proyek-proyek tersebut juga diharapkan meningkatkan keselamatan pengguna jalan, memperlancar distribusi logistik, mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, serta memperkuat ketahanan jaringan transportasi nasional terhadap ancaman bencana hidrometeorologi di masa mendatang.

Hutama Karya menegaskan akan terus berkolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk menghadirkan infrastruktur yang berkualitas, tangguh terhadap bencana, dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.