Kampung 1001 Pohon Pinang di Pidie Jaya, Warisan Ekonomi Lokal yang Menginspirasi Mahasiswa KKN USK

Pidie Jaya, Infoaceh.net – Deretan pohon pinang yang tumbuh subur di hampir setiap sudut Gampong Cubo Kayee Jatoe, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya, menjadi pemandangan yang begitu khas.

Di balik hijaunya perkebunan tersebut, tersimpan kisah tentang ketekunan masyarakat dalam menjaga sumber penghidupan yang telah diwariskan lintas generasi.

Tidak berlebihan jika desa ini dikenal sebagai “Kampung 1001 Pohon Pinang”, sebuah julukan yang mencerminkan identitas sekaligus kekuatan ekonomi masyarakatnya.

Potensi inilah yang menarik perhatian tujuh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Syiah Kuala (USK) Tahun 2026 untuk mengabdi di Gampong Cubo Kayee Jatoe.

Selama kurang lebih satu bulan, sejak awal Juli hingga awal Agustus 2026, para mahasiswa hidup berdampingan dengan masyarakat, melaksanakan berbagai program pengabdian yang dirancang untuk mendukung pembangunan desa sekaligus belajar langsung dari kehidupan masyarakat.

Keberadaan mahasiswa KKN tidak hanya menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan potensi desa.

Melalui interaksi sehari-hari, mahasiswa memperoleh pengalaman berharga mengenai bagaimana komoditas lokal seperti pinang mampu menjadi penopang ekonomi keluarga, sementara masyarakat mendapatkan pendampingan melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan selama masa pengabdian.

Bagi masyarakat Cubo Kayee Jatoe, pohon pinang bukan sekadar tanaman perkebunan. Komoditas ini telah menjadi sumber pendapatan tambahan bagi banyak keluarga. Saat musim panen tiba, para ibu rumah tangga tampak sibuk mengupas buah pinang yang baru dipetik sebelum dijual kepada pengepul.

Salah seorang warga, Buk Adi, mengaku pekerjaan mengupas pinang telah lama menjadi bagian dari mata pencaharian keluarganya.

“Kami sudah lama mencari penghasilan dari mengupas pinang. Hasilnya dijual ke toke yang datang mengambil ke sini. Sehari kadang dapat sekitar 25 kilogram, kadang sampai 50 kilogram,” ujarnya.

Sebagian besar pinang yang dipasarkan berasal dari kebun milik warga sendiri. Setelah dikupas, hasil panen dijual kepada pengepul yang datang langsung ke desa dengan harga sekitar Rp17.000 per kilogram, sementara sekitar 100 butir pinang dapat menghasilkan satu kilogram pinang kupas siap jual.

Panen biasanya berlangsung sekali dalam setahun, yakni sekitar bulan Juni, dengan hasil yang relatif stabil dari tahun ke tahun.

Di tingkat nasional, pinang merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki prospek ekonomi cukup menjanjikan. Selain diperdagangkan di pasar domestik, pinang Indonesia juga menjadi komoditas ekspor yang dimanfaatkan sebagai bahan baku industri, obat tradisional, hingga berbagai produk olahan.

Potensi tersebut membuka peluang bagi desa-desa penghasil pinang seperti Cubo Kayee Jatoe untuk terus meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan hasil panen dan penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat.

Selama menjalankan KKN, mahasiswa Universitas Syiah Kuala juga menyaksikan secara langsung bagaimana potensi lokal menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Pengalaman tersebut memberikan pembelajaran bahwa pembangunan desa tidak selalu dimulai dari sesuatu yang baru, melainkan dapat berangkat dari penguatan potensi yang telah dimiliki masyarakat selama bertahun-tahun.

Sinergi antara masyarakat dan mahasiswa KKN diharapkan mampu menjadi langkah awal lahirnya berbagai inovasi yang dapat memperkuat pengembangan potensi lokal.

Dengan semangat gotong royong, Gampong Cubo Kayee Jatoe tidak hanya mempertahankan identitasnya sebagai “Kampung 1001 Pohon Pinang”, tetapi juga terus bergerak menuju desa yang semakin mandiri, produktif, dan berdaya saing.