Pernah Lahirkan Garuda, Kini Rakyat Aceh Jadi Korban Mahalnya Tiket Pesawat

BANDA ACEH, Infoaceh.net — Tingginya harga tiket pesawat rute Banda Aceh–Jakarta maupun sebaliknya kembali menjadi sorotan.
Tarif yang terus melambung dinilai semakin membebani masyarakat Aceh, terutama bagi mereka yang harus bepergian untuk urusan pengobatan, pendidikan, pekerjaan, hingga kebutuhan keluarga.
Kondisi tersebut dinilai sangat ironis mengingat Aceh memiliki sejarah besar dalam dunia penerbangan nasional.
Daerah ini dikenal sebagai penyumbang pesawat Seulawah RI-001 dan RI-002 yang menjadi cikal bakal berdirinya Garuda Indonesia Airways (GIA), maskapai kebanggaan Indonesia.
Mantan Anggota DPRK Pidie sekaligus pemerhati kebijakan publik Aceh, M. Isa Alima, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut. Menurutnya, masyarakat Aceh kini justru menghadapi kesulitan menikmati layanan transportasi udara karena tingginya harga tiket.
“Sangat menyayat hati dan penuh ironi. Dulu rakyat Aceh dengan tulus menyumbangkan pesawat Seulawah RI-001 dan RI-002 sebagai tonggak awal berdirinya Garuda Indonesia. Itu adalah bukti cinta dan pengorbanan rakyat Aceh bagi kedaulatan udara Indonesia. Namun hari ini, justru masyarakat Aceh sendiri kesulitan mengakses penerbangan karena harga tiket yang tidak lagi terjangkau,” ujar Isa Alima di Banda Aceh, Kamis (6/8/2026).
Ia menilai mahalnya harga tiket pesawat bukan sekadar persoalan biaya perjalanan, tetapi juga berdampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Biaya transportasi yang tinggi membuat mobilitas masyarakat terganggu dan menghambat aktivitas bisnis, investasi, hingga sektor pendidikan dan kesehatan.
Selain itu, tingginya tarif penerbangan juga dinilai menjadi salah satu hambatan bagi perkembangan sektor pariwisata Aceh.
Wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara disebut akan berpikir dua kali untuk berkunjung ketika biaya transportasi menuju Aceh jauh lebih mahal dibandingkan destinasi lain.
“Kalau biaya menuju Aceh terlalu tinggi, tentu wisatawan akan mencari alternatif destinasi yang lebih murah. Akibatnya, peluang peningkatan pendapatan daerah, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata ikut terhambat,” katanya.
Isa mendesak Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan, otoritas penerbangan, serta maskapai penerbangan untuk segera mengambil langkah konkret dalam menata kembali tarif penerbangan menuju dan dari Aceh agar lebih wajar dan terjangkau.
Menurutnya, negara perlu menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara keberlangsungan industri penerbangan dan kemampuan daya beli masyarakat.
Ia juga meminta anggota DPR RI dan DPD RI asal Aceh yang tergabung dalam Forum Bersama (Forbes) Aceh agar tidak tinggal diam menyikapi persoalan tersebut.
Menurut Isa, para wakil rakyat memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat Aceh, termasuk memperjuangkan akses transportasi udara yang lebih terjangkau.
“Jangan biarkan rakyat terus menjadi korban mahalnya akses transportasi udara. Bersatulah, sampaikan persoalan ini di meja kebijakan nasional, dan perjuangkan solusi nyata, bukan sekadar janji yang terbang bersama pesawat,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan transportasi udara yang lebih berpihak kepada masyarakat, melalui tarif yang lebih terjangkau, jadwal penerbangan yang memadai, serta pelayanan yang semakin baik.
Dengan akses transportasi udara yang lebih mudah, kata Isa, mobilitas masyarakat akan meningkat, investasi lebih mudah masuk ke Aceh, sektor pariwisata dapat berkembang, dan potensi ekonomi daerah bisa dimanfaatkan secara maksimal.
“Aceh telah memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi sejarah penerbangan Indonesia. Sudah sepatutnya kini negara memberikan perhatian yang layak, adil, dan bermartabat kepada masyarakat Aceh agar mereka tidak terus terbebani oleh mahalnya biaya transportasi udara,” pungkasnya.