Akademisi Apresiasi KONI Aceh Tolak Domino Jadi Cabang Olahraga Prestasi Demi Jaga Identitas Daerah

Banda Aceh, Infoaceh.net – Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Dr Teuku Zulkhairi MA menyampaikan apresiasi sikap Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh yang menolak menjadikan permainan domino sebagai cabang olahraga prestasi di Aceh.

Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah yang bijaksana karena mempertimbangkan kekhususan Aceh sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam.

Zulkhairi mengatakan, setiap daerah memiliki karakteristik sosial, budaya, dan regulasi yang berbeda sehingga tidak semua kebijakan yang diterapkan di daerah lain harus diadopsi di Aceh.

“Sebagai akademisi, saya memandang keputusan KONI Aceh merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Aceh. Kebijakan olahraga tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga harus memperhatikan aspek filosofis, sosiologis, dan yuridis yang berlaku di Aceh,” ujar Zulkhairi, Rabu (22/7).

Menurut Wakil Ketua Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) tersebut, meskipun domino di sejumlah daerah telah dikembangkan sebagai olahraga prestasi, dalam realitas sosial masyarakat Aceh permainan itu masih memiliki persepsi yang kuat sebagai aktivitas yang kerap dikaitkan dengan praktik perjudian.

“Walaupun secara konsep olahraga dan perjudian adalah dua hal yang berbeda, persepsi masyarakat tetap menjadi pertimbangan penting dalam merumuskan kebijakan publik. Karena itu, kehati-hatian KONI Aceh patut diapresiasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, Aceh memiliki banyak cabang olahraga lain yang potensial untuk dikembangkan yang sejalan dengan karakter budaya Aceh dan memiliki peluang besar melahirkan atlet berprestasi.

“Fokus pembinaan terhadap cabang-cabang olahraga tersebut akan lebih efektif dalam meningkatkan prestasi sekaligus tetap menjaga nilai-nilai yang menjadi identitas Aceh,” jelasnya.

Zulkhairi berharap keputusan tersebut dapat menjadi contoh bahwa pembangunan olahraga dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap nilai-nilai agama dan budaya lokal.

“Prestasi olahraga dan pelaksanaan syariat bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan apabila setiap kebijakan dirumuskan dengan mengedepankan kemaslahatan masyarakat.

Kita mengapresiasi sikap KONI Aceh yang memilih menjaga keseimbangan antara pengembangan olahraga dan penghormatan terhadap kekhususan Aceh sebagai daerah bersyariat Islam,” pungkasnya.